Menemukan Makna Social Distancing yang Sesungguhnya

Oleh: Arnold Dhae

Ketika virus Corona atau Covid-19 jadi pandemi global, tiba-tiba saja muncul dua kata sakti. Namanya Social Distancing. Tanpa melalui kesepakatan sebelumnya, hampir semua negara di dunia yang diserang Covid19 menjadi akrab dengan kata Social Distancing. Dua kata ini menjadi solusi ampuh memutus mata rantai penularan Covid19. Lalu sesungguhnya apa itu social distancing. Penjelasannya panjang lebar dari berbagai disiplin ilmu. Kata ini bisa dibedah dengan sangat tajam oleh pisau sosiologi, silet logika medis, dan seterusnya. Saya sendiri pun bingung. Hanya satu pemikiran saya. Covid19 sudah nyaris mengubah peradaban dari berbagai bangsa di dunia. Manusia tidak boleh berjabat tangan tanda keakraban, tidak boleh berpelukan tanda kasih sayang, tidak boleh Cipika Cipiki tanda cinta dan seterusnya. Bukan hanya itu. Jarak antarpribadi pun diatur. Kedekatan minimal satu minimal. Ancaman perubahan peradaban ini terjadi begitu cepat. Kalau mau dicermati secara mendalam, makhluk yang katanya ukurannya hanya 1/5000 lebih kecil dari seutas rambut ternyata bisa mengubah semuanya. Dia melahirkan peradaban social distancing.

Saya mengutak-atik literatur, klik referensi google, namun banyak ditemukan penjelasan mengambang. Setengah putus asa aku memilih merebahkan badan. Ketika mataku hampir terpejam, kuteringat satu kalimat yang dilontarkan dosen mata kuliah Filsafat Manusia. Namanya P. Dr Leo Kleden, SVD. “Ketika orang terlalu dekat satu sama lain maka orang tersebut sesungguhnya tidak mengenal pribadi yang sebagaimana adanya.” Begitulah kalimatnya. Tidak berhenti sampai disini. Untuk meyakinkan mahasiswanya, Leo Kleden memberikan contoh yang sangat sederhana. Tulisan pada selembar kertas, bila kertas itu ditempelkan merapat dengan mata kita tanpa jarak, maka kita pun tidak akan mampu membacanya. Untuk bisa membaca, maka kertas itu dan atau mata kita harus mengambil jarak tertentu. Dengan jarak tertentu maka mata kita akan mampu membaca tulisan tersebut. Maka untuk mengetahui sesuatu secara mendalam orang harus mengambil jarak tertentu.

Lalu apa hubungannya dengan social distancing. Untuk menjawab pertanyaan ini, maka harus disepakati dulu bahwa hanya manusia yang bisa memahami dan sekaligus menjalankan social distancing. Manusia itu makluk sosial. Keberadaanku hanya bisa berarti jika aku berada bersama yang lain. Tanpa yang lain maka aku tidak berarti apa-apa. Lalu kenapa orang disuruh jaga jarak. Bila dijawab dalam terang filsafat maka menjaga jarak itu perlu agar aku bisa mengenal yang lain secara mendalam, lebih berarti, lebih bermakna. Dan sebaliknya, agar orang lain bisa mengenal aku secara mendalam. Apa yang aku pikirkan, apa yang aku buat juga akan berdampak bagi yang lain. Hal ini jelas bahwa sadar atau tidak, kesalahan itu bukan hanya persoalan pribadi: ditanggung diri sendiri. Kesalahan juga punya implikasi sosial. Apa yang saya buat berdampak juga bagi yang lain. Merugikan diri sendiri dan sesama. Ini baru pintu masuk bagaimana orang harus memahami makna social distancing yang sebenarnya.

Mari kita telisik lebih dalam lagi. Dalam perspektif filsafat, manusia adalah makhluk yang singular-plural. Manusia itu singular. Artinya dia unik, satu-satunya, tidak terulangi. Mulai dari struktur DNA, sidik jari, sifat-sifat, pengalaman hidup, jati diri, dan seterusnya. Tidak ada manusia yang sama dengan yang lain. Ungkapan seperti ‘mirip tapi tak sama’, ‘kembar tapi beda’, adalah kesalahan komunal ketika manusia belum memahami dirinya sebagai makluk yang unik, berbeda, satu-satunya dan tidak pernah akan terulang lagi.

Selain itu, manusia juga plural. Plural dalam arti terhubung dengan yang lainnya dan ini terjadi pada semua lapisan eksistensinya. Pada aspek biologis, DNA dia terhubung dengan DNA ayah-ibu, kakek-nenek, buyut, moyang, dalam jaringan panjang dan luas. Dari aspek psikologis, phsyce, setiap orang dibentuk dari pelbagai pengaruh yang diterima dan diserap sejak usia paling dini. Dalam aspek pengetahuan, kita semua terhubung dengan jutaan orang yang membuat penelitian lebih dulu. Tidak ada yang orisinal di muka bumi ini. Apa yang ada sekarang, itu sudah pernah ada di masa lampau, dan akan ada lagi di masa yang akan datang, entah itu kapan. Tidak ada hidup dan sejarah ini yang bersifat linear tetapi sebaliknya selalu siklus. Aku yang ada sekarang adalah aku yang unik dan tidak ada duanya. Tapi aku yang ada sekarang adalah juga buah dari ‘pemberian’ begitu banyak orang. Dalam kehidupan sosial, aku memberi arti pada yang lain. Serentak yang lain memberi arti pada aku.

Bagaimana terang filsafat ini bisa membingkai konsep social distancing dan Covid19. Dalam konteks akhir-akhir ini, kelalaian, sikap apatis, dan sikap ‘sok jagoan, sok agamais seseorang bisa jadi bencana bagi orang lain. Demikian juga sikap apatis orang bisa menjadi bencana bagi saya. Prinsip mati dan hidup itu kehendak Tuhan sama sekali tidak bisa diterapkan karena ini bisa mencelakai orang lain. Kalau seseorang berani menantang maut lalu dia mati sendiri itu tidak masalah. Tetapi bila seseorang berani menantang maut dan orang lain ikut dikorbankan maka ini menjadi masalah.

Mungkin di titik ini, social distancing menemukan maknanya yang sebenarnya. Kita diimbau jangan dulu berkumpul. Menjauhi kerumunan. Agar kita tak jadi aku yang jadi penyebab kematian bagi yang lain. Agar kita tak jadi aku yang jadi korban. Itulah sebabnya, orang diminta untuk tidak ke gereja, tidak ke masjid, tidak ke pura, tidak ke vihara dan seterusnya. Ada yang memisahkan, berupaya menarik garis tegas antara yang rohani dengan sekular. Tapi iman, saya yakin, justru ditampakkan dengan hal-hal ‘sekular’. Orang bisa menunjukkan kedalaman rohaninya dalam bisnis, dalam politik, dalam karya di tata dunia. Terima kasih.

Facebook Comments