Buleleng,Theeast.co.id, – Menyinggung masalah souvenir atau oleh-oleh memang seru. Banyak pilihan dan banyak tempat yang direkomendasi. Tapi kini gerabah mulai dilirik untuk dijadikan sebagai sebuah souvenir atau buah tangan jika berkunjung ke Buleleng. Sementara itu, di Bali Utara pertumbuhan industri pariwisata cukup menjanjikan. Beberapa daerah kunjungan wisata terus dikembangkan guna pemenuhan hasrat wisatawan, baik wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara. Sejalan dengan itu jenis dan bentuk produk budaya pun dikembangkan secara terus-menerus juga untuk kebutuhan industri pariwisata. Para wisatawan yang datang ke Bali semakin banyak yang memfokuskan kunjungannya ke daerah Bali Utara.
Sayangnya suvenir yang bisa dibawa pulang ke daerah atau negara masing-masing itu di Buleleng belum tersedia. Padahal Buleleng sesungguhnya memiliki potensi yang cukup memadai untuk memproduksi suvenir khas Bali Utara. Salah satu jenis suvenir yang bisa dikembangakan adalah kerajinan gerabah. Identitas Buleleng adalah ikon-ikon visual yang mencitrakan Buleleng, sebutlah misalnya singa, lumba-lumba, flora dan fauna laut, sapi, kera, jalak Bali, dan lain-lain. Ikon-ikon ini dijadikan tema atau subject matter produk suvenir berbahan dasar gerabah. Bisa dipastikan, ikon-ikon ini setelah diolah dengan pendekatan desain yang sesuai dengan fungsinya sebagai benda hiasan akan memiliki daya tarik.
P2M ini dipimpin oleh Luh Suartini dengan angota Hardiman dan IGN Sura instruktur beberapa orang mahasiswa Jurusan Pendidikan Seni Rupa. Benda kerajinan yang berhasil diproduksi sejumlah 350 pc, berupa kerajinan berbentu lumba-lumba, kura-kura, singa bersayap, bintang laut, bunga batun timun, ikan laut, dan sebagainya, seperti yang dipamerkan di ruang pameran Fakultas Bahasa dan Seni FBS Undiksha Singaraja, Rabu (03/10).
Sejalan dengan keberhasilan pembutan kerajinan ini, maka tahun-tahun yang akan datang kerajinan suvenir layak ditingkatkan produksi dan distribusinya. Direncanakan, tahun depan P2M akan menfokuskan pada pengembangan produksi dan perluasa distribusi. Pengembangan produksi dengan jalan memperbanyak acuan cetak untuk disebar ke banyak pengrajin. Sedangkan perluasan produksi ditargetkan menyasar pelaku dan pengunjung pariwisata di daerah kunjungan wisata Bali Utara.
Salah Satu desa di Buleleng yang hasil produksi gerabahnya banyak dicari adalah Kelurahan Banyuning. Disana terdapat puluhan pengrajin gerabah. Namun yang mereka produksi kebanyakan benda-benda yang digunakam sebagai sarana upacara keagamaan bagi umat Hindu.
Para pengrajin gerabah di Desa Banyuning memiliki motivasi yang cukup kuat untuk maju. Mereka tidak hanya terbatas memproduksi benda-benda upacara keagamaan yang dari bentuk dan fungsinya sudah mentradisi. Sebagian di antara para pengrajin gerabah di Desa Banyuning ini terbiasa melakukan eksperimen dan eksplorasi jenis dan bentuk gerabah. Mereka misalnya berkreasi membuat alternatif benda fungsional dan non fungsional seperti pot bunga, guci, dan benda-benda lainnya.
Para pengrajin gerabah di Desa Banyuning memiliki keinginan untuk terus berkreasi menciptakan produk-produk baru sambil juga menciptakan pasar-pasar baru. Motivasi yang dimiliki para pengrajin ini adalah modal budaya yang bisa menggerakkan modal ekonomi di desa Banyuning ini. SDM yang memiliki motivasi yang kuat untuk maju, dan SDA yang berlimpah di Desa Banyuning dan sekitarnya adalah prospek potensi desa yang harus dipelihara secara bersungguh-sungguh dan terarah dengan baik. (Nay)


