BALI – Kementerian Pariwisata pada Desember 2016 lalu telah menggelar Rapat Koordinasi Nasional dan telah menetapkan target pencapaian wisatawan ditahun 2017 yakni sebesar 15 juta wisatawan asing dan 265 juta pergerakan wisatawan nusantara. Tentu sesuatu yang tidak mudah dicapai tanpa usaha dan kerja keras. Namun dibalik semua itu ada rasa optimis karena semua pihak menaruh perhatian dan mendukung program ini.
Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, target ini naik dari tahun sebelumnya yaitu 12 juta wisman dan 250 juta pergerakan wisnus di 2016. “Target 2017, 15 juta wisman dan 265 Juta pergerakan wisnus. Kemenpar juga menetapkan target secara makro dan mikro. Target makro indikatornya meliputi kontribusi terhadap PDB Nasional, devisa dan jumlah tenaga kerja. Dikatakan, target 2017 pariwisata bisa menyumbang 13% PDB nasional, dari semula hanya 11%.
Sementara untuk devisa ditargetkan naik jadi Rp 200 triliun, dari semula hanya Rp 172 triliun di 2016. Untuk jumlah tenaga kerja, ditargetkan pariwisata bisa menyumbang 12 juta lapangan kerja, dari sebelumnya 11,8 juta di 2016. Untuk target mikronya, Kemenpar menetapkan di 2017 Indeks Daya Saing Pariwisata ada di peringkat 40 dunia.
Melihat target tersebut maka “Indonesia Incorporated, menjadi penting dengan mengimplementasikan program prioritas Kemenpar antara lain; digital tourism, homestay, dan konektivitas udara. Kunci keberhasilan pembangunan kepariwisataan nasional tidak lepas dari peran serta semua pemangku kepentingan, kalangan akademisi, pelaku bisnis, komunitas, pemerintah dan media sebagai kekuatan pentahelix.
Dalam sebuah kesempatan Menpar Arief Yahya menyebutkan kerja sama semua unsur pariwisata sebagai Indonesia Incorporated menjadi kekuatan kita untuk mewujudkan target 2017 hingga 2019 mendatang. Mengutip amanat Presiden Joko Widodo agar pertumbuhan sektor pariwisata dipercepat dan diakselerasikan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, pemerintah dalam program pembangunan lima tahun ke depan fokus pada sektor; infrastruktur, maritim, energi, pangan, dan pariwisata.
Penetapan kelima sektor ini dengan pertimbangan signifikansi perannya dalam jangka pendek, menengah, maupun panjang terhadap pembangunan nasional. “Dari lima sektor tersebut pariwisata ditetapkan sebagai leading sector karena dalam jangka pendek, menengah, dan panjang pertumbuhannya positif.
Menurut data Badan Pariwisata Dunia (UNWTO) dan WTTC 2015, sektor pariwisata memberikan kontribusi sebesar 9,8% Produk Domestik Bruto (PDB) global, kontribusi terhadap total ekspor dunia sebesar US$ 7,58 triliun dan foreign exchange earning sektor Pariwisata tumbuh 25,1%, dan pariwisata membuka lapangan kerja yang luas; 1 dari 11 lapangan kerja ada di sektor pariwisata.
Dibandingkan dengan sektor lain, pembangunan pariwisata merupakan yang paling mudah menciptakan lapangan kerja (pro-job), pengentasan kemiskinan (pro-poor), mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-growth), dan melestarikan lingkungan hidup (pro-environment). Dalam konteks ini, pariwisata memiliki prinsip “Semakin dilestarikan, Semakin Menyejahterakan”.
Prospek cerah pariwisata dunia tersebut menjadi acuan dalam menetapkan target pariwisata nasional ke depan. Presiden telah menetapkan target pariwisata dalam lima tahun ke depan atau 2019 harus naik dua kali lipat, yakni; memberikan kontribusi pada PDB nasional sebesar 8 persen, devisa yang dihasilkan Rp 240 triliun, menciptakan lapangan kerja di bidang pariwisata sebanyak 13 juta orang, jumlah kunjungan wisman 20 juta dan pergerakan wisnus 275 juta, serta indeks daya saing pariwisata Indonesia berada di ranking 30 dunia.*


