Denpasar, Theeast.co.id — Keseriusan gubernur dan wakil gubernur terpilih I Wayan Koster-Tjokorda Arta Ardhana Sukawati cukup luar biasa. Keduanya berjanji akan merevisi sejumlah Perda dan Pergub di Bali yang dianggapnya menghambat pembangunan, pertumbuhan ekonomi dan pelayanan publik.
“Sejumlah Perda dan Pergub akan dikebut. Kami akan langsung bekerja saat menempati rumah transisi yang diberikan oleh Gubernur Made Mangku Pastika. Semuanya bekerja dengan cepat. Sehingga setelah dilantik, semuanya sudah jadi, tinggal bekerja. Biar ada hasil, dan kelihatan dalam jangan waktu satu bulan, tidak bulan, 6 bulan, satu tahun pertaman, dua tahun pertama dan seterusnya,” ujarnya di Denpasar, Rabu (25/7).
Untuk mempercepat proses itu, Koster akan melibatkan sejumlah tenaga ahli. Tenaga ahli dan pakar itu diambil dari berbagai spesialisasi, pakar, dan disiplin ilmu yang beragam. “Mereka berasal dari ITB Bogor, Direktorat Otonomi Daerah Kemendagri, pakar hukum tata negara, pakar pariwisata, pakar pertanian, pakar transportasi dan sebagainya,” ujarnya.
Tim ahli itu sudah mulai bekerja di rumah transisi sejak ditempatkan usai penetapan oleh KPUD Provinsi Bali sebagai pasangan yang memenangkan Pilgub Bali dalam Pilkada serentak tahun 2018. Koster mengaku, tim ahli tersebut terus bekerja cepat, tepat, cerdas dan tuntas, dan tidak memungut bayaran sepeser pun. “Bahkan untuk uang makan saja kami harus urunan secara gotong royong,” ujarnya.
Ada sejumlah peraturan yang akan segera disusun oleh tim transisi antara lain revisi atau pengganti Undang-Undang Nomor 64 Tahun 1958 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur menjadi Undang-Undang tentang Provinsi Bali.
“Kita akan menyusun draft naskah akademik dan draft materi RUU tentang Provinsi Bali,” jelas Koster.
Peraturan lain yang disusun adalah Ranperda tentang revisi Perda Nomor 16 Tahun 2009 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTWP) Bali tahun 2009-2029, Ranperda tentang Revisi Perda Nomor 3 tahun 2001 tentang Desa Pakraman, Ranperda tentang Pemajuan Kebudayaan Bali, Ranperda tentang Tata Kehidupan Krama Bali sesuai nilai-nilai sad kertih yaitu Atma kertih, Danu kertih, wana kertih, segara kertih, Jana kertih dan jagat kertih, Ranperda tentang Standarisasi Pelayanan Kepariwisataan, Ranperda tentang Standarisasi Pelayanan Kesehatan.
Tak hanya itu, Tim Transisi juga menyusun Ranperda tentang Perlindungan Penyelamatan sumber daya air, pantai Sungai atau DAS, danau, air terjun, sumber mata air, daerah resapan air, Bulakan dan air bawah tanah (implementasi nilai-nilai denu kertih dan segara kertih), Ranperda tentang Perlindungan pelestarian dan pemanfaatan hutan (implementasi nilai-nilai wana kertih); Ranperda tentang Penggunaan Huruf Bali pada Perkantoran dan Fasilitas Publik.
Peraturan lainnya adalah menyusun rancangan Peraturan Gubernur (Ranpergub) tentang Rahina Mabasa Bali dan Rahina Mabusana Bali; Ranpergub tentang kewajiban hotel dan restoran menggunakan produk pertanian lokal Bali, Ranperda/Ranpergub tentang pelarangan menggunakan pembungkus yang dibuat dari plastik, Ranperda/Ranpergub tentang Perlindungan tenaga kerja lokal, dan Ranpergub tentang pendidikan PAUD berbasis keagamaan Hindu dan berbahasa Bali.
Selain menyiapkan peraturan di atas, Tim Transisi juga bekerja untuk menyiapkan program prioritas yang akan dilaksanakan dalam waktu jangka pendek yakni program penggunaan huruf Bali pada perkantoran dan fasilitas publik, program tentang Rahina Mabasa Bali dan Rahina Mubusana Bali, program tentang kewajiban hotel dan restoran menggunakan produk pertanian lokal Bali, menyiapkan tahapan pelaksanaan program wajib belajar 12 tahun dan menyusun pola tentang cara penerimaan peserta didik baru (PPDB) bersinergi dengan pemerintah kabupaten dan kota se-Bali yang harus dilaksanakan mulai tahun 2019.
Program jangka pendek lain yang disiapkan adalah program tentang pemajuan kebudayaan Bali, program tentang standarisasi pelayanan kepariwisataan, program tentang standarisasi pelayanan kesehatan, program memajukan adat istiadat tradisi seni dan budaya melalui perlindungan pengembangan pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan, program membangun pusat kebudayaan Bali dalam satu kawasan meliputi panggung terbuka Gedung Teater museum tematik dan Bali internasional Convention Center; dan program menjadikan wantilan desa adat sebagai Wahana Balinese culture meeting point yang dilengkapi dengan wifi gratis dan fasilitas pendukung seni budaya lainnya.
Koster juga mengatakan Tim Transisi akan menyusun Masterplan, yakni masterplan dan roadmap pemajuan kebudayaan Bali, master plan dan roadmap pembangunan kepariwisataan, masterplan dan roadmap pemenuhan kebutuhan air, master plan dan roadmap pemenuhan kebutuhan energi, dan master plan dan roadmap infrastruktur terintegrasi darat laut dan udara. Untuk memperkuat tim yang menangani tugas-tugas tersebut akan dibentuk Sekeha Demen untuk Bali yang terdiri dari para lulusan ITB Bandung yang memiliki kompetensi profesional dan pengalaman di bidang infrastruktur transportasi, penyediaan kebutuhan dasar air minum, penyediaan kebutuhan dasar listrik, kebutuhan gas LNG, sampah lingkungan, industri kerajinan rakyat, industri kreatif dan badan usaha yang ada di pemerintah dan badan usaha milik negara dan sektor swasta.
Koster menegaskan mereka bekerja tanpa dibayar. “Mereka mau membantu, bekerja semata-mata untuk berkontribusi membangun Bali ke depan, menyukseskan kepemimpinan Koster-Ace.
Mereka yang bergabung sekitar 20 orang, akan mulai bekerja tanggal 28 Juli 2018 untuk menyusun konsep pembangunan Bali sebagai pelaksanaan visi misi Wayan koster.
mereka siap membangun tanpa ongkos (volunteer) sehingga tidak membebani APBD,” kata Koster.
Koster juga mengatakan akan membangun Bali dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui pola pembangunan semesta berencana. Pembangunan di Bali kata dia, akan dilaksanakan dengan pendekatan konsep satu kesatuan wilayah, yakni satu pulau, satu pola, satu tata kelola. “One island, and one management,” jelas Koster.
Ia juga menegaskan, bersama Cok Ace dirinya siap ngayah untuk Bali. “Seperti yang sudah kami sampaikan dalam berbagai kesempatan bahwa kami siap ngayah secara total, Lascarya Sakala-Niskala,” tegas Koster. (Axelle Dhae)


