Simakrama Dengan Para Penjaga Budaya Bali, Jokowi Tegaskan Jika Pemilu Bukan Perang

81

Denpasar, Theeast.co.id – Setelah meresmikan Pasar Badung Bali, Presiden Jokowi bertemu dengan ribuan tokoh Bali di Ruang Terbuka Arda Candra Art Center Denpasar. Ribuan masyarakat Bali tumpah ruah di panggung terbuka tersebut. Mereka terdiri dari para bendesa adat dari 1493 desa adat di Bali, para kepala desa atau perbekel, para seka teruna teruni Bali, para penglinsir, pemangku, tokoh budaya, tokoh agama di Bali. Jumlahnya lebih dari 8 ribu orang. Di tengah guyuran hujan lebat, ribuan warga tidak mundur. Jokowi pun tidak lari dari hujan. Jokowi tetap berpidato sekalipun hujan lebat. Paspampres terpaksa harus membawa payung yang dipegang sendiri oleh mantan Gubernur DKI tersebut.

Dalam arahannya, Jokowi mengaku jika malam ini di Bali, dirinya bertemu dengan para penjaga budaya Bali karena mereka adalah garda terdepan pelestari budaya Bali yakni para bendesa adat. Namun ia berpesan jika saat ini dalam situasi politik, semuanya harus hati-hati. “Jangan sampai hanya urusan politik antar tetangga tidak tegur sapa, antar semeton terputus tali persahabatan yang bisa menyebabkan hilangnya persatuan, kerukunan dan persaudaraan diantara kita.

Baca juga :  Basarnas Perpanjang Gelar Operasi SAR SJ 182, TNI AL Dukung Penuh Menurunkan Unsur KRI dan Penyelam

Tapi saya yakin kalau Bali memegang teguh nilai-nilai menyama braya (nilai gotong royong). Sebuah pengakuan sosial bahwa kita tetap bersaudara yang harus saling bantu membantu, di dalam suka muapun duka,” ujarnya.

Jokowi juga menegaskan, jika Pemilu itu bukan perang melainkan pesta demokrasi. “Yang kedua saya ingin menyampaikan bahwa pemilu itu bukan perang. Pemilu itu adalah pesta demokrasi untuk memilih pemimpin kita yang terbaik.

Karena itu pesta demokrasi harus kita sambut dengan riang gembira. Jangan sampai ada yang menakut-nakuti. Apalagi menebar ancaman-ancaman. Namanya saja pesta demokrasi. Kita harus menyambut pesta demokrasi ini dengan cara-cara beradab, cara-cara beretika, cara-cara yang bertata krama dan berbudaya. Jangan justru menyemburkan hoax dan menyemburkan kabar bohong, dan menyemburkan kabar fitnah yang bisa memecah persatuan, persaudaraan dan kerukunan kita,” tegasnya.

Baca juga :  Panglima TNI : Persatuan Dan Kesatuan Bangsa Wujudkan Indonesia Sejahtera

persatuan, persaudaraan dan kerukunan kita,” tegasnya.

 Di hadapan ribuan masyarakat Bali itu, Jokowi menegaskan optimisme dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Rakyat Indonesia perlu optomis. Jangan membangun kehidupan berbangsa dan bernegara secara pesimis. “Yang ketiga kita semuanya sebagai bangsa besar menatap kedepan dengan penuh optimis. Bangsa ini bangsa besar. Kapalnya kapal besar. Kalau ada persoalan besar, ini tantangan kita semuanya. Untuk menuju ke sebuah negara yang kuat. Kuat ekonominya, diperkirakan kita di tahun 2045 akan menjadi 4 besar negara ekonomi yang terkuat di dunia. Pasti ada tantangannya, pasti ada rintanganya. Itu lah kenapa kita harus bersatu menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada,” ujarnya. Ia menambahkan, apa yang dicapai dari tahun ke tahun, dari pemerintah ke pemerintahan, dari presiden ke presiden, memang harus terus dilanjutkan. Terus dilanjutkan dan kita tidak mungkin mundur lagi, kita ingin maju. Bangsa ini tidak boleh goyah. Pancasila dan NKRI harus terus kita pertahankan.

Saya yakin rakyak Bali dan saudara-saudara kita di daerah lain akan ada di barisan terdepan dalam mempettahankan Pancasila dan NKRI,” ujarnya.

Baca juga :  IMF-WBG 2018 Berkah buat Sektor Perhotelan Bali dan Promosi Buat Indonesia

Secara khusus, Jokowi menggaris bawahi tentang Bali. Menurutnya, masyarakat Bali dan juga masyarakat seluruh Indonesia ingin menjadikan negara ini besar. “Saya yakin rakyat Bali dan saudara kita setanah air ingin Indonesia menjadi negara maju dan negara yang bermartabat dan disegani oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Saya titip kepada bapak dan ibu agar terus menjaga taksu Bali, jiwa Bali, dan spirit Bali. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa Bali dikenal dan dikagumi seluruh dunia karena budayanya. Budaya yang hidup dan berkembang di desa-desa Pakraman. Budaya yang hidup dan masih di praktekan di subak-subak.

Budaya yang hidup dan masih dimajukan di Sekaa Teruna, anak-anak muda di banjar-banjar.

Karena itu kita harus bersyukur karena Krama Bali bisa mempertahankan hal yang penting yaitu budaya Bali,” ujarnya. (Axelle

Facebook Comments