Terkait wacana adanya rencana untuk membangun landasan pacu ganda (double runway), pihak Angkasa Pura membenarkan adanya hal itu. Namun rencana itu dikatakan masih cukup lama untuk dilaksanakan, saat ini pihak Angkasa Pura tengah fokus dalam proses pembangunan pelataran parkir pesawat (apron) yang ditargetkan akan selesai sebelum pelaksanaan event IMF World Bank di Bali pada Bulan Oktober nanti. Hal itu diungkapkan oleh Communication and Legal Section Head Angkasa Pura I Bandara Ngurah Rai, Arie Ahsanurohhim, Selasa 27/3/2018.
“Kalo untuk ngomong tentang runway memang dari pihak kami juga ada menyampaikan wacana ke publik, memang ada wacana kita mau double runway tapi itu ultimate, itu nanti. Kita sekarang lagi fokus ke program penyiapan fasilitas untuk IMF tahun ini. Kalaupun nanti kita membuat double runway itu juga masih perlu kajian, FS (feasibility) juga perlu dilaksanakan lokasinya dimana. Walaupun kita kemarin menyampaikan kepada publik itu ada di dareh sebelah selatan bandara sekarang, kita juga belum ada sosialisasi apa-apa kepada masyarakat Cuma memang sudah ada wacana itu, tapi kalo misalnya ditanya perkemabangannya ya masi nol belum ada apa-apa. Belum ada pembahasan lebih detail, informal saja kita belum” jelasnya.
Ia menjelaskan memang ada kebutuhan untuk membangu runway ini, namun hal itu lebih ke kebutuhan untuk 5-10 tahun kedepan. Menurutnya yang mendesak saat ini adalah pembangunan apron, yang mana saat ini tengah dalam proses pembangunan. Ia mengatakan ada 70 Airline yang tidak dapat masuk ke Bandara Ngurah Rai dikarenakan kapasitas slot apron yang tidak mencukupi. Terlebih lagi 2018 ini Kementrian Pariwisata menargetkan kunjungan Wisman sebesar 20 juta.
Ia mengatakan runway yang ada sekarang memiliki kapasitas landing dan take off hingga 35 per jam. Namun saat ini hanya dapat melayani sebanyak 27 saja, hal itu karena keterbatasan slot apron.
“Pada prinsipnya kami ingin bandara bali ini menjadi pusat penerbangan di bali, kalo misalnya kita forcase dari kementrian pariwisata bahwa tahun 2019 saja mereka menargetkan 20 juta wisman yang sebagaian besar prosentasenya itu melalui udara. Nah per hari ini saja ada 70 airline yang ngantri slotnya, slot yang akan datang ke bali. baik internasional maupun yang domestik, yang tidak terlayani karena kapasita bandara gak bisa. Posisi sekarang runway eksisting untuk 27 penerbangan per jam, tak off dan landing, kita bisa sampai 35 tetapi parkirnya kita gak punya, makanya unutk sekarang fokus unutk pembangunan apron, baik timur maupun barat” paparnya.
Sedangkan pembangunan runway baru lebih ke kebutuhan jangka panjang dan kebutuhan untuk antisipasi apabila runway yang ada mengalami kerusakan atau perawatan.
“Tapi untuk runway dikatakan urgent saat ini kita bukan urjent atau tidak urjent masalahnya, tapi kita memforcasting (perhitungan kebutahan dimasa mendatang) dari kebutuhan untuk 5-10 tahun kedepan. Nah double runway itu urggentnya salah satunya ini sebagai cadangan ketika runway yang sekarang mengalami maintenace (perawatan), ataupun mengalami kerusakan” paparnya
Ia juga menjelaskan masih banyak hal yang harus diperhitungkan untuk melakukan pembangunan itu, diantaranya adalah terkait lokasinya, arah angin, kemudian metodenya apakah menggunakan tiang pancang atau reklamasi. Oleh karena itu ia mengatakan rencana ini masih lama untuk bisa dimulai. Menurut prediksinya kemungkinan baru akan bisa direalisasikan sekitar tahun 2024.
“Kalo double runway masih jauh. Nanti setelah program IMF selesai, kita kan sekarang lagi fokus untuk penyiapan fasilitas untuk IMF. Sekarang masih cukup ramai. Nah untuk runway itu masih perlu kajian lebih lanjut, kalo prediksi saya itu 2024 baru akan bisa dimulai. Karen kalo bikin runway itu yang pertama metodenya mau reklamasi atau tiang pancang lagi, kemudian lokasinya, kajian arah angin segala macem itu masih belum sangat jauh dari planing kita hari ini” katanya.


