New York – Badan PBB yang mengurusi anak-anak, UNICEF menyatakan lebih dari 1.000 anak-anak luka-luka oleh tentara Israel di Jalur Gaza sejak aksi demonstrasi yang terjadi 30 Maret lalu.
Badan PBB itu menyatakan sejumlah luka-luka sangat parah dan mengubah kehidupan si anak, termasuk amputasi.
Melansir kantor berita Turki Anadolu, sumber di UNICEF mengatakan “Kekerasan baru-baru ini memperburuk sistem kesehatan yang sudah parah di Jalur Gaza, yang kolaps akibat pemadaman listrik dan kekurangan bahan bakar, obat-obatan dan peralatan medis.”
Pada Rabu (16/5), UNICEF dan dua mitranya mengirimkan dua truk berisi pasokan medis ke Jalur Gaza bagi sekitar 70 ribu orang.
Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan lebih dari 100 demonstrann Palestina tewas terkena tembakan tentara Israel sejak aksi protes di Gaza 30 Maret lalu. Sedikitnya tujuh anak di bawah umur dan seorang bayi berusia delapan bulan menjadi korban tewas.
Pada Rabu, Jaksa Mahkamah Kejahatan Perang Internasional menyatakan keprihatinan serius atas meningkatnya kekerasan di Gaza, dan menyatakan hal tersebut dapat menjadi bahan penyelidikan.
Melansir kantor berita Reuters, jaksa tersebut menyatakan “Setiap dugaan kejahatan baru dalam konteks situasi di Palestina dapat menjadi pemeriksaan hukum kami,”
“Ini berlaku pada kejadian 14 Mei 2018, juga insiden yang akan terjadi di masa mendatang.”
Jaksa Mahkamah Kejahatan Internasional membuka penyelidikan awal atas tindakan kekerasan di wilayah Palestina yang dijajah, termasuk Yerusalem Timur pada Januari 2015. Hingga kini mereka belum menentukan apakah akan melakukan penyelidikan resmi.
Aksi demonstrasi yang digelar Senin (14/5) bertepatan dengan pembukaan kedutaan AS di Yerusalem. Hari Nakba atau Hari Bencana bagi warga Palestina dirayakan sebagai Hari Ulang Tahun ke-70 Israel. Lebih dari 700 ribu warga Palestina terusir dari rumah mereka saat Israel dibentuk.(*)
(sumber : CNNInternasional)


