Himbauan Gubernur Bali Diterapkan oleh Para Bupati dan Walikota Seperti Lock Down

Denpasar, Theeast.co.id – Pulau Bali saat usai Nyepi kembali ditutup. Walau tidak seketat Nyepi namun kehadiran polisi dan pecalang di jalanan sangat dirasakan Bali ibarat lock down lokal. Seluruh kabupaten di Bali menerapkan kebijakan yang mirip. Bahkan menariknya, mobilitas warga yang kebanyakan karyawan toko dan hotel tersebut ditahan petugas di lapangan. “Saya dari Gianyar mau balik ke Legian karena perusahan kami tidak ada pengumuman libur. Makanya kita ingin balik seperti biasa. Namun di tengah jalan kita disetop pecalang bahwa hari ini tidak tidak boleh kemana-mana, tetap dalam rumah. Bahkan ada petugas yang menantang dengan cara rekam videonya lalu diminta untuk kirim ke kantor masing-masing,” ujar Gede Suada, yang dikonfirmasi via telpon, Kamis (26/3). Suada juga mengisahkan jika petugas tidak segan-segan ambil tindakan tegas bila upaya penjelasan secara kooperatif tidak diterima.

Ketua Satgas Penanggulangan Covid19 Provinsi Bali Dewa Made Indra menjelaskan, surat himbauan gubernur sesungguhnya sudah dikeluarkan sejak tanggal 23 Maret lalu. Surat itu ditujukan kepada para bupati dan walikota di Bali. Salah satu isinya adalah agar pada saat upacara Ngembak Geni atau sehari setelah Nyepi masyarakat Bali diminta untuk tidak keluar rumah. “Sekali lagi kita mohon pemahamannya. Kebiasaan di Bali saat Ngembak Geni masyarakat saling kunjung, kesana kemari, ada yang berwisata, dan sebagainya. Potensi kontak fisik sangat tinggi. Potensi untuk kumpul-kumpul sangat tinggi. Gubernur menghimbau agar hari ini masyarakat berdiam diri di rumah. Dengan sendirinya, seluruh kantor, hotel, mall, toko, destinasi, ditutup. Jadi tidak ada alasan orang untuk bepergian kalau tidak penting sekali,” ujarnya. Menurutnya, bagaimana itu diterapkan, sangat tergantung di Pemda setempat. Ia menegaskan bahwa Bali tidak lock down. Hanya dibatasi saja ruang gerak masyarakatnya. Tujuannya adalah memutus mata rantai penularan Covid19 di Bali.

Informasi di lapangan menunjukkan, hampir seluruh akses di Bali ditutup. Penutupan dilakukan berbasis wilayah, berbasis desa. Masyarakat yang sudah terlanjur keluar rumah dan ada di jalanan ditahan petugas dan minta agar segera kembali ke rumah masing-masing. Jadi akses baik yang keluar maupun yang masuk ke sebuah wilayah dibatasi. Beberapa upacara keagamaan juga ditiadakan. (Axele Dhae)

Facebook Comments