ATAMBUA, Theeast.co.id – Puluhan tahun tak terhitung lamanya, di Provinsi Nusa Tenggara Timur masih ada Desa di Kabupaten Belu wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL yang belum memiliki akses jalan.
Mirisnya selama ini warga hanya menggunakan jalan ternak untuk jalur transportasi dari dan ke Kampung tersebut. Kampung ini bernama Hanowai dan Akaloan yang letaknya di Desa Debululik, Kecamatan Lamaknen Selatan, Kabupaten Belu.
Bahkan setelah Indonesia merdeka selama 74 Tahun, Kampung ini tak pernah mendapatkan penerangan Listrik. Kondisi demikian, sejumlah Warga kampung tersebut datangi Kantor DPRD Belu pada, Selasa (17/03/2020) untuk mengadukan hal tersebut agar bisa diperhatikan. Hanya saja mereka harus kembali ke kampung mereka tanpa mendapatkan kepastian karena para anggota DPRD Belu sedang keluar daerah.
“Jadi kami atas nama masyarakat Dusun yaitu Dusun Hanowai dan Dusun Akaloan datang untuk mengadu akan akses jalan, listrik dan sekolah,” pungkas salah satu warga, Klemens Bere saat ditemui awak media ini di Taman Kota Atambua, Selasa (17/03/2020).
Disampaikan bahwa kondisi mereka ini bukan saja tidak memiliki jalan pengerasan tetapi pembukaan jalan pun belum pernah dilakukan oleh Pemerintah.
“Jalan ini dari dulu sampai sekarang. Itu jalannya belum buka. Motor saja mau lewat setengah mati apalagi oto,” tutur Klemens.
Menurutnya jalan sangat penting karena selama ini bila ingin menjual hasil-hasil tani maupun ternak hanya bisa dilakukan saat musim panas. Bila musim hujan tiba, mereka harus melewati banjir di sungai untuk pergi dan pulang ke kampung.
Lebih sadisnya, saat ada masyarakat yang membutuhkan perawatan kesehatan ke Puskesmas ataupun Rumah Sakit harus dipikul. Bahkan terkadang ada nyawa yang tak sempat tertolong .
“Jadi jalan ini penting karena kami masyarakat di kedua dusun ini mau jual hasil. Sementara ini pakai ojek saja. Itupun paling pada musim panas baru bisa jalan. Kalau musim hujan begini setengah mati. Dan juga kalau ada orang sakit, kami bawa ke puskesmas atau rumah sakit itu kami pikul apalagi saat ini banjir tambah lagi jalan yang ada sudah putus. Terkadang tidak tertolong,” pintanya.
Selain itu, mewakili dua kampung tersebut, Klemens juga mengeluhkan soal penerangan listrik yang tak pernah dinikmati oleh masyarakat disana. Keseharian mereka di waktu malam hanya menggunakan lampu pelita untuk penerbangan.
“Sampai sekarang juga kami dua dusun belum ada listrik. Kami pakai pelita. Anak-anak belajar juga hanya pakai pelita. Kasian, dusun – dusun lain sudah ada listrik tapi kami masih gelap,” imbuhnya.
Hal terakhir yang mereka inginkan adalah fasilitas pendidikan dimana di kampung tersebut hanya ada SD dan SMP kelas jauh.
“Karena jauh dari sekolah induk, kami miliki kerinduan SMP juga ada di kampung Hanowai,” ucapnya.
Sejumlah warga masyarakat dari dua Kampung terisolir ini berharap agar dengan usaha mereka sampai ke kota khususnya ke DPRD Belu ini bisa di dengar oleh Pemerintah setempat.
“Kami minta paling tidak pemerintah daerah bisa perhatikan kami supaya kami juga bisa diperhatikan seperti yang lain. Kami sudah berusaha sampai dalam kota paling tidak, bisa perhatikan kami,” tutup Klemens diamini sejumlah warga. (Ronny).


