Atambua, Theeast.co.id – Hingga akhir tahun 2018 pembangunan ruas jalan hotmix Sabuk Merah sektor Timur perbatasan negara RI-RDTL di wilayah Timor Barat Kabupaten Belu sejak tahun 2015 lalu mencapai angka kisaran 47%. Ruas jalan yang akan di hotmix ini dilakukan sepanjang 176,19 KM, tetapi hingga akhir 2018 baru mencapai 83 KM. Jalan ini dikerjakan sejak masa kepemimpinan Presiden Jokowi bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla yang mana merupakan program Nawacita membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan.
Pengerjaan jalan dengan total anggaran yang dikuncurkan Pemerintah Pusat mencapai 100 miliar lebih akan dilanjutkan pengerjaan sekitar 41 kilo meter pada Tahun Anggaran 2019. Hal ini diungkapkan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 4.5 Pembangunan Jalan Perbatasan NTT, Rofinus Ngilo kepada wartawan di Atambua, Rabu (09/01/2019).
Menurut Rofinus, program pembangunan jalan Sabuk Merah Sektor Timur Perbatasan RI-RDTL sepanjang 176,19 kilometer ini akan menghubungkan Motaain, Kabupaten Belu dengan Motamasin, Kabupaten Malaka. Jalan yang sudah hotmix sepanjang 83 kilometer sampai dengan akhir tahun 2018. Di tahun 2019 akan dikerjakan lagi sekitar 41 kilometer dan 15 buah jembatan. “Saat ini masih dalam tahap persiapan dokumen dan target sebelum pelaksanaan Pilpres dan Pileg sudah dilakukan tandatangan kontrak”, katanya.
Menurut Rofinus, jalan sabuk merah perbatasan merupakan jalan bangun baru berstandar nasional dengan lebar badan jalan tujuh meter, bahu jalan kiri kanan empat meter. Selain itu, bangunan pelengkapnya seperti drainase permanen, tembok penahan badan jalan, tembok penahan tebing dan juga pagar keselamatan pengguna jalan serta rambu-rambu.
Ditanya mengenai kendala sosial saat pembangunan jalan, Rofinus mengatakan kendala sosial biasa terjadi namun di sisi lain masyarakat sangat mendukung pekerjaan jalan tersebut sehingga semua persoalan dapat diselesaikan dengan baik. Bahkan ada masyarakat yang rela rumahnya dipindahkan untuk keperluan pembangunan jalan. Masyarakat di wilayah perbatasan RI-RDTL sudah menikmati jalan yang bagus. Akses transportasi masyarakat dari desa ke kota atau sebaliknya sudah lancar dan cepat karena jaraknya juga semakin dekat. “Dulu masyarakat dari Lamaknen yang ke Atambua harus taputar jauh dan makan waktu tapi sekarang sudah tidak lagi”, kata Rofinus. (Ronny)


