Tuesday, January 27, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Ajang Makorot Kembali Digelar Pada Lovina Festival 2018

Buleleng,Theeast.co.id, – Di Buleleng kata “Mekorot” sudah tidak asing lagi. Makorot merupakan ajang ketangguhan layang-layang bertahan di udara, bukan lagi soal keindahan layang-layang. Kepuasan pemain layang-layang di Buleleng bukan pada saat menyaksikan kesombongan layang-layanya menguasai langit dengan tubuh besar hingga menghalangi matahari. Atau bukan pada saat kemolekan layang-layangnya menari di udara dengan kecantikan warna-warni yang dipertontonkan di udara. Kepuasan pemain layang-layang di Buleleng adalah pada saat layang-layang yang dikendalikannya mampu menjatuhkan sebanyak-banyaknya layangan lain di sampingnya. Hingga sampai akhirnya hanya layang-layang dialah sebagai layang-layang yang satu-satunya mengudara di langit. Itulah yang disebut jawara.

Seperti yang terlihat di Lapangan Desa Kaliasem, Lovina. Sebanyak 120 peserta yang berasal dari Buleleng dan Karangasem mengikuti lomba Mekorot. Mereka saling beradu ketangkasan bermain layangan. Setiap peserta diberikan waktu selama 5 menit untuk menerbangkan layangannya. Juara ditentukan dari peserta yang paling lama menerbangkan layangan sambil
mekorot memutuskan layangan peserta lain. Layangan yang digunakan untuk berlomba ada layangan kecil berukuran 21×24 cm. Peserta lomba mekorot wajib menggunakan pakaian adat madya.

Lomba mekorot dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng. Pada tahun ini ditambahkan Tarian Mekorot sehingga menambah kesenian yang ada di Buleleng. Salah satu peserta mekorot asal Banyuasri Lutfila mengatakan, ia mengikuti lomba mekorot bersama teman-temannya. Setelah berlaga selama 3 menit ia harus menerima kekalahan karena layangannya di putus oleh peserta lain. Namun demikian ia berniat untuk mengikuti event yang sama di tahun berikutnya. “Ya tergantung arah anginnya juga sih. Tapi seru, tahun depan kalau ada lagi, saya mau ikut lagi,” ungkapnya.

Sementara Project Director Buleleng Mekorot Festival ke-5 Kadek Nova Wiguna mengaku dengan diadakannya lomba ini dapat melestarikan budaya mekorot di Bali utara. “Ini adalah tradisi di Bali utara. Berbeda dengan Bali selatan, layangannya besar-besar. jadi dengan diadakannya lomba mekorot serangkaian Lovina Festival ini bisa melestarikan tradisi Bali utara,” tuturnya.

Di sisi lain Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buleleng, Nyoman Sutrisna menjelaskan, pemilihan lomba mekorot didasari dengan keunikan yang dimiliki kegiatan mekorot itu sendiri. “Ini merupakan ciri khas Buleleng. Layangannya kecil. Lalu diadu. Yang putus berarti kalah, yang bertahan berarti menang. Ini juga bisa dikategorikan sebagai kegiatan olahraga,” jelasnya. (Nay)

 

Popular Articles