Friday, January 30, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Pertegas Nilai Keberagaman, JK Mencontohkan Orang Bugis Mudah Marah Dan Bali Yang Banyak Liburnya

Denpasar, Theeast.co.id – Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tampil sebagai pembicara dalam acara Dharma Santi Nyepi Nasional di Art Center Denpasar, Sabtu malam (6/4). Dalam arahannya, JK menegaskan jika Bali dengan kepercayaan Hindu mayoritas menjadi tempat dimana agama dan kebudayaannya dijalankan dengan sangat baik. “Bali adalah tempat agama dan budaya ini dijalankan sebaik-baiknya. Daerah yang tidak henti-hentinya didatangi oleh banyak orang. Disini tempat orang menghayati sebaik-sebaiknya,” ujarnya. JK juga berkelakar jika dirinya bisa dipanggil Made Yusuf, nama anak kedua dari keluarga di Bali. Hal ini mempertegas keberagaman Indonesia yang terdiri berbagai agama, suku, bahasa namun tetap kompak menjaga keutuhan NKRI.

Menurut JK, Dharma Santi Nasional ini merupakan satu rangkaian dalam perayaan Nyepi yang sangat dikenal di Bali dan bahkan dunia karena efek sosial dan lingkungannya. “Hari ini adalah hari seremonial yang terakhir. Tentu upaya sosial intelektual dan spiritual serta ritual tentang Nyepi. Ini adalah rentetan akhir dari Hari Raya Nyepi. Maka saya mengucapkan penghargaan kepada saudara-saudara Hindu yang merayakannya,” ujarnya.
Dalam arahannya, JK menegaskan jika Nyepi merupakan moment evaluasi. Bila dihubungkan dengan Pemilu yang sebentar tiba, maka Pemilu pun pada dasarnya adalah evaluasi secara nasional secara keseluruhan, mempunyai makna yang sama dengan hari suci Nyepi. “Kita mengevaluasi mana yang baik dan mana yang buruk. Yang baik dilanjutkan, dan yang buruk harus diubah. Evaluasi selama 5 tahun. Sebagai pemimpin maka dia harus evaluasi. Apabila benar maka dilanjutkan, dan apabila tidak benar atau banyak kekurangan maka harus dievaluasi kembali, diperbarui kembali. Saya yakin masyarakat Bali tahu apa artinya pemimpin yang berhasil dan tidak berhasil. Maka dalam rangka Pemilu saya harap semua harus berpartisipasi. Semua harus berpartisipasi untuk menentukan nasib bangsa ini. Karena ini merupakan penyucian diri sebagai bangsa,” ujarnya.

Menurut JK, sebagai bangsa sudah tentun kita mempunyai tujuan yang sama, yakni menuju masyuarakat yang adil dan makmur. Bangsa ini besar, penduduk 265 juta orang dan terbanyat nomor 4 di dunia. Bangsa yang mempunyai keberagaman. Kalau tidak beragam maka itu bukan Indonesia. Perbedaan itu bukan sumber perpecahan yang bernuansa agama. Perbedaan itu wajar. “Orang Bugis kelihatannya marah. Bali itu banyak liburnya. Tetapi liburnya orang Bali dia tetap bekerja. Karena kalau kita datang saat liburan, mereka akan tetap bekerja, maka orang Bali tidak bisa libur. Coba kalau tidak ada liburan maka Bali tidak seni. Makanya kita datang pada saat libur,” ujarnya.

JK mengatakan, hasil Pemilu itu tidak penting. Yang penting adalah tetap mempunya tujuan yang sama untuk bangsa ini, bagaimana Indonesia aman, bagaimana Indonesia maju, bagaimana pendapatan masyarakat meningkat. Semuanya harus keluar dari kerja sama, bersatu. “Makanya di hari suci Nyepi ini bagaimana kita mengevaluasi diri. Begitu pula dengan agama- agama lainnya di Indonesia. Hampir semua memiliki hari raya dengan maknanya merupakan evaluasi,” ujarnya. (Axelle Dae)

Popular Articles