Buleleng,Theeast.co.id, – Rangkaian Hari Sumpah Pemuda dan Bulan Bahasa 2018 selain diisi dengan lomba membaca puisi dari tingkat SD, SMP Dan SMA, juga diisi dengan acara bedah buku karangan Sastrawan Made Adnyana Ole dalam karyanya Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci. Cerpen Karya Ole ini dibedah oleh tiga orang di Puri Seni Sasana Budaya Singaraja, Senin(29/10) malam. Mereka diantaranya Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng Gede Suyasa, Kepala SMP N 4 Singaraja Putu Budiastana, dan Sastrawan Mahima. Bedah buku ini dihadiri unsur masyarakat, mahasiswa serta akademisi.
Hari Sumpah Pemuda dengan tema merayakan Bahasa, Merayakan Cinta lebih banyak mengkritisi cerpen-cerpen yang dikarang Ole dalam bukunya Gadis Suci Melukis Tanda Suci di Tempat Suci. Hal yang paling menarik dalam kegiatan bedah buku tersebut diantaranya kritik dari Sumarni Astuti yang memaparkan bahwa karya-karya dari Made Adnyana Ole terlahir dari seluruh perjalanan hidupnya. Selain itu terdapat pola dalam mendidik buah hati dalam salah Satu karyanya yang berjudul 4 Dari 1000 Lelucon Politik. Dimana dalam cerpennya itu tokoh “Ayah” pada cerita itu adalah dirinya dan tokoh “Putik” adalah putri sulungnya. Pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari tokoh Putik dijawab dengan santai dengan memberikan pemahaman sesuai dengan kemampuan berpikir seorang anak. “Dalam cerpen ini terdapat banyak sekali nilai moral ya, yang menarik juga terdapat pola asuh anak yang dituangkan dalam suatu Karya,” ungkap Sumarni.
Sementara Kadisdikpora Buleleng Gede Suaysa menyampaikan bahwa kebanyakan karya sastra yang dilahirkan Ole tanpa kesimpulan. Akan tetapi karya sastra yang tercipta mengalir begitu saja mampu melahirkan karya yang menarik. Menurutnya sastra juga sebagai bagian dari politik, sastra sebagai suatu pergerakan. “Sastra memiliki kekuatan untuk menyampaikan hal-hal yang tidak dapat diungkapkan secara langsung. Mengkritisi sesuatu pun dapat menggunakan sastra,” paparnya. Banyak masukan yang terlontar dari para audience yang ditujukan kepada pembicara maupun penulis. Masukan-masukan tersebut merupakan suatu motivasi bagi penulis untuk melahirkan suatu Karya sastra yang lebih baik. (Nay)


