Tuesday, January 13, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Hidroponik Jadi solusi Ampuh Di Tengah Sempitnya Lahan Pertanian

Buleleng,Theeast.co.id, – Buleleng tengah gencar-gencarnya mengembangkan sektor pertanian. Salah satu cara yang dilakukan yakni dengan budidaya tanaman sayur yang dikembangkan dengan teknik hidroponik. Seperti yang dilakukan pada rumah Janzeen Hidroponik di Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng-Bali. Sayur-sayur yang ditanam di sebuah green house dikembangbiakkan dengan sistem hidriponik. Yakni dengan menanam benih sayur pada media yang disebut dengan rockwool, media pengganti tanah dan disimpan di tempat yang kedap sinar matahari selama tiga hari. Setelah tumbuh bibit dipindahkan ke media pembesaran bibit. Tujuh hari kemudian bibit dipindahkan kembali ke media pendewasaan. Di media pendewasaan air yang telah dicampurkan dengan nutrisi dialirkan secara terus menerus selama dua puluh empat jam. Aliran air secara rutin diperiksa untuk memastikan tidak ada jalur yang tersumbat yang dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman sayur.

Selain dibudidayakan untuk bahan penjualan, dua green house yang ada di Janzeen Hidroponik juga sebagai media edukasi bagi pelajar yang ingin belajar dan mengetahui sistem tanam hidroponik. Agung Hendi Satria, pengurus Janzen Hidroponik mengatakan, green house tersebut telah berjalan selama 3 tahun sejak 2015 lalu. Disana juga terdapat tiga puluh lebih koleksi sayuran yang dikembangkan dengan teknik hidroponik. “Janzeen Hidroponik resmi berdiri tanggal 17 Aguastus 2015. Dan kami punya tiga puluh sampai tiga puluh lima koleksi sayur yang ditanam di dua green house,” ungkapnya. Agung menambahkan, untuk benih sayur yang dikembangkan di Janzeen Hidroponik merupakan benih lokal. Namun ada juga benih import. “Kalau benihnya kami punya benih lokal dan ada juga yang kami datangkan dari luar,” imbuhnya.

Dengan menggunakan cara tanam hidroponik masa panen tanaman sayur menjadi lebih cepat dua minggu dibandingkan dengan ditaman dengan mengunakan media tanah. “Kalau hidroponik panennya lebih cepat ketimbang di lahan,” ungkap pria bertindik ini.
Minat terhadap dunia pertanian khususnya pengembangan dengan teknik hidroponik sudah mulai dilirik masyarakat. Terutama masyarakat lokal. Selain bisa mengenal bagaimana cara penanamannya, pengunjung juga bisa menikmati sensasi petik langsung dari media tanamnya. “Peminatnya kebanyakan orang lokal sendiri. Kadang-kadang mereka datang langsung kesini untuk melihat seperti apa hidroponik itu, mereka juga bisa menikmati panen langsung di kebun kami,” ujar Agung didampingi beberapa pegawai di green house.

Agung mengungkapkan, untuk menjaga sayur tetap berkembang dengan baik perlu dicek secara rutin agar aliran nutrisi tidak tersumbat yang nantinya dapat menyebabkan sayuran kekurangan kadar makanan. “Kami selalu cek dari daun hingga kondisi sayurnya. Alirannya juga harus diperhatikan biar tidak ngadat. Sayur juga butuh makan dan juga minum. Jadi harus selalu diairi dan juga diberi makan,” tuturnya.
Meskipun dirawat dengan sebaik mungkin, Janzeen Hidroponik juga tak luput dari hama. Maka dari itu para pegawai harus telaten dalam melakukan perawatan. “Kendala kami dalam perawatan itu adalah hama. Seperti ulat, serangga. Sebab sayuran kami nonpestisida. Jadi harus ekstra diperhatikan,” ungkapnya lagi.
Sawi hijau, pokcay, bayam merah, kubis, kangkung cabut dan kale merupakan sebagian dari tiga puluh lima tanaman sayur yang dikembangkan. Hasil panen tanaman sayur hidroponik dijual dengan harga delapan ribu hingga dua puluh lima ribu rupiah sesuai dengan jenis tanaman.

Penjualan tanaman sayur hidroponik telah merambah swalayan, restoran dan hotel-hotel, yang ada di sekitar Denpasar dan Nusa Dua. Terkadang pembeli datang langsung ke tempat pengembangan untuk dapat memanen secara langsung dan berkeinginan untuk belajar bercocok tanam dengan cara hidroponik. (Nay)

 

Popular Articles