Buleleng,Theeast.co.id, – Kantor Teater Jakarta yang tampil dengan garapan teater “Belajar Tertawa” syarat akan pesan-pesan kehidupan yang dilakoni masyarakat setiap harinya. Aksi panggung para aktor Mamexandria dan Roy Julian dalam pementasan teater “Belajar Tertawa” benar-benar memancing emosi penonton untuk sesekali tertawa di Rumah Belajar Komunitas Mahima Singaraja, Buleleng-Bali. Dengan aksi panggung spontanitas serta teks yang diambil dari gambaran hidup masyarakat setiap harinya syarat akan pesan-pesan kehidupan.
Ditemui pada Selasa (28/08) malam, Aktor Roy Julian mengatakan, Teater Belajar Tertawa selalu menampilkan tentang cara lain memahami keburukan, kesakitan, dan penderitaan. Teater ini berhasil menggeser posisi tempat duduk agar bisa mendapatkan sudut pandang yang lebih baik atas segala kekacauan hidup yang dialami manusia, sehingga dengannya, harapan tentang hidup dan hari esok yang lebih baik bisa muncul sebagai energi dan daya hidup yang menyala di dalam diri. Roy menambahkan, Belajar Tertawa adalah cara dan upaya untuk menemukan kegembiraan gelap di dalam kepedihan yang terang benderang di dalam diri. “Ini diaplikasikan dalam rekonstruksi teks. Jadi teks ini adalah mencari muatan komedi dari tragedy yang terjadi dalam hidup. Sehingga dengannya kita menyadari ada harapan yang baik dan tidak melulu penderitaan,” ungkapnya.

Roy menambahkan, kalimat-kalimat yang dilontarkan pada setiap adegan bukanlah semata dari hasil pemikiran semata, namun juga mengutip beberapa kalimat yang diupdate oleh pengguna sosial media. “Naskahnya ya kita hafalin, bukan saja dari buah hasil pemikiran kita saja. Tapi ada yang kita ambil dari beberapa status facebook yang diunggah seseorang, dan rangkaian kata yang diupload di Instagram,” ungkap Ayah satu anak ini.
Ia pun mengaku menggunakan property apapun yang ada di sekitarnya untuk pementasan. “Kita enggak mau ribet ya, apa yang ada di sekitar kita coba untuk manfaatkan. Ya improvisasi ruanglah,” imbuhnya.
Untuk diketahui Kantor Teater berdiri pada 8 Maret 2012 di Jakarta. Sepanjang 2013-2015, Kantor Teater lebih memilih untuk melakukan pertunjukannya di jalanan dan ruang-ruang publik. Awalnya mereka tak pernah mengkonsepkan apapun ke dalam pertunjukan. Mereka hanya menangkap momen yang ada di keseharian dan melakukan pertunjukan secara spontan berdasarkan perasaan yang paling dominan mereka alami saat itu.
Mengkonfrontasikan ruang di dalam tubuh dengan ruang di luar tubuh demi menemukan semacam harmonisasi yang ganjil diantara keduanya. Mereka pentas di trotoar jalan, di warung kopi, di POM Bensin, di pelataran parkir, di taman-taman kota, di stasiun kereta api, di dalam gerbong kereta, di kamar mandi, di loteng rumah dan di mana saja. Namun memasuki tahun 2016 Kantor Teater mulai melakukan eksplorasi yang lebih serius dengan merumuskan metode keaktoran tanpa sutradara dalam penciptann pertunjukannya.
Kantor Teater Jakarta juga telah pentas di beberapa tempat di Indonesia. “Belajar Tertawa” adalah pertunjukan yang menggunakan pola kerja keaktoran yang mencoba membebaskan diri dari rezim penyutradaraan dan mengandalkan pengadegan pada kemampuan actor dalam menangkap momen secara spontan diatas panggung. (Nay)


