Tuesday, May 19, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Pemudik Masuk Bali akan Diperketat di Perbatasan

DENPASAR, Theeast.co.id – Pemerintah Provinsi Bali akan memperketat pemeriksaan terhadap para pemudik yang nekat melintasi Bali baik yang akan masuk ke Bali maupun yang akan meninggalkan Bali. Hal ini disampaikan oleh Ketua Satgas Penanggulangan Covid19 Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, untuk para pemudik, Bali selalu mengikuti kebijakan pusat. “Saya selalu mengatakan bahwa Bali selalu mengikuti pemerintah pusat. Kalau memang kebijakannya sekarang mengizinkan mudik, maka tentu Pemerintah Provinsi Bali akan menyesuaikan. Kebetulan dihimbau agar para pemudik agar tidak bergerak atau tidak pulang kampung halaman masing-masing. Bali pun akan menyesuaikannya,” ujarnya di Denpasar, Jumat (3/4).

Untuk sementara ini, Bali akan terus membatasi semua pergerakan orang. Jangankan mudik keluar Bali, bergerak di seputar Bali saja akan diperketat. Masyarakat Bali tanpa kecuali harus berdiam dalam rumah. Gubernur Bali sendiri sudah meminta agar pemudik dibatasi secara ketat. “Instruksi gubernur itu adalah pembatasan tapi bukan pelarangan. Kalau memang ada kebijakan baru dari pemerintah pusat untuk mengizinkan mudik, maka tentu kami akan mengantisipasinya dengan baik. Salah satu yang kita lakukan dan yang akan kita perkuat, pasti kita akan melakukan rapid test di Gilimanuk,” ujarnya.

Tetapi patut dipahami bahwa arus mudik bagi Bali dampaknya tidak terlalu besar, karena justru banyak arus keluar. Karena itu kebijakan pemerintah pusat mengizinkan mudik ini dampaknya bagi Bali tidak terlalu signifikan. Bila saat di perbatasan, pemudik tidak sehat, tidak melengkapi diri dengan berbagai dokumen kesehatan maka petugas akan meminta untuk kembali ke daerah asalnya.

Dewa Indra juga menjelasksan terkait spanduk penolakan untuk menerima pekerja migran Bali di suatu daerah oleh oknum di masyarakat di beberapa wilayah tertentu. “Saya menjelaskan kepada masyarakat Bali, bahwa para pekerja kapal pesiar ini adalah anak-anak kita semuanya. Mereka adalah orang-orang yang mencari pekerjaan di luar karena kita tidak menyediakan lapangan kerja yang cukup kepada mereka. Kepada anak-anak kita seandainya saja Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah kabupaten kota bisa menyediakan lapangan kerja yang cukup dengan penghasilan yang cukup, saya yakin anak-anak kita tidak akan pergi sampai bekerja jauh meninggalkan orang tuanya. Mereka orang-orang yang ulet, pekerja tangguh. Mereka disebut oleh pemerintah sebagai pahlawan devisa, mereka juga adalah penopang ekonomi keluarga, mereka adalah orang yang juga mengambil inisiatif untuk menyelamatkan ekonomi masyarakat Bali dengan bekerja diluar. Selama ini mereka dibanggakan oleh keluarganya, oleh para orangtua bahkan oleh orang kampung karena mereka bisa mendapatkan pekerjaan di luar negeri,” ujarnya.

Tetapi hari ini ketika Covid-19 ada sebagian warga masyarakat kita yang kurang menerima dengan baik anak-anak ini. Mereka pulang karena situasi yang tidak memungkinkan mereka untuk bekerja, mereka itu adalah anak yang kehilangan pekerjaannya. Kalau mereka kehilangan pekerjaannya maka bisa dipastikan daya topang mereka kepada keluarga juga hilang. Mereka bukan penyakit, mereka juga bukan pembawa penyakit. Seharusnya masyarakat kita memahami hal itu.

Satgas sangat menyesalkan adanya oknum masyarakat Bali yang kehadiran para pekerja. “Sesungguhnya saya sangat menyesalkan sikap oknum-oknum yang melakukan penolakan kepada anak-anak kita sendiri tetapi saya tidak menyalahkan, saya mengambil posisi bahwa oknum-oknum tersebut belum mendapatkan pemahaman yang baik pemahaman yang utuh tentang Covid-19. Saya tegaskan sesungguhnya tidak perlu pekerja migran ini ditakuti karena hasil tes yang kami lakukan selama ini baik yang dilaksanakan di Bandara Ngurah Rai maupun di tempat karantina hampir semuanya negatif, hanya 12 orang yang positif,” ujarnya.

Karantina itu adalah tempat untuk menampung anak-anak sambil menunggu Tes. Satgas memperlakukan anak-anak itu dengan sebaik-baiknya, jemput di bandara antar ke tempat karantina, berikan fasilitas, lalu berikan tes dan hasil tes yang diberikan untuk dibawa pulang supaya mereka tidak ditolak oleh masyarakat karena tes itu sudah menunjukkan bahwa ia telah negatif.(axelle dae).

Popular Articles