Sunday, November 30, 2025

Top 5 This Week

Related Posts

“Ngarit”,Balada Wartawan Pencari Ceperan

Oleh: Angga Wijaya

 ADA istilah dalam pergaulan wartawan di Denpasar: ngarit. Kata ngarit berasal dari bahasa Bali yang berarti menyabit. Dalam obrolan wartawan, kata ini memiliki makna meliput sebuah berita dengan menemui narasumber yang berpeluang besar memberi “amplop”.Sudah menjadi rahasia umum wartawan zaman sekarang identik dengan uang; malas pergi meliput jika tak ada “amplop”. Memang tak semua wartawan seperti itu, masih ada wartawan yang lurus dan menjaga idealisme, namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

Saya tak tahu kapan istilah ngarit muncul di kalangan wartawan. Istilah yang awalnya identik dengan petani dan kultur agraris ini kini menjadi hal yang lumrah. Padahal, menurut kode etik, wartawan dilarang menerima sesuatu dari narasumber.

Seiring perkembangan yang memberi kemudahan mendirikan sebuah media kini, kita jumpai banyak sekali media–baik cetak maupun online–bermunculan. Juga wartawan yang kredibilitasnya patut dipertanyakan.

Dengan bermodal kamera ponsel dan kartu pers, seseorang menjelma menjadi wartawan. Syukur jika tindak-tanduknya baik. Kenyataannya, ada beberapa oknum yang mengaku sebagai wartawan tetapi menyalahgunakan profesi ini. Caranya dengan membuat berita menyudutkan pihak tertentu yang berujung pada aksi pemerasan.

Untunglah ngarit tidak mengandung persepsi negatif seperti pemerasan. Ngarit, jika dikembalikan ke makna aslinya, ibarat seorang petani yang bangun di pagi hari lalu minum kopi kemudian pergi untuk menyabit rumput di sawah atau ladang. Ada suasana santai di sana, tidak mengejar atau dikejar target.

Begitu pula di dunia wartawan. Ngarit bisa dianalogikan seperti petani, tidak ada unsur paksaan atau target. Saat pergi meliput dan menemui narasumber syukur jika diberi amplop namun jika tidak diberi tak apa-apa. Ada unsur kedekatan emosional antara wartawan dan narasumber yang terjalin. Seorang wartawan yang kali pertama bertemu narasumber biasanya akan menjalin pertemanan dan silaturahmi. Kemungkinan untuk bertemu kembali di waktu yang lain sangat besar. Manusiawi, bukan?

Seorang teman wartawan saat saya tanya alasan mengapa ngarit menjawab bahwa jika hanya mengandalkan gaji dari perusahaan media tak cukup untuk memenuhi kebutuhan di kota besar seperti Denpasar. Apalagi di saat bisnis media bagai jamur di musim hujan, persaingan makin ketat, media online banyak bermunculan menjadi ancaman bagi media cetak konvensional.

Wartawan kini “merangkap” menjadi tim marketing, mencari iklan dan berita berbayar yang dikenal dengan berita advertorial untuk pemasukan perusahaan. Bahkan ada perusahaan media yang tak memberi gaji kepada wartawan. Wartawan dibebaskan mencari penghasilan sendiri dengan mencari iklan atau melakukan kerjasama dengan instansi pemerintah atau perusahaan swasta. Dia tentu saja mengandalkan penghasilan dari ngarit.

Jangan tanya soal independensi wartawan. Bisnis media massa yang melaju dengan pesat dan tuntutan komersial secara tidak langsung telah membunuh independensi wartawan. Pemilik modal telah menempatkan para wartawan sebagai alat mendapatkan keuntungan yang melampaui kompetensinya.

Dampak tekanan dari perusahaan media agar wartawan juga menjadi pencari iklan, pastinya akan menggerus idealisme dan independensi wartawan. Maka pada saat menyampaikan informasi, pertimbangan untung-rugi, kesinambungan hubungan dengan pemasangan iklan yang juga narasumber menjadi beban. Kini memang bukan era wartawan idealis semacam Mochtar Lubis, Rosihan Anwar, atau Goenawan Mohamad. Mereka anak zaman yang berbeda.

Wartawan sekarang hidup di zaman yang serba materialis. Tuntutan ekonomi menjadikan wartawan harus cerdas menyiasati hidup. Jika dulu sebuah berita murni tanpa ada sangkut paut dengan uang kini ada berita berbayar, narasumber membayar sejumlah uang untuk berita yang akan dimuat atau ditayangkan. Perubahan yang tak bisa dihindari yang justru mengancam dunia pers kita.

Dan, fenomena ngarit menjadi menarik untuk dicermati. Maka, menjadi hal biasa jika suatu pagi saya menerima pesan Whatsapp dari seorang teman wartawan; “Bro, kamu ngarit di mana hari ini?

 

 

*) Penulis adalah seorang penyair dan wartawan, tinggal di Denpasar

Popular Articles