Denpasar – Situasi terkini di Mako Brimob Kelapa Dua Depok semakin kondusif. Terdengar suara dentuman atau ledakan seperti tembakan senjata api dijelaskan bahwa itu hanya upaya sterilisasi, karena para Napi teroris memiliki banyak senjata. Wakapolri Komjen Pol Syafruddin didampingi Kabiro Penmas Mabes Polri Brigjen Moh. Iqbal dan Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto menjelaskan, kejadian penyanderaan sejumlah anggota Polri di Rutan Cabang Salemba Kelapa Dua yang kebetulan satu kompleks dengan Mako Brimob saat ini sudah dikendalikan. “Kita melakukan operasi penanggulangan selama 36 jam untuk menyelesaikan kasus ini. Dan operasi sudah berakhir sekita pukul 08,15 Wita,” ujar Wakapolri, Kamis (10/5).
Menurut Wakapolri, ada 156 tahanan melakukan penyanderaan terhadap 9 anggota Polri. Saat ini semua tahanan sudah menyerahkan diri karena Polri melakukan upaya penanggulangan. Sementara 9 anggota Polri yang disandera diketahui 5 orang meninggal dunia dengan menderita luka tembak, luka sayat, luka gorokan di leher, dan berbagai luka penyiksaan lainnya. Sisanya sebanyak 4 orang selamat, dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit dengan sejumlah luka di tubuhnya. Anggota Polri yang dibebaskan paling terakhir adalah Brigadir Iwan Sarjana yang juga mengalami luka di sekujur tubuhnya.
“Ada 5 anggota Polri gugur, dengan cara pembunuhan sadis. Ada 4 orang luka-luka, 3 orang sudah keluar semalam. Anggota yang keluar terakhir atas nama Brigadir Iwan Sarjana yang baru dibebas dini hari tadi pagi,” ujarnya.
Selaku pimpinan Polri, dalam semua operasi ini, Wakapolri memohon maaf kepada seluruh elemen bangsa, karena sudah merasa terganggu atas kejadian ini. Peristiwa penyanderaan ini menjadi pusat perhatian anak bangsa dan dunia. “Polri mohon maaf, karena terganggu pikiran, keamanan dan ketertiban. Polri juga mohon maaf kepada anggota keluarga Polri yang gugur, karena institusi Polri tidak sempat menyelamatan jiwa dan raga anggotanya. Seluruh upaya telah dilakukan, penanggulangan dan sebagainya, tetapi tidak berhasil menyelamatkan anggota Polri,” ujarnya.
Wakapolri mengatakan, ada senjata dimiliki para teroris dengan jarak tembak sampai 800 meter. Belum lagi senjata tajam, dan sejenisnya. “Dalam kondisi sedang menguasai area, para Napi itu bisa saja melakukan apa saja,” ujarnya. Situasinya tidak aman. Para penyandera memiliki sejumlah senjata. Operasinyaa berjalan selama 36 jam. Terdapat 156 tahanan dan semuanya sudah menyerahkan diri. Polri menangani dengan persuasif dan kepala dingin. “Walau pun teman-temannya menjadi korban, dibantai secara sadis namun upaya soft approach dilakukan. Operasi sudah berakhir pada pukul 08.15 Wita. Kami informasikan sebagian proses penanggulangan belum selesai. Sebagian atau seluruh tahanan teroris telah menyerahkan diri karena petugas melakukan pendekatan. Dan 99 persen sudah menyerahkan diri,” ujarnya.(*)
Laporan Axelle Dhae


