WAIKABUBAK, Theeast.co.id – Komunitas English Goes to Kampung (EGK), merupakan sebuah komunitas di Kabupaten Sumba Barat yang mendedikasikan diri untuk kemajuan sumber daya manusia yang berada di desa dan daerah pedalaman.
Komunitas yang terdiri dari anak-anak muda yang peduli terhadap perkembangan pendidikan ini berdiri sejak Bulan Juli Tahun 2015 secara mandiri di Lamboya. Saat itu belum terpublikasi seperti sekarang ini.
Alinea ke empat Pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa salah satu tujuan nasional adalah mencerdaskan bangsa. Untuk mencapainya tiada lain melalui pendidikan yang memberdayakan baik secara formal maupun non formal.
Sejalan dengan hal tersebut, Ketua EGK, Asty Kulla menjelaskan bahwa awalnya EGK hanya sebuah nama yang didasari pengalaman pribadi tentang kesulitan untuk memperoleh pendidikan. “Berawal dari prihatin tentang pendidikan di Sumba Barat dan diikuti kata hati berdasarkan pengalaman susahnya mendapatkan pendidikan. Saya berharap hal tersebut tidak terulang lagi pada generasi sekarang. Saat itu tidak pernah berekspektasi untuk hasil yang luar biasa,” katanya.
Asty juga menyampaikan bahwa dalam rangka mendukung kegiatan EGK, saat ini telah terdapat lebih dari 50 orang relawan. Para relawan itu sudah tergabung dalam komunitas dan sudah berkaloborasi dengan beberapa komunitas lainya. Sejak terbentuknya EGK dan sampai saat ini, hasilnya sudah sangat dirasakan anak-anak dalam penguasaan Bahasa Inggris. Selain itu, komunitas EGK juga memiliki kepedulian terhadap pendidikan moral, mental, dan lingkungan hidup seperti peduli sampah dan menjaga kesehatan.
Selanjutnya Asty menjelaskan bahwa selain di Sumba Barat, kegiatan EGK saat ini sudah berlangsung di Sumba Tengah dan Sumba Barat Daya dengan 17 lokasi pelaksanaan kegiatan. Salah satu tempat kegiatan EGK terdapat di Kecamatan Kota Waikabubak yaitu di Kampung Prai Ijing.
Kepala Desa Tebara Kecamatan Kota Waikabubak Kabupaten Sumba Barat, Marthen Ragowino Bira, yang juga salah satu penasehat EGK, mengapresiasi kegiatan EGK karena sangat bermanfaat bagi perkembangan anak dalam menumbuhkan rasa percaya diri berkomunikasi menggunakan Bahasa Inggris.
Menurut salah satu orang tua wali anak yang mengikuti kegiatan EGK di Kampung Prai Ijng, Imelda Weru kegiatan EGK sangat bermanfaat terhadap sikap mental anak dalam berkomunikasi dengan orang lain. Bahkan saat ini anak-anak sudah berani berkomunikasi langsung dengan wisatawan mancanegara. “Sejak mengikuti kegiatan EGK anak saya sangat antusias dalam kegiatan belajar Bahasa Inggris. Bahkan saat ini anak-anak sudah berani berkomunikasi langsung dengan wisatawan mancanegara. Jadi kegiatan EGK sangat bermanfaat terhadap sikap mental anak dalam berkomunikasi dengan orang lain,” katanya.
Menanggapi keberadaan EGK yang semakin berkembang, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumba Barat, Sairo Umbu Awang, SE menyatakan sangat berterima kasih kepada inisiator EGK Asty Kulla dan relawan EGK yang secara ikhlas membantu anak-anak untuk belajar Bahasa Inggris. “Kami berterima kasih kepada Ibu Asty Kulla selaku inisiator EGK dan para relawan EGK yang secara iklhas membantu anak-anak untuk belajar Bahasa Inggris. Karena aktivitas anak setelah jam pelajaran di sekolah selesai sangat bepengaruh tehadap karakter tumbuh kembang anak. Sehingga diharapkan dengan adanya EGK, anak-anak dapat mengembangkan diri secara baik dan benar,” kata Sairo yang ditemui di sela-sela kegiatan Bakti Sosial Jumat, 10 Mei 2019 di Pasar Lama Waikabubak.
Lebih lanjut, Kadis Pendidikan Sumba Barat ini menyatakan bahwa EGK telah berkontribusi dalam mempersiapkan generasi muda yang siap menghadapi tantangan zaman khususnya dalam penguasaan Bahasa Inggris yang merupakan bahasa global.*(Humas Kab. Sumba Barat)


