Sunday, January 18, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

2 Mei, Hari Pendidikan Nasional

theeast.co.id – Tepat di tanggal 2 Mei selalu diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional atau yang lebih dikenal sebagai HARDIKNAS. Mengapa tanggal 2 Mei? Untuk menjawab hal itu maka kita akan melihat kembali ke belakang yaitu di jaman penjajahan Belanda. Tanggal 2 Mei 1889 adalah hari lahir sosok penting dalam bidang pendidikan nasional yaitu Ki Hadjar Dewantara. Ki Hadjar Dewantara yang kini dikenang sebagai pahlawan nasional terlahir di Yogyakarta dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat dari keluarga kaya di jaman kolonialisme, sejak muda ia dikenal berani menentang kolonial Belanda dimana turut mendirikan organisasi yang bernama Boedi Oetomo di tahun 1908, ia aktif menyuarakan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Selain itu ia juga menjadi anggota Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, kemudian ia bertemu dengan Ernest Douwes Dekker yang kemudian bersama-sama mendirikan Indische Partij.

Ketika di tahun 1913 pemerintah Hindia Belanda berniat mengumpulkan sumbangan dari warga untuk merayakan kemerdekaan Belanda dari Perancis banyak reaksi menentang dari kalangan nasionalis termasuk Soewardi. Kritikannya yang keras mengakibatkan ia di tangkap dan diasingkan ke Pulau Bangka. Hal ini membuat kedua kawannya yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo melakukan protes dan akhirnya mereka ditangkap juga. Ketiganya diasingkan ke Belanda, ketiga tokoh ini kemudian dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.

Dalam pengasingannya Soewardi aktif dalam perhimpunan para pelajar asal Indonesia, Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Di tahun 1913 pula ia mendirikan kantor berita Indonesia, Indonesisch Pers-bereau. Ini adalah pertama kali istilah Indonesia dipergunakan secara formal.

Pada bulan September 1919, Soewardi kembali ke Indonesia dan bergabung dalam sekolahan binaan saudaranya. Pada tanggal 3 Juli 1922 ia mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa dan ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia dengan kesadaran melepas semua gelar kebangsawanannya untuk bisa dekat dengan rakyat baik fisik maupun jiwa. Saat itulah ia mengenalkan semboyan yang kemudian sangat dikenal di Indonesia, ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. (“di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan”). Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa.

Ki Hadjar Dewantara (doc. national geographic indonesia)

Pada kabinet pertama Republik Indonesia, Ki Hadjar Dewantara oleh Presiden Sukarno diangkat sebagai Menteri Pengajaran Indonesia.

Ki Hadjar Dewantara meninggal pada 26 April 1959 dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata, Yogyakarta. Atas semua jasa-jasanya dalam merintis dan memperjuangkan pendidikan di Indonesia, pemerintah menyatakan ia sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional.(*)

(sumber : wikipedia, biografi Ki Hadjar Dewantara)

 

Popular Articles