Ditjen Belmawa Gelar Seminar Kisah Sukses Politeknik Indonesia Menghadapi Kebutuhan Industri 4.0

SEMARANG, Theeast.co.id – Perkembangan Politeknik saat ini menjadi fokus pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kemampuan Sumber Daya Manusia, salah satunya melalui program Polytechnic Education Development Project (PEDP).

Berjalan sejak tahun 2012, PEDP telah berhasil mengembangkan beberapa Politeknik di Indonesia. Untuk itu, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), menyelenggarakan Seminar Nasional Diseminasi PEDP Successs Story pada 19-21 November 2019 di Politeknik Negeri Semarang.

Seminar ini membahas beberapa agenda, yaitu keunggulan program PEDP bagi kampus, pemahaman perspektif mitra terhadap politeknik di Indonesia, serta perkembangan program-program PEDP. Selain itu, adapun pameran yang menampilkan profil dari Politeknik-politeknik di Indonesia.

Direktur Pembelajaran, Ditjen Belmawa, Kemendikbud, Paristiyanti Nurwardani, menyampaikan bahwa seminar ini menjadi salah satu wujud mengembangkan SDM Indonesia yang unggul.

“Kami berharap Lesson Learn dan Success Story PEDP ini dapat menjadi pemicu investasi berikutnya untuk mendukung kemajuan politeknik dalam memasuki era Industry 4.0,” ujar Paristiyanti.

Ia menambahkan, saat ini di Indonesia ada 43 politeknik negeri dan sekitar 200 politeknik swast. Kuantitas yang tinggi itu menjadi potensi untuk mencapai visi Presiden Jokowi untuk membangun sumber daya manusia, khususnya melalui pendidikan vokasi. Namun, menurut Paristiyanti kualitas politeknik beragam.

“Kualitasnya sangat beragam. Ada yang sudah baik, tapi banyak juga yang memerlukan perhatian. Kita ingin alumni politeknik mampu bersaing secara global. Untuk itu, kita semua harus bekerja sama dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas politeknik di tanah air,” tambahnya.

Salah satu isu yang penting dibahas dalam seminar ini ialah mengenai mengenai Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Program ini bertujuan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat yang sudah bekerja untuk belajar di perguruan tinggi.

Pada pelaksanannya, program RPL lebih diminati untuk menjaring dosen Politeknik dari tenaga yang sudah ahli dalam industri. Hal ini penting dilakukan karena kondisi saat ini, 40% dosen dari Politeknik pertama di Indonesia yang dibangun pada 1980 akan segera memasuki masa pensiun.

RPL juga mendorong perubahan budaya pendidikan di Politeknik yang semula berbasis akademik menjadi vokasional yang membutuhkan banyak dosen yang telah profesional dalam sektor industri. Namun, kondisinya sebagian besar tenaga ahli dari industri belum memiliki gelar magister. RPL menjadi solusi untuk merekognisi profesionalitas menjadi gelar akademik sesuai dengan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

Selain itu, di era revolusi industri 4.0 ini pemerintah Indonesia tengah mendorong perguruan tinggi untuk mengembangkan teknologi informasi, digital, dan automotisasi. Untuk mendukung pencapaian tersebut, PEDP mengembangkan Financial Technology (Fintech) di beberapa Politeknik di Indonesia, salah satunya ialah tuan rumah penyelenggara seminar, Politeknik Negeri Semarang.

Indonesia sebagai pengguna internet dan konsumen besar dunia, tentu seharusnya memiliki peluang untuk memanfaatkan Fintech ini. Politekik diharapkan mampu merespon perkembagan teknologi finansial ini dengan menghadirka kurikulum dan pengajar mumpuni, agar lulusannya terampil saat terjun di dunia industri.

Seminar ini diharapkan menjadi dialektika atas keberhasilan dan tantangan yang dihadapi oleh politeknik di Indonesia dalam mengembangkan RPL dan Fintech. Selain itu, ajang tunjuk kualitas produk dari beberapa Politeknik.

Sebagai informasi, PEDP sendiri yang berdiri 2012 berdiri atas sokongan dana dari Asian Development Bank (ADB). Tujuannya ialah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas lulusan yang sesuai dengan kebutuhan indsutri yang menjadi fokus politeknik, misalnya industri manufaktur, agroindsutri, pertambangan, infrastruktur, serta pariwisata.

Pada tahun 2013, pemerintah Kanada melalui Department of Foreign Affairs and Trade Development (DFATD) dan Global Affairs Canada (GAC), memberikan bantuan tambahan berupa pengembangan, pelayanan konsultasi, pelatihan, pembelajaran, serta pengembangan materi pembelajaran.(red)

Facebook Comments