Ditantang Diskusi Terbuka Soal Sampradaya, Ngurah Harta Minta Ketut Nurasa Belajar Lagi

24
Pinisepuh Perguruan Spiritual Sandhi Murti, I Gusti Ngurah Harta. FOTO - IST.

DENPASAR, The East Indonesia – Ketua Majelis Ketahanan Krama Bali Nusantara Ketut Nurasa menantang pinisepuh perguruan spiritual Sandhi Murti, I Gusti Ngurah Harta untuk berdiskusi secara terbuka soal Sampradaya di Bali yang dinilai tidak sesuai dengan ajaran agama Hindu di Bali.

Saat dikonfirmasi di Denpasar, Kamis (13/5/2021), Nurasa mengatakan, jika Ngurah Harta hanyalah perguruan spiritual dan tidak ada hubungannya dengan agama Hindu. Ia menilai jika Ngurah Harta dan kelompoknya telah melakukan berbagai aksi termasuk mengerahkan orang untuk mengeksekusi beberapa Pasraman tempat dimana generasi muda Hindu Bali  belajar Weda dan memperdalam agama Hindu.

“Ada seruan Puputan. Kalau ada seruan Puputan, berarti ada yang menjajah. Siapa yang menjajah. Masa ada orang Bali menjajah saudaranya sendiri,” ujarnya.

Baca juga :  Diguyur Hujan Deras, Kota Denpasar Banjir

Kepada Ngurah Harta, Nurasa menantang untuk berdiskusi secara terbuka tentang agama Hindu. “Jangan sok sakti, sok hebat. Saya berani diskusi tentang agama Hindu. Yang merasa sakti dan tahu agama Hindu mari kita berdiskusi, mau di tempat terbuka, duduk semeja empat mata, atau bahkan dikunci di kamar mandi. Sandhi Murti itu organisasi kebatinan. Saya katakan kepada yang terhormat I Gusti Ngurah Harta, kalau mau Puputan silahkan Puputan dengan saya saja,” tantangnya.

Ia juga meminta kepada para pemimpin Bali agar bertindak adil dan mengayomi semua warganya. Gubernur Bali agar tidak memihak dan Majelis Desa Adat juga tidak berhak mengurus agama. Jangan sampai ada tuduhan yang tidak benar. Sebab warga Sampradaya juga menganut agama Hindu. Sebab warga Sampradaya masih mebanjar, medesa, masih mrajan, menjalankan kewajiban agama dan budaya dengan baik.

Baca juga :  Koperasi Manca Agung Sejahtera Terus Bertumbuh di Tengah Situasi Sulit

Saat dikonfirmasi, Ngurah Harta mengaku tidak terpengaruh dengan tantangan seperti itu. “Saya pastikan bahwa yang menutup Ashram selama ini bukan kewenangan saya. Itu kewenangan desa adat setempat. Jadi kalau saudara Nurasa mau tantang, silahkan berhadapan dengan desa adat seluruh Bali,” ujarnya.

Ia juga menyesalkan bahwa Nurasa yang seorang pengacara bisa berbicara sebagaimana layaknya seorang yang tidak mengerti hukum.

“Dia sering ke rumah saya, jadi kalau dia mau tantang saya maka saya minta dia belajar lagi,” ujarnya.

Ia melihat kenekatan Nurasa sesungguhnya telah merusak tradisi Hindu Nusantara terutama di Bali. Ada banyak simbol agama Hindu yang dilecehkan dan merusak tatanan agama dan budaya Bali. Tindakan segel Pasraman tentu saja melalui kajian yang tepat dan dinyatakan berbahaya bagi kelangsungan hidup agama Hindu di Bali.***

Baca juga :  Gunakan Hak Pilih, Sekaa Teruna Petang Kawal Koster - Cok Ace

Editor – Axelle Dhae

Facebook Comments