Atambua, Theeast.co.id – Dewan Pertimbangan Presiden melakukan kunjungan ke kabupaten Belu perbatasan Negara Republik Indonesia dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste dan melakukan temu muka dan dialog di dua Desa yaitu Desa Dirun dan salah satu Desa Perbatasan Negara, Kewar Kecamatan Lamaknen, Sabtu (16/02/2019).
Untuk diketahui bahwa Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) merupakan lembaga Pemerintah non-struktural di Negara Indonesia yang bertugas untuk memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden dalam menjalankan kekuasaan pemerintahan negara. Pemberian nasihat dan pertimbangan tersebut Wajib dilakukan oleh Wantimpres baik diminta ataupun tidak oleh Presiden.
Adapun Rombongan yang mengunjungi wilayah perbatasan Belu diantaranya, Mayjen TNI (Purn) Dr. (H.C.) I. G. K. Manila, S.IP. selaku Sekretaris Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi; Prof. Dr. Kukuh Murtilaksono selaku Staf Ahli Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi; M. Arfan Sahib Sali K., S.E., M.F.M., selaku Kepala Biro Data dan Informasi, Sekretariat Wantimpres; Prof. Dr. Ir. Yusli Wardiatno, M.Sc., selaku Wakil Ketua Tim Kajian Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi; Dr. Amzul Rifin selaku Sekretaris Tim Kajian Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi; Dr. Ir. Witjaksana Darmosarkoro selaku Anggota Tim Kajian Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi; Dr. Ali Mashar selaku Anggota Tim Kajian Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi; Dr. Ir. Ahmad Junaedi, M.Si selaku Anggota Tim Kajian Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi; Dr. Ir. Fredinan Yulianda selalu Anggota Tim Kajian Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi; Aris Munandar, S.IP., M.P.P.M. selaku Kepala Subbagian Perdagangan dan Kerjasama Internasional; Veri Nurhansyah Tragistina, S.I.A. selaku Analis Perekonomian /Staf Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi; Mesi Rosiana selaku Staf Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi; serta Toto Suroto, S.Sos., M.Si selaku Sekretariat Tim Kajian Anggota Wantimpres Bapak Jan Darmadi.
Dalam sambutan di Desa Dirun, kecamatan Lamaknen, kabupaten Belu, Sekertaris Wantimpres Mayor Jenderal (Purn.) Dr. I Gusti Kompyang Manila, S.IP menyampaikan bahwa maksud kedatangan mereka ke Salah Satu Kabupaten Perbatasan Negara Republik Indonesia di Belu adalah ingin melihat, mendengar dan menyerap aspirasi masyarakat Belu serta potensi yang ada di Kabupaten Belu dalam memajukan Bangsa Indonesia dari Daerah Pinggiran berdasarkan Nawacita Presiden Republik Indonesia Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. “Kami kesini untuk melihat, mendengar, menyerap aspirasi serta potensi yang dimiliki kabupaten Belu sehingga bisa disampaikan kepada Presiden,” ungkapnya.
Pria kelahiran Singaraja, Bali, 8 Juli 1942 ini juga mengisahkan bahwa pada tahun 1976 yang lalu saat dirinya berpangkat sebagai Mayor Tentara Nasional Indonesia, prajuritnya ditembaki di daerah Timor-Timur. Hal ini membuat Manila harus berada di hutan selama 13 hari untuk menjalankan tugas tertentu. Dalam tugasnya tersebut persediaan makanan yang disiapkan hanya bertahan selama 5 hari. Akan tetapi di hari-hari lain ternyata dirinya bisa mendapatkan makanan dari masyarakat kabupaten Belu. “Saya merasa terhormat bisa sampai lagi ke tempat ini. Sepanjang perjalanan saya tidak mau tidur saya mau melihat pemandangan yang pernah saya lihat tahun 76,” imbuhnya.
Pria 77 tahun ini juga menyampaikan apresiasi atas penyambutan terhadap dirinya bersama rombongan lain yang dinilai begitu sukacita. Manila berpesan agar masyarakat Kabupaten Belu yang berbatasan langsung dengan Negara Timor Leste harus hidup berdampingan dengan baik sehingga Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap dipertahankan sampai kapanpun. “Terimakasih atas penyambutannya dan kami akan mendengar aspirasi masyarakat Belu untuk disampaikan kepada Presiden. Kita di batas harus hidup berdampingan dengan baik sehingga NKRI Harga Mati,” tegas Manila. (Ronny)


