Sanur,Theeast.co.id – Sejumlah Seniman Memamerkan hasil karya seni dengan karakter dan ciri khas yang kuat. Kreatif dan sarat kritik. Itulah gambaran pameran seni rupa C5 yang digelar di Santrian Gallery Sanur. Karya seni itu disajikan melalui kolaborasi berbagai aliran, penuh kooperasi, dan mampu mengkomunikasikan kepada para penikmat. Kondisi alam yang rusak, budaya yang tergerus, hingga Bali yang menjadi ladang emas dipertanyakan keberadaannya. Bali kedepan yang digambarkan dengan berbagai kekhawatiran.
Pameran kedua merupakan kelanjutan dari pameran di Studio Kalahan Yogyakarta ini menyajikan sebanyak 25 karya seni rupa dari 13 perupa merupakan anggota C5. Mereka terdiri dari 6 prupa dari Yogyakarta, 6 perupa dari Bali dan 1 perupa dari Jakarta. Dalam pameran kali ini mereka menyajikan lukisan dengan ukuran yang berpariatif, diantaranya berukuran 2 Meter X 150 Cm dan ada yang berukuran 40 Cm X 40 Cm.
Para seniman yang mengelar pameran itu, yaitu Agus ‘baqul’ Purnomo, I Nyoman Diwarupa, Galung wiratmaja, I Ketut Agus Murdika, I Ketut Sugantika (Lekung), I Komang Trisno Adi Wirawan, I Wayan Arnata, Ipong Purnama Sidhi, Iqrar Dinata, Laila Tifah, M. Dwi Marianto, Nofria Doni Fitri dan Syahrizal Kotoi. Pameran akan dibuka oleh Yoka Sara, Art and Architecture pada, Jumat 11 Januari 2019 dan berlangsung hingga 28 Pebruari 2018.
Karya lukis yang berjudul Golden Fill karya dari perupa I Ketut Agus Murdika menyajikan karya dengan tema menggkritik alam Bali. Agus Murdika membaca Bali sekarang yang menanyakan apa Bali bisa dikatakan sebagai ladang mas. Hal itu, karena sampah menjadi momok yang sangat mengkhawatirkan. Jika sampah-sampah itu tidak ditangani dengan srerius, apakahg Bali tetap menjadi lading emas.

Lekung mengatakan, C5 ini semacam wadah dimana orang-orangnya tidak harus terikat yang ada di Bali, Yogyakarta dan Jakarta. Masing-masing daerah terdapat satu orang sebagai penanggung jawab, koodinatornya. Jika ada orang yang ingin bergabung dengan dasar konsep yang sama, makan tetap terangkul. “Itulah kami yang selalu kolaboratif yang tak hanya dengan itu itu saja,” kata Lekung dalam jumpa pers di Santrian Gallery, Kamis (10/1).
Perupa yang berpameran ini tidak dari satu aliran, melainkan dengan berbagai aliran sebagai entuk dalam pemberian ruang kepada seniman untuk berkreativitas. Juga untuk memberikan keluwesan karena tak mengkerdilkan seniman. “Kedepan, selain lukisan juga akan menyajikan video art dan seni instalasi pameran kedepannya,” ucapnya.(Pranata /Tim)


