Buleleng,Theeast.co.id – Teater adalah ruang alternatif untuk bertemu dan saling mendengarkan. Pementasan bukanlah sebuah tujuan utama, namun berbagi cerita. Jika pada akhirnya pementasan menjadi sebuah sarana berbagi inspirasi, maka itulah dampak yang diharapkan, bahwa nilai-nilai yang selama ini diyakini sendiri, bisa menjadi perspektif baru bagi orang lain. Disini teater hadir sebagai media alternatif ‘pertemuan’ ide, persemaian cerita, dan pembentukan nilai baru. Seperti yang telah diketahui, Singaraja mendapat kesempatan istimewa menjadi tempat perhelatan sebuah project teater dokumenter yang digagas Kadek Sonia Piscayanti bertajuk “11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah”. Project ini adalah salah satu project yang lolos sebagai hibah yang diberikan oleh Ford Foundation melalui Cipta Media Ekspresi. Pada Jumat, 31 Agustus 2018 malam adalah pentas ketiga dalam project “11 Ibu 11 Panggung 11 Kisah” yang disutradarai oleh Kadek Sonia Piscayanti. Pentas pertama telah dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 2018 dengan aktor Erna Dewi di rumahnya sendiri dikawasan Pantai Penimbangan Desa Bhaktiseraga Kecamatan Buleleng, Kabupaten Buleleng dan pentas kedua dilaksanakan tanggal 12 Agustus 2018 dengan aktor Watik di rumah Belajar Komunitas Mahima.

Pentas ketiga ini sedikit berbeda, karena mengambil panggung di sebuah pemakaman keluarga China. Pemakaman ini adalah milik keluarga keturunan Liem Liang An yang menjadi salah satu kapitan China pertama yang hidup di Buleleng. Pemakaman ini menjadi bagian dari rumah utama.
Dikisahkan, Hermawati, seorang Ibu dengan tiga anak yang menjadi aktor pementasan berjudul Kawitanku adalah Langit Luas Tak Terbatas yang mengisahkan Soal kegelisahan mencari dan menemukan rumah menjadi isu sentral pementasan ini. Isu lain adalah identitas diri, spiritualitas dan soal-soal eksistensialisme manusia. “Jika kamu bertanya padaku, aku orang apa, aku akan membutuhkan beberapa saat untuk menjawab. Aku orang apa. Kulitku kuning, namun aku bukan China, bukan Jawa, juga bukan Bali sepenuhnya. Aku lahir di Jawa, dari keturunan China, menikah dengan orang Bali. Intinya, aku orang Indonesia. Jika kamu bertanya, apa agamaku, aku tak bisa langsung menjawab. Aku beragama ketulusan hati. Tuhanku adalah keikhlasan dan kejujuran pada diri sendiri.”
Demikian kata pembuka dalam pentas ini. Aktor Hermawati adalah aktor yang lahir dalam dua budaya, dan dalam pencarian jati dirinya ia menemukan “rumah” sesungguhnya, rumah yang ia yakini, bukan rumah fisik namun rumah jiwanya. Pencarian ini sungguh panjang dan hampir sia-sia, namun ia tetap berjuang. Perjuangannya masih berlanjut dan belum berakhir. Menurut sutradara Kadek Sonia Piscayanti, proses dalam teater adalah sebuah dokumentasi gagasan, pikiran dan visi, juga perspektif. “Bermain teater bukan sekedar memainkan peran dengan berbagai gerak tubuh, melainkan bagaimana kita mengekspresikan rasa lewat seni teater,” tuturnya tepat di hadapan pekuburan Cina tempat pementasan tersebut digelar.
Tujuan utama project ini adalah belajar mendengar Ibu, dimana para Ibu berbagi pada audiens tentang isu dan kegelisahan mereka. Siapapun, terutama seorang ibu barangkali punya kerinduan tentang mendengarkan dan didengarkan. “Namun realitas kadang berkata lain, Ibu kadang jarang mendengarkan, atau jarang didengarkan. Sebab isu seorang ibu sangat kompleks. Disinilah teater tumbuh di antara proses mendengarkan,” imbuh Sonia. Bagi sutradara Sonia, seorang ibu memiliki terlalu banyak isu yang menggantung di pundak mereka, sehingga seringkali mereka abai pada suara sendiri karena menganggap isunya tidak penting padahal sering menjadi beban pikiran. “Ibu-ibu ya kadang suka sok kuat ya, padahal banyak sekali beban yang ia pikul,” katanya lagi.
Salah satu penonton yang hadir Faizah Azari seorang Dosen di Universitas Surya Tanggerang mengaku merasakan apa yang dipentaskan oleh aktor. Sebagai seorang perempuan, ia merasakan dihormati dan merasa didengar. Dan melalui pementasan ini, perempuan memiliki peran yang tak semata sebagai seorang ibu. “Intinya suara perempuan ya harus didengar. Karena perempuan juga manusia dan ada,” tuturnya. Faizah menambahkan, ruang pementasan seperti ini memberikan kesempatan bagi kaum perempuan untuk menyuarakan perasaannya terlepas dari ia beragama apa atau berasal dari mana,” imbuhnya.
Siapapun memiliki momen romantik dan mengharukan bersama ibu. Bahkan Ibu lekat menjadi simbol perjuangan. Sehingga memori kolektif terhadap Ibu menjadi kesadaran bersama yang dibangun dalam pementasan. Adapun 11 ibu yang dilibatkan berasal dari berbagai kalangan yaitu dari buruh bangunan, pembantu rumah tangga, PNS, guru, bidan, desainer, dokter yang seniman, penulis puisi, pembaca tarot, ahli tata rias, hingga profesor di perguruan tinggi. Mereka adalah Watik, Sukarmi, Erna Dewi, Cening Liadi, Ketut Simpen, Sumarni Astuti Dirgha, dr. Tini Wahyuni, Desak Putu Astini, Yanti Pusparini, Hermawati, dan Prof. Dr. Putu Kerti Nitiasih. (Nay)


