Atambua, Theeast.co.id – Pasca peresmian bendungan Rotiklot yang berada di desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu sebagai salah satu bendungan terbesar Indonesia, Belu kembali akan mendapatkan satu bendungan lagi di Welikis dari hulu sungai Talau yang hampir berbatasan dengan negara Timor Leste. Hal ini diungkapkan oleh Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Dr.Ir Hari Suprayogi, M.Eng dalam sambutannya di acara peresmian pengisian air bendungan Rotiklot, Kamis (13/12/2018). “Ada dua bendungan yang sedang dikaji yaitu bendungan Mbay di kabupaten Nagekeo dan bendungan Welikis di kabupaten Belu. Telah saya minta untuk dipercepat sehingga tahun depan bisa dilakukan tender serta kontraknya dan juga akan dimulai pengerjaan di tahun 2019”, ungkapnya.
Pembangunan infrastruktur Sumber Daya Air merupakan rangkaian kegiatan Kementerian PUPR dalam mendukung program Nawacita yang telah dicanangkan oleh Pemerintah yaitu membangun Indonesia dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan RI untuk meningkatkan produktivitas rakyat. Melalui Ditjen Sumber Daya Air Kementerian PUPR telah mengimplementasikan kebijakan sampai dengan tahun 2019 yang diwuiudkan melalui berbagai program Pembangunan, diantaranya dengan pembangunan 65 bendungan yang terdiri dari 16 bendungan lanjutan dan 49 bendungan baru.
Provinsi Nusa Tenggara Timur yang diakui sebagai provinsi yang memiliki musim kemarau yang panjang sehingga tidak heran saat puncak musim itu masyarakat keluhkan air bersih. Dalam mendukung program pemerintah dimaksud maka sesuai kebutuhan daerah NTT antara lain program pembangunan 7 bendungan baru di provinsi NTT diantaranya Bendungan Raknamo (Kab. Kupang), Rotiklot (Kab. Belu), Napun Gete (Kab. Sikka), Temef (Kab.TTS), Manikin/Tefmo (Kab.Kupang), Welikis (Kab.Belu) dan Mbay/Lambo (Kab.Nagekeo) yang dimana dua bendungan telah selesai dibangun (Bendungan Raknamo dan Rotiklot), dua dalam proses konstruksi (Bendungan Napun Gete dan Temef), Satu Bendungan dalam persiapan pelaksanaan konstruksi (Bendungan Manikin/Tefmo) dan dua lainnya dalam penyelesaian perencanaan teknis (Bendungan Mbay dan Welikis).
Mewakili Menteri PUPR, Dirjen SDA Hari Suprayogi meminta agar pemerintah daerah dapat mengurus segala persoalan lahan dan permasalahan sosial supaya tidak ada kendala dalam pembangunannya dan apabila di daerah lain Nusa Tenggara Timur yang memiliki potensi tampungan air untuk kebutuhan masyarakat luas dapat menyampaikan kepada Balai Sungai agar segera dilakukan kajiannya. “Kami juga berharap agar permasalahan tanah dan permasalahan sosial dapat menjadi fokus pemerintah daerah untuk bisa diselesaikan sehingga penyediaan infrastruktur yang sedang dan akan dibangun dapat berjalan lancar dan tuntas sesuai rencana”, tuturnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh, rencana awal yang akan dibangun yaitu bendungan Kolhua namun ada beberapa alasan, bendungan tersebut tidak jadi dibangun maka pemerintah Belu memperoleh kesempatan untuk menggantikan bendungan tersebut dan Hulu sungai Talau menjadi lokasi strategis yang pemanfaatannya dapat digunakan masyarakat dalam perkotaan dan bagian wilayah Belu Utara.
Dengan adanya bendungan itu bukan tidak mungkin masyarakat Belu tidak akan kesusahan air bersih lagi. (Ronny)


