DENPASAR – Sebanyak 12 pelukis asal Desa Batuan, Gianyar akan mengadakan sebuah pameran seni yang bertujuan untuk melestarikan salah satu warisan budaya Bali dalam bidang seni rupa yakni Lukisan Batuan. Pameran yang dimulai pada 19 Januari sampai 28 Februari 2018 di Griya Santrian, Sanur, akan memperlihatkan 24 lukisan khas Batuan yang berisi berbagai konsep dan tema.
“Tujuan utama dari pameran ini adalah untuk melestarikan lukisan Batuan sebagai warisan budaya asli Bali. Selain itu juga untuk memberi ruang kepada pelukis muda Batuan untuk menunjukan diri,” ujar Ketua Perkumpulan Lukisan Batuan I Wayan Sidia di Sanur, Kamis (18/1).
Menurut Sidia, usaha untuk melestarikan dan melanjutkan Lukisan Batuan ini sangat penting untuk dilakukan mengingat Lukisan Batuan ini mempunyai ciri khas yang sudah terkenal didunia dan telah menjadi warisan budaya asli Bali sejak abad ke-10.
“Salah satu usaha pelestarian yang sudah lama kami jalankan yakni dengan bersinergi dengan Sedolah Dasar di sekitar Batuan untuk mengajarkan kepada anak-anak kelas 3 sampai 6 tentang Lukisan Batuan ini baik itu dari sisi filosofi maupun teknik. Dengan begitu, kami berharap Lukisan Batuan tidak akan berhenti di generasi 90-an,” jelasnya.
Sementara itu Wayan Budiarta, salah satu pelukis yang ikut serta dalam pameran ini menjelaskan beberapa tahapan dalam melukis gaya Batuan, dimana tahapan-tahapan ini juga diwarisi secara turun-temurun dan membuat Lukisan Batuan memliki ciri yang kuat. Bebrapa tahapan tersebut diantaranya Ngorten (membuat sketsa), Nyawi (memberikan kontor dan detail pada sketsa ), Ngucek ( pemberian kesan gelap terang secara bertahap ), Manyunin ( sigar mangsi ), Ngewarna (memberi warna ), Ngidupang (pemberian aksen aksen tertentu pada warna seperti penyinaran dan lain lain).
Selain secara teknik, lanjutnya, secara estetik pun seni lukis Batuan memiliki karakteristiknya yang khas seperti komposisi objek yang padat, berjejal, cenderung tanpa menonjolkan satu objek sebagai focus of interest melainkan semua objek tergarap secara detail atau dalam istilah lokal Batuan disebut dengan Memedeg. Karena itulah Lukisan gaya Batuan dikenal memiliki “dialek” tersendiri dalam seni lukis Bali.
Lebih jauh, Wayan Budiarta mengharapkan generasi muda mendapatkan lebih banyak kesempatan untuk menunjukan hasil karyanya terutama di pameran-pameran lukisan di Bali. “Selama ini generasi muda pelukis khas Batuan sangat jarang mendapat kesempatan untuk menunjukan hasil karyanya. Lewat pameran ini kami berharap kesempatan tersebut terus terbuka sehingga regenerasi pelukis khas Batuan bisa berlanjut sampai kemasa yang akan datang,” ujarnya.


