Cerita Warga Denpasar, Aktif Lakukan Edukasi Arak

2

DENPASAR, The East Indonesia – Suasana di ruang kerja Ngakan Made Giriyasa pada Kamis (14/01/2021) terlihat santai. Terdapat dua meja yang diletakan berhadapan. Satu dimanfaatkan bagi meja tamu sedangkan satu lagi diperuntukan sebagai meja kerja.

Sedangkan di sebelah kanan terdapat sebuah lemari kayu berisi botol-botol minuman arak. Ada yang menarik dari arak milik Giri. Sebab arak yang berada di tempatnya diperuntukan untuk edukasi.  ” Arak – arak ini memang tujuannya untuk edukasi. Baik edukasi pecinta arak maupun produsen, ” kata Giri.

Pria kelahiran Tabanan ini kemudian menuturkan keterlibatannya dalam proses edukasi arak. Menurut Giri, dia aktif melakukan edukasi arak sejak 2017 silam. Bermula dari kegelisahannya akan stigma arak yang cenderung negatif, karena sering dikaitkan dengan tindak kriminal. Selain itu arak sering diposisikan sebagai minuman beralkohol “kelas dua” jika dibandingkan minuman import.

“Kan ada kesan arak itu seolah-olah buruk kesannya, bahkan juga murahan. Maka saya bersama kawan-kawan berpikiran edukasi perlu dilakukan,” kata Giri. Proses edukasi dirangkaikan dengan program ‘Nyegara Gunung’ dari Conservation International dengan mendampingi produsen arak tradisional di Desa dukuh, Kecamatan Kubu, Karangasem, Bali.

Petani dibekali edukasi mengenai proses yang higienis, ramah lingkungan dengan tidak menggunakan bahan plastik, serta pembatasan penggunaan kayu bakar yang bersumber dari hutan. “Kalau soal cara membuat arak kan petani sudah tahu turun temurun. Tapi perlu diberi pemahaman kekinian misalnya soal aspek lingkungan, kesehatan dan mengemas biar menarik,” kata Giri.

Setelah edukasi produsen, tahapan selanjutnya adalah edukasi pecinta arak. Edukasi pecinta arak dilakukan melalui kemasan yang informatif. Pada kemasan diuraikan dampak minum arak sesuai takaran seloki.
Dampak minum arak ini sendiri bersumber dari lontar kuno Bali.

Adapun dampak minum arak sesuai takaran yang dikonsumsi adalah:
– Eka Padamasari (satu sloki) : menyehatkan

– Dwi Martani (dua sloki) : menghibur diri

– Tri Kawula Busana (tiga sloki) : percaya diri

– Catur Wanara Rukem (empat sloki) : mulai hilang pengendalian diri

– Panca Sura Panggah (lima sloki) : percaya diri berlebihan

– Sad Guna Wiweka (enam sloki) : mulai salah sangka

– Sapta Kakila Warsa (tujuh sloki) : bicara gemetaran dan tidak jelas

– Asta Kacara – cara (delapan sloki) : bicara sembarangan

– Kawa Wagra Lupa (sembilan sloki) : tergeletak tidak berdaya

– Dasa Buta Mati (sepuluh sloki) : tertidur pulas.

Melalui petunjuk takaran konsumsi ini Giri berharap bisa jadi panduan sesuai kondisi tubuh san kebutuhan. “Dengan ini arak bisa diterima lebih baik, persepsi publik juga mulai bergeser terbukti sejumlah pejabat publik memberikan dukungan dengan lahirnya Perda Perlindungan arak di Bali, juga arak mulai dikemas dengan botol kaca yang menarik” kata Giri.

Arak Edukasi sendiri tidak diperjualbelikan secara luas. Sebab yang utama adalah edukasi dan konservasi tanaman lontar. Sifatnya donasi ya dari pecinta arak. “Donasi ini untuk menjaga keberlangsungan produksi petani serta konservasi lontar. Kita perlu berterima kasih pada petani yang mau merawat pohon lontar, padahal dibutuhkan waktu sekitar 20 tahun sebelum nira lontar bisa disadap,” pungkas Giri. Red/Rb).

Facebook Comments