DENPASAR — Masa depan Flobamora Bali dinilai tidak hanya ditentukan oleh kuatnya konsolidasi organisasi, tetapi juga kemampuan membuka ruang bagi seluruh generasi dan kelompok masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk terlibat.
Hal itu diungkapkan Ketua Ikatan Keluarga Besar (IKB) Belu Bali, Hilarius Mali Asa,SH saat bertemu dengan Ketua IKB Flobamora Bali terpilih, Sensilaus Dore di Ungasan, Badung Selatan pada Senin, 14 Sptember 2026 lalu. Hila berharap kepemimpinan Sensi Dore sebagai Ketua IKB Flobamora Bali terpilih dapat membawa organisasi menjadi rumah besar bagi seluruh warga NTT di Bali.
Menurut Hilarius, langkah awal yang dilakukan Sensi dengan membangun komunikasi dan konsolidasi dengan berbagai unit kabupaten/kota se-NTT merupakan fondasi penting untuk menyatukan komunitas yang memiliki latar belakang daerah dan budaya yang beragam.
“Harapan saya, Ketua Flobamora yang baru harus bisa merangkul semua unit kabupaten/kota se-NTT. Maka langkah konsolidasi yang sementara beliau lakukan sangat tepat,” kata Hilarius.
Ia mengatakan, Flobamora Bali seharusnya tidak menjadi rumah bagi kelompok tertentu saja. Sebaliknya, organisasi tersebut perlu menjadi ruang bersama bagi seluruh masyarakat NTT di Bali dengan tetap menghargai identitas dan kekhasan masing-masing daerah.
“Flobamora ke depan harus jauh lebih baik, bisa menjadi rumah besar atau rumah adat untuk semua orang NTT, bukan hanya untuk segelintir orang,” ujarnya.
Untuk mewujudkan hal tersebut, Hilarius menilai konsolidasi menjadi pekerjaan penting bagi kepengurusan baru. Ia bahkan berpandangan proses pengukuhan ketua terpilih tidak perlu dilakukan secara terburu-buru agar Sensi memiliki waktu yang cukup untuk menjangkau unit-unit yang selama ini belum berada dalam Flobamora Bali.
Menurutnya, pertemuan langsung dengan unit-unit tersebut akan memberikan kesempatan bagi ketua terpilih untuk mendengar aspirasi, memahami persoalan, serta melihat potensi yang dimiliki masing-masing komunitas.
“Saya pikir ketua terpilih tidak harus segera dikukuhkan biar beliau bisa konsolidasi ke semua unit, secara khusus unit yang selama ini di luar Flobamora. Biar juga beliau bisa menggali, mendengar, melihat dan bertatap muka langsung,” katanya.
Langkah itu, lanjut Hilarius, penting agar kepengurusan Flobamora Bali nantinya memiliki representasi yang lebih luas dan tidak berpusat pada wilayah tertentu.
“Supaya kepengurusan ke depan bisa mewakili semua etnis NTT, jadi tidak sentris di wilayah tertentu. Dan itulah adat dan budaya orang NTT,” tuturnya.
Orang Muda Jangan Hanya Jadi Penonton
Di tengah upaya konsolidasi tersebut, Hilarius juga mengingatkan pentingnya memberi ruang lebih besar kepada generasi muda NTT.
Ia melihat orang muda NTT di Bali memiliki potensi besar dalam berbagai bidang. Karena itu, mereka tidak seharusnya hanya menjadi penerima estafet organisasi, tetapi perlu dilibatkan sejak sekarang dalam proses pengambilan peran dan kepengurusan.
“Anak muda NTT di Flobamora Bali mempunyai potensi yang sangat besar. Mereka harus diberi ruang yang bebas berkreasi, berinovasi, tidak boleh ada intervensi dari siapapun,” tegasnya.
Menurut Hilarius, pengurus Flobamora Bali perlu memiliki kemampuan untuk menemukan dan mengembangkan potensi tersebut. Ruang kreativitas dan inovasi yang diberikan kepada orang muda diharapkan dapat melahirkan gagasan baru sekaligus memperkuat organisasi.
“Ketua dan pengurus harus mampu menggali potensi yang ada sehingga anak muda NTT bisa jadi kebanggaan kita semua,” katanya.
Ia berharap kepemimpinan baru Flobamora Bali mampu menggabungkan kekuatan generasi senior dengan energi dan kreativitas generasi muda. Dengan demikian, organisasi tidak hanya kuat secara struktur, tetapi juga memiliki regenerasi yang berkelanjutan.
Pada akhirnya, Hilarius berharap tidak ada lagi unit kabupaten/kota asal NTT yang berjalan di luar rumah bersama Flobamora Bali. Seluruh keberagaman tersebut, menurutnya, justru harus menjadi kekuatan untuk membangun persatuan masyarakat NTT di Bali.
“Jadi ke depan tidak ada lagi unit/kabupaten/kota yang di luar Flobamora Bali,” ujarnya.
Ia menegaskan prinsip tersebut dengan sebuah pesan yang menggambarkan pentingnya persatuan seluruh unit dalam satu wadah.
“Satu saja unit yang berada di luar Flobamora Bali maka itu bukan Flobamora Bali,” pungkas Hilarius.***
