Navicula Angkat Indonesia yang Kaya akan Sumberdaya Nusantara dengan Dinasti Matahari

11

DENPASAR, The East Indonesia – Grup Musik papan atas Bali Navicula merilis album ke-11 bertajuk Dinasti Matahari. Bahkan video musik dan lagu Dinasti Matahari sudah ditayang di YouTube Navicula Musik dan sudah ditonton sekitar 40 ribu orang hingga hari ini, Selasa (11/1/2022). Album ini dipersembahkan secara khusus bagi kekayaan alam dan budaya seluruh nusantara’ ini. “Kita ingin angkat budaya Nusantara ini. Kita ingin tunjukan kalau Indonesia ini kaya raya. Negara di garis katulistiwa dengan iklim tropis yang kaya bagi alam maupun budaya. Mengapa disebut Dinasti Matahari karena kita paling kaya akan energi matahari yang belum tergarap dengan baik. Inilah kekayaan kita,” ujar salah satu personil Gede Roby Navicula dalam keterangannya di Denpasar, Selasa (11/1/2022).

Saat ini Navicula memasuki tahun ke-25 dalam mengarungi industri musik tanah air dan telah melahirkan sepuluh album. Membuka tahun 2022 ini, Navicula yang digawangi Gede Robi (vokal, gitar), Dadang Pranoto (gitar), Palel Atmoko (drum), dan Krishnanda Adipurba (bass), merilis persembahan untuk Nusantara, sebuah video klip untuk para pewaris sah Dinasti Matahari. Dinasti Matahari berkisah soal pemaknaan rasa kebangsaan nilai adi luhung yang dimiliki Indonesia. “Dimaknai untuk memulihkan kembali etik dan filosofi yang ada di nusantara, di mana budaya kita dilahirkan dari budaya tropis juga agrikultur,” ujar Dadang Pranoto.

Baca juga :  Noah Dan The Hydrant Siap Hibur Pengemarnya Di Hard Rock Hotel Bali

Single Dinasti Matahari sekaligus mengenalkan kembali identitas masyarakat di tanah air sebagai bagian dari suku nusantara yang sudah sejak lama mewarisi cara hidup bersikap pada alam dengan mengambil, memanfaatkan secukupnya, bersyukur dari apa yang sudah tersedia dan menjaga agar tetap dapat memenuhi kebutuhan desain kehidupan dimasa yang akan datang.

Sebelumnya, menutup 2021 ini dengan rangkaian tur bertajuk Home Sweet Home yang juga menjadi perayaan rilis single terbaru Dinasti Matahari. Musik video ini bekerjasama dengan Kitapoleng (Dibal Ranuh dan Jasmine Okubo) dan kolaborasi dari sejumlah produser dan director, Dibal Ranuh, Sandrina Malakiano, Jasmine Okubo, dan Gede Robi. Kitapoleng digagas sebagai arena dan ruang pertemuan multi seni, karya-karyanya seringkali hasil kolaborasi, kali ini musik video Dinasti Matahari yang digarap dengan kekuatan dari ciri khas Kitapoleng yang banyak mengangkat tema budaya dan etnik nusantara dengan mengambil karakter suku-suku terbesar dari barat hingga timur Indonesia.

Baca juga :  Kolaborasi dengan Bentaya, Motifora Hadirkan "Hujan Tanpa Gulem" Versi Baru

Lokasi pembuatan video dilakukan di Bali dan Sumba Timur, melibatkan belasan seniman tari dan penunggang kuda asli Sumba, menunggang kuda tanpa pelana, bahkan di sebagian daerah kuda juga sebagai alat bantu transportasi bagi masyarakat Sumba. Mengadaptasi tradisi Pasola, merupakan upacara yang dilakukan oleh orang Sumba dalam rangka mengucap syukur atas berkat yang didapat sekaligus menyambut datangnya musim panen.

Mengambil karakter beberapa suku dan budaya nusantara dalam video ini, Selain Sumba, ada pula Hudoq dari Kalimantan Timur, Hudoq merupakan tarian dengan menggunakan topeng dan pakaian tertentu. Dari Bali, mengangkat kembali tarian Sanghyang Jaran dan Barong Brutuk, selain itu ada beberapa suku dan etnis lain seperti Nias, Badui, Minahasa dan Papua.

Benang merah dari semua yang digambarkan adalah ucapan syukur atas apa yang sudah tersedia di alam bagi kehidupan manusia. Video musik dan lagu Dinasti Matahari sudah tayang di kanal youtube Navicula Music, juga dapat didengarkan melalui berbagai kanal musik digital.

Baca juga :  Wagub Bali Apresiasi Konser Musik 'Drive In' Pertama di Bali

Navicula adalah band asal Bali yang berdiri sejak 1996. Band ini sangat lekat dengan isu sosial dan lingkungan, serta konsisten mengangkat tema ini di sebagian besar karya mereka. Musik Navicula kuat dipengaruhi oleh genre Alternatif Rock era 90-an, yang dipopulerkan oleh band-band seperti Nirvana, Pearl Jam, Soundgarden, dan Alice in Chains, tetapi Navicula dengan kreatif juga menggabungkannya dengan warna lain seperti psikedelia, progresif, balada, funk, dan musik etnik-tradisional (world music). Navicula pernah bergabung dengan major label Sony/BMG tahun 2004 dan sempat merilis satu album bersama label ini.

Namun, pada 2006, Navicula kembali menyuarakan karya-karya mereka di jalur independen. Navicula percaya bahwa seni dapat memberi inspirasi dan pengaruh kepada publik yang lebih luas, terutama bagi anak-anak muda, sebagai agen perubahan di masa kini dan masa depan.

Hingga saat ini Navicula telah merilis 9 full album, 1 mini album, lusinan proyek album kompilasi, beberapa video musik dan dokumenter, dan sejumlah kolaborasi dengan artis, organisasi, serta jaringan kerja lokal dan internasional.***

Editor – Axelle Dhae

Facebook Comments