Denpasar, Theeast.co.id – Ketua Bali Tourism Board (BTB) IB Agung Partha Adnyana menegaskan, pihaknya tidak pernah melakukan deal-deal dengan para mafia Cina yang pernah diberitakan selama ini. Ia menegaskan jika pertemuan itu dilakukan tidak sendirian, tetapi dengan melibatkan semua elemen terkait seperti ASITA Bali, HPI Bali, dan masih banyak lagi. Setelah kasus ini mencuat, pihaknya selaku BTB harus mendengarkan keterangan semua pihak apakah kasus itu benar terjadi atau tidak. Termasuk mencaritahu soal harga hotel dan paket wisata yang dijual murah. “Saya tegaskan, tidak pernah ada deal-deal dengan para pihak terkait. Apalagi itu hanya menguntungkan pribadi-pribadi, dan merugikan Bali secara keseluruhan. Kami memang melakukan rapat. Dan hasilnya transparan. Semua juga mengetahuinya,” ujarnya di Denpasar, Selasa (23/10).
Menurutnya, usai sidak yang dilakukan oleh Wakil Gubernur Bali Cok Ace, BTB memanggil para pelaku di tempat usaha tersebut. Saat dipanggil, ada yang datang dan ada yang tidak datang. BTB meminta penjelasan, apakah benar melakukaan praktek seperti yang diberitakan. Penjelasannya beragam, yang pada intinya para pihak tersebut tidak mengetahui jika seluruh proses itu dianggap sebagai upaya untuk menjual Bali secara murah. Seluruh transaksi dilakukan seperti biasa dan berjalan normal. Namun setelah kasus ini mencuat ke permukaan, pemerintah lalu melakukan langkah-langkah termasuk sidak oleh Wagub Cok Ace. “Intinya kita meminta para pihak agar segera menghentikan praktek-praktek nakal tersebut. Semuanya harus berjalan sesuai dengan aturan dan norma yang ada. Ini demi keberlanjutan pariwisata Bali,” ujarnya. BTB sendiri tidak memiliki kewenangan untuk memberikan sanksi apa pun. Bila itu dianggap melanggar hukum, maka penegak hukum bisa menindaklanjutinya.
Sementara Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Arta Ardhana Sukawati (Cok Ace) mengatakan, kasus mafia asal Cina yang menjual pariwisata Bali sudah tidak bisa dipungkiri lagi. Dari hasil sidak sudah membuktikan bahwa terjadi banyak pelanggaran mulai dari menjual paket pariwisata Bali secara murah, menjual kamar hotel secara murah, perjalanan wisata ke tempat yang murah dan tidak jauh dari lokasi penghinapan, hanya diajak berbelanja ke toko-toko yang menjual produk Cina dan seterusnya. “Bukti lain saat pertemuan dengan BTB. Ada permintaan dan himbauan agar praktek itu tidak boleh terulang lagi. Itu artinya sebenarnya praktet mafia itu memang benar adanya. Karena sebelum-sebelumnya telah dilakukan,” ujarnya. Ia mengaku, BTB pernah meminta rate hotel yang dijual nanun ditolak oleh pihak hotel dan oleh pemandu guide karena katanaya itu merupakan rahasia bisnis.(Axele Dhae)


