DENPASAR – Fotografer makro Bali, Alexander Indrato menggelar pameran tunggal, karya fotografi makro, yang bertempat di Colony Restauran, Plaza Renon, Denpasar. Acara yang diselenggarakan pada tanggal 4 Februari 2018 ini, merupakan pameran tunggal pertama yang ia selenggarakan dan menghadirkan puluhan foto makro hasil karyanya.
Alex mengatakan, tujuan dari digelarnya acara tersebut adalah untuk mengenalkan lebih dekat tentang fotografi makro kepada masyarakat, khusunya para pencinta fotografi. Karya-karyanya yang mayoritas adalah objek alam terutama hewan-hewan kecil seperti serangga, dan tumbuhan mikro, seolah hendak menunjukan kepada kita yang melihatnya bahwa di sana ada dunia lain yang menakjubkan yang selama ini luput dari pengelihatan kita.
“Tujuan saya menyelenggarakan event ini adalah untuk mengenalkan kepada orang-orang yang datang kesini bahwa sementara kita hidup di dunia yang besar ini, di sana ada dunia yang kecil yang sebenarnya sangat indah untuk diabadikan,” ungkap pria kelahiran 40 tahun silam itu.
Fotografi makro, jelasnya, adalah fotografi close-up. Makro merupakan istilah dalam fotografi yang merujuk pada pemotretan benda kecil dalam ukuran sebenarnya. Ukuran sebenarnya maksudnya adalah foto tersebut mampu menghadirkan objek yang dipotret dalam ukuran aslinya sesuai ukuran sensor.
Selain pameran foto, pria yang pernah meraih juara ke-4 di International Photo Contest itu juga mengadakan workshop yang bertajuk “Makro Itu Mudah”. Ada sekitar 55 peserta yang mengikuti acara tersebut, mereka berasal dari berbagai daerah di Bali, ada yang professional ada yang hanya pelaku hobi dan juga dari berbagai usia.
Dalam workshop itu, ia juga menekankan kepada para peserta, karena foto makro ini lekat dengan alam, objek-objek yang diambil adalah objek-objek yang alami, ia meminta agar selalu menjaga kelestarian alam dan jangan sampai menyiksa binatang saat proses pengambilan foto tersebut.
“Usahakan saat kita memotret makro jangan sampai binatang itu mati, atau jangan sampai binatang itu disakiti, jadi tetaplah pada nature (alami, -red), jadi misalnya seperti yang saya lakukan untuk stage ini (workshop, -red) saya ngambil binatang ke Bedugul maka selesai acara ini, besok pagi saya akan kembalikan lagi ke habitatnya di sana, karena kalau saya lepas di disini ia akan mati,” jelas pria yang telah menekuni dunia fotgrafi makro sejak 2012 itu.


