DENPASAR – Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita memberikan kuliah umum di Kampus Universitas Udayana (Unud) Bali, Jumat (25/5). Kuliah umum tersebut diikuti lebih dari 1000 mahasiswa Unud yang kebanyakan dari Fakultas Ekonomi. Saat memberikan kuliah umum tersebut, menteri dari Partai Nasdem tersebut didampingi oleh para dosen, Kepala Dinas Perdagangan Bali Putu Astawa, Ketua DPW Partai Nasdem Provinsi Bali Ida Bagus Oka Gunastawa, Rektor Unud Prof Anak Agung Raka Sudewi serta jajaran dosen lainnya. Menariknya, dalam kuliah umum tersebut, Mendag Enggar mengenakan jas Kampus Unud berwarna biru. Usai kuliah umum, Mendag berkesempatan meninjau pameran UKM sektor ekonomi kreatif yang dimiliki anak-anak Unud.
Dalam kuliah umum, Mendag menyoroti soal kesiapan generasi muda Indonesia menjelang pasar bebas atau perdagangan bebas. Indonesia tidak bisa hanya menjadi pasar barang dari negara-negara lain di dunia. Indonesia harus juga memasarkan produknya di luar negeri.
“Perdagangan bebas itu suatu keniscayaan. Karena tanpa kita membuka diri dan melakukan perjanjian perdagangan maka kita akan semakin tertinggal,” ujarnya.
Presiden selalu mengingatkan agar jangan sampai Indonesia tertinggal dari negara-negara lain dari ekspor dan dari sisi pertumbuhan ekonomi yang selalu tergantung pada impor dan investasi asing. Namun setiap perdagangan bebas ada negatif dan positifnya. Negatifnya adalah Indonesia harus menerima serbuan produk asing.
Untuk itu Indonesia harus mempersiapkan diri melalui kualitas, harga, kemasan, stok. Awalnya harus memenuhi pasar dalam negeri. Setelah pasar dalam negeri dipenuhi maka saatnya Indonesia harus bersaing dalam ekspor dan bersaing dengan produk dari berbagai negara lainnya di dunia. Persaingan sudah jelas di depan mata. Bali misalnya, harus menjadi terdepan menguasai pasar dunia karena Bali itu ikon dunia dalam bidang pariwisata. Berbagai produk kerajinan Bali harusnya menguasai pasar dunia. Menjual nama Bali saja sudah cukup untuk menguasai pasar dunia. Itulah sebabnya, IMF dan World Bank akan menggelar pertemuan di Bali. Nanti saat gelaran IMF-World Bank misalnya, paling sedikit uang yang berputar di Bali sebanyak Rp 6 triliun.
“Kita tidak mau hanya menjadi pasar negara-negara asing, tetapi kita harus memasarkan produk-produk kita di luar negeri. Untuk itu Indonesia harus bisa bersaing dan Indonesia bisa melakukan hal itu,” ujarnya.
Mendag juga memberikan apresiasi kepada Unud yang sudah memilik satu badan usaha untuk mendorong para mahasiswa untuk menjadi enterpreneur. Nanti mahasiswa dan para alumninya akan masuk di berbagai usaha yang inovatif. Hal ini sangat positif karena secara nasional, ratio enterpreneur muda di Indonesia sangat rendah. Usai memberikan kuliah umum, Mendag berkesempatan meninjau UKM hasil kreatifitas mahasiswa Unud.
“Saya kagum dengan hasilnya, baik dengan bank sampah, yang menjembatani antara kaya dan miskin. Disini sudah luar biasa. Ada juga kulit ikan, yang sudah menjadi limbah bisa diolah dan menghasilkan uang. Tidak banyak perguruan tinggi yang mau peduli terhadap mahasiswa untuk menjadi wirausaha muda di Indonesia. Tugas pemerintah harus memberikan akses karena tidak banyak perguruan tinggi yang mau peduli, yang mau agar mahasiswanya menjadi pengusaha,” ujarnya.
Pemerintah akan melakukan bekerja sama dengan perguruan tinggi yang melatih mahasiswanya untuk menjadi wirausaha muda.
“Kami butuh mereka, kami butuh wirausaha, tanpa mereka ekonomi Indonesia akan mundur,” ujarnya. (*)

Laporan : Axelle Dhae


