Jakarta, Theeast.co.id – Upaya melestarikan dan menggalakkan masyarakat dunia untuk mencintai tenun dan songket Indonesia terus digaungkan oleh Anna Mariana. Baru-baru ini Anna yang juga designer, pelestari dan pelopor pengembangan tenun dan songket Nusantara kembali memukau di Tokyo, Jepang. Ia tampil sebagai pembicara dalam acara “Afternoon Tea Kain Nusantara” di kediaman Duta Besar Indonesia, Arifin Tasrif di Tokyo, Jepang 10 November 2018 beberapa waktu lalu.
Acara yang diprakarsai Ibu Dubes, Ratna Mirah Tasrif ini menghadirkan 150 tamu undangan khusus diantaranya Duta Besar Guatemala Angela Maria Chavez Bietti, juga Duta Besar Republic of Costa Rica, Laura Esquivel, dan sejumlah tamu VVIP dari negara sahabat serta sosialita Jepang pencinta kain.

Dalam paparannya, Anna menyoroti keistimewaan Tenun double ikat Gringsing, yang hanya ada di desa Tenganan, Kecamatan Magis, Karangasem, Bali. Tenun Gringsing, kata Anna, merupakan satu-satunya kain tenun tradisional Indonesia yang dibuat menggunakan teknik doubel ikat. Kain tenun Grinsing ini sudah ada sejak 1500 tahun lalu. Saat ini sudah diklaim secara sah dan resmi sebagai warisan budaya wastra tradisi Indonesia dan sudah pula diakui oleh UNESCO, kerajaan-kerajaan yang ada di Indonesia, Pemerintah Pusat dan masyarakat Bali. “Kain ini pun sudah dilindungi secara Hak Paten oleh Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly,” kata Anna.
Pembuatan tenun Gringsing, kata Anna, memerlukan waktu 5-15 tahun. Semua ini karena prosesnya yang rumit. Mulai dari pembuatan benang, pewarnaan dengan hanya menggunakan bahan alami, hingga proses penenunan. Bagi masyarakat Bali, kata Anna, tenun Gringsing dianggap bisa sebagai kain penolak bala. “Ini bisa dilihat langsung dari kata Gringsing yang berasal dari kata Gring yang berarti ‘sakit’ dan sing yang berarti ‘tidak’, sehingga bila digabungkan menjadi kata ‘tidak sakit’. Jadi jika mengenakan kain ini, diyakni tidak akan sakit dan bisa bebas dari bala!” kata Anna.
Tenun dengan teknik jenis Gringsing ini pernah dikembangkan di Jepang, India dan beberapa negara lain. “Namun Jepang dan India tidak lagi mengembangkan Grinsing karena proses pembuatannya yang lama dan rumit. Sehingga produk ini punah dan hilang. Satu-satunya yang masih bertahan dan berkembang hanya di Indonesia dan hanya di Desa Tenganan, Bali. Para pengrajin itu melakukannya secara turun temurun,” ungkap Anna.
Secara pribadi Anna Mariana banyak membina pengrajin Grinsing . “Ini sebagai upaya meregenerasi penenun sekaligus membina pengrajin agar produk ini tidak punah.” Umumnya, masyarakat di desa Tenganan, kata Anna memiliki kain Gringsing yang sudah berusia ratusan tahun dan digunakan untuk upacara khusus. “Di Bali, berbagai upacara, seperti upacara potong gigi, pernikahan, dan upacara keagamaan lain, dilakukan dengan bersandar pada kekuatan kain Gringsing!”
Di luar paparan Anna, tampil dua pembicara lain, yakni Enny Sukmato yang memperkenalkan cara mengenakan sarung secara praktis, kemudian Prof Masakatzu Tozu, Director of Asian Textile Culture Institue of the Hollywood Graduate School di Tokyo dan Profesor Emeritus di Universitas Kokushikan Tokyo yang merupakan kolektor kain nusantara dengan koleksi mencapai 5000 jenis, terdiri dari batik, tenun ikat dan songket.
Acara semakin meriah karena ditampilkan pula fashion show dari karya Anna Mariana, Itang Yunaz, Nanie Rachmat, Sjully Darsono dan Runi Palar.
Seusai acara, Duta Besar Arifin Tasrif memperkenalkan Anna Mariana pada rekan-rekan sejawatnya sesama Ambassador. Duta Besar Guatemala Angela Maria Chavez Bietti secara pribadi menyatakan kagum dengan apa yang sudah dirintis Anna Mariana.
“Bagaimana Anda bisa membagi waktu antara menjadi lawyer dan desianer?” katanya memuji. “Saya juga suka mendesain, siapa tahu setelah saya pensiun, saya bisa mengikuti jejak Anda!” katanya.
Sementara itu Prof. Dr. Ing Wardiman Djojonegoro yang hadir di tengah acara mengaku salut dengan apa yang dilakukan Anna selama ini. “Terlebih, …betul Anda tidak berada di bawah instansi pemerintah?” tanya Wardiman masih tidak percaya. Prof Masakatzu Tozu yang juga menjadi pembicara mengaku sangat mendukung upaya dan kreativitas Anna Mariana, termasuk dalam hal mewujudkan lahirnya Hari Tenun dan Songket Nasional.
”Bersama Anna Mariana, saya siap untuk beraudiensi dengan Presiden Joko Widodo. Ini penting guna menyelamatkan aset-aset budaya dan wastra tradisional milik Indonesia yang bagus dan tidak ada duanya di dunia, terutama dalam hal corak dan keunikannya,” ucap Prof Masakatzu Tozu
Kerja kreatif yang baru pertama kali dilakukan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Indonesia Embassy di bawah kepemimpinan Ibu Ratna Mirah Tasrif ini, berlangsung selama dua hari. “Hari pertama untuk undangan khusus. Dan hari kedua kita buka untuk umum!” ujarnya Ratna Arifin Tasrif mengunci percakapan. (*)


