Monday, January 19, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Peringati Hari Kebersihan Menstruasi, Jejaring AMPL Melaksanakan Webinar Sanitasi dan Kebersihan Menstruasi

ATAMBUA, Theeast.co.id – Jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) melaksanakan webinar tentang sanitasi dan kebersihan menstruasi di saat Pandemi melalui aplikasi zoom, Senin (08/06/2020).

Kegiatan ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta yang terdiri dari perwakilan pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, sekolah, kelompok remaja dan masyarakat umum yang berasal wilayah Jawa, DKI, NTB, NTT dan Papua.

Ketua Jejaring AMPL, Laisa Wahanuddin mengatakan bahwa webinar sanitasi dan kebersihan menstruasi dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kebersihan Menstruasi yang diperingati setiap tanggal 28 Mei.

Kegiatan tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran kepada masyarakat terhadap kebersihan sanitasi khususnya terkait menstruasi.

“Menstruasi adalah hal yang normal bagi perempuan yang sudah dewasa. Walau begitu, faktanya masyarakat masih menganggap membicarakan menstruasi itu adalah hal yang tabu. Sulitnya membicarakan kebersihan menstruasi di kalangan masyarakat membuat banyak perempuan tidak bisa mendapatkan akses informasi dan fasilitas yang baik terkait kebersihan menstruasi,” papar Laisa.

Disebutkan bahwa pada lingkungan sekolah, siswa perempuan juga sering mengalami situasi yang tidak menyenangkan pada saat menstruasi. Kurangnya fasilitas toilet yang memadai membuat perempuan mengalami kesulitan pada saat menstruasi di sekolah, sehingga banyak perempuan yang memutuskan untuk pulang ke rumah atau tidak bersekolah sama sekali ketika menstruasi.

Hal tersebut berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Burnett Institute pada tahun 2015 dimana menunjukkan bahwa 1 dari 6 anak perempuan terpaksa tidak masuk sekolah selama satu hari atau lebih pada saat mereka menstruasi.

Adapun penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Plan International Indonesia pada tahun 2018 di Provinsi DKI, NTB dan NTT juga menunjukkan fakta yang mendukung lainnya yakni sebanyak 33% sekolah di Indonesia tidak memiliki toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Studi yang sama juga menunjukkan bahwa 39% siswi mengalami perundungan (bullying) di sekolah ketika mereka sedang menstruasi.

Kegiatan webinar sanitasi dan kebersihan menstruasi ini dibuka paparan Vincent Kiabeda selaku narasumber dari Yayasan Pijar Timur Indonesia.

Pada pemaparannya, Vincent menyampaikan tentang tantangan perempuan yang menstruasi di saat pandemi Covid-19 mengalami tantangan yang cukup berat.

Dijelaskan pada lokasi dimana Yayasan Pijar Timur bekerja yaitu di Kabupaten Malaka dan Belu, selama pandemi ini banyak perempuan yang mengalami stres akibat pemberlakuan kebijakan pembatasan sosial di masyarakat.

Hal ini disebabkan karena perempuan sulit mengakses pembalut karena banyak toko yang tutup.

Akses informasi kesehatan juga sulit didapatkan karena tidak ada petugas kesehatan yang datang ke rumah memberikan penyuluhan tentang kebersihan dan kesehatan.

“Untuk merespon ini, Yayasan Pijar Timur bersama Yayasan Plan International Indonesia melakukan pendampingan kepada masyarakat. Kami melakukan kunjungan rumah dan keliling kampung untuk melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang kebersihan dan kesehatan termasuk menstruasi, salah satunya melalui kampanye cuci tangan pakai sabun,” tandas Vincent Kiabeda.

Kegiatan kunjungan ke rumah ini dimaksudkan agar meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang menjaga kebersihan dan kesehatan termasuk bagaimana melakukan pencegahan terhadap Covid-19.

Diterangkan pula dalam melakukan kampanye di kampung dan proses kampanye bisa menjangkau seluruh masyarakat, pihaknya melibatkan beberapa elemen masyarakat termasuk TNI dan Polri.

Paparan terkait kampanye MKM di situasi darurat juga disampaikan Ketua Tim MKM Lombok Utara, Undar Jiwa Ningsih

Dirinya memaparkan pengalaman pemerintah Kabupaten Lombok Utara bersama Yayasan Plan International Indonesia dalam melakukan kampanye MKM di tengah kondisi kedaruratan gempa Lombok pada tahun 2018.

Kerjasama dengan tokoh kunci di pengungsian adalah salah satu kunci keberhasilan dalam melaksanakan kampanye MKM.

Turut hadir juga dalam pertemuan tersebut, Serafina Bete yang berasal dari Persatuan Tuna Daksa Kristiani (Persani), Provinsi NTT.

Serafina mengatakan bahwa dalam melakukan kampanye kebersihan dan sanitasi harus melibatkan kelompok marginal agar kegiatan yang dilakukan tepat sasaran.

“Kelompok penyandang disabilitas adalah salah satu kelompok yang paling terpinggirkan baik di situasi normal apalagi di saat pandemi. Sering kali kelompok penyandang disabilitas tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan, karena dianggap tidak mampu dan tidak berdaya. Hal ini membuat mereka menjadi semakin terpinggirkan,” pungkasnya.

Serafina berharap masyarakat dan Pemerintah selalu melibatkan kelompok marginal dalam setiap proses pengambilan keputusan di masyarakat agar pembangunan sanitasi bisa terwujud secara inklusif.

Senada dengan Serafina, narasumber dari SLBN Kota Mataram, Rochman Ardiansyah yang merupakan guru pendamping siswa dengan disabilitas, mengungkapkan bahwa pelaksanaan kampanye sanitasi dan MKM harus bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat termasuk anak-anak yang disabilitas.

Ditegaskan bahwa materi kampanye harus disesuaikan dengan karakter audiens yang memiliki keragaman.

SLBN Kota Mataram dan Yayasan Plan International Indonesia saat ini sedang mengembangkan program kampanye sanitasi dan MKM yang bisa diakses oleh anak-anak disabilitas.

Paparan tersebut senada dengan hasil penelitian yang dilakukan SNV pada tahun 2019 yang menunjukkan bahwa kurangnya sarana sanitasi yang baik di sekolah membuat siswi disabilitas mengalami kesulitan pada saat menstruasi.

Narasumber lainnya adalah Lia Nurmala selaku mentor MKM dari Kabupaten Tangerang dimana paparannya membagikan pengalaman tentang pembelajaran pelaksanaan MKM di Tangerang yang dilaksanakan di Sekolah.

Lia mengatakan bahwa mengkampanyekan MKM di sekolah memiliki tantangan tersendiri yakni salah satunya yang terkait kesetaraan gender.

Banyak laki-laki yang merasa malu membicarakan kebersihan menstruasi, padahal soal menstruasi ini juga menyangkut orang-orang yang terdekat seperti ibu atau adik perempuan.

“Perlu dilakukan penyadaran terus-menerus kepada pihak laki-laki sehingga mereka tidak perlu merasa tabu ketika membicarakan menstruasi,” katanya.

Narasumber lain yang berasal dari perwakilan Manggarai Barat, Provinsi NTT, Vinsensiana Jemiun memaparkan pengalaman bagaimana mendorong laki-laki menjadi agent of change terkait MKM di sekolah.

“Hal ini tentu tidak mudah, karena selama ini topik MKM dianggap hanya konsumsi perempuan saja. Namun dengan penyadaran yang terus menerus, akhirnya kami berhasil merubah mindset mereka dan malah saat ini banyak sekali guru laki-laki yang memberikan penyuluhan tentang kebersihan menstruasi kepada anak perempuan di sela-sela pelajaran di sekolah,” ujarnya.

Maria Yasinta Aso dari Kabupaten Manggarai yang merupakan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Manggarai juga berbagi pengalaman tentang kerjasama Dinkes Manggarai dengan SIMAVI dan Yayasan Ayo Indonesia dalam mengimplementasikan MKM di tingkat sekolah dan posyandu.

Dijelaskan kegiatan MKM di Kabupaten Manggarai pertama kali dilakukan pada tahun 2016 melalui kegiatan pelatihan berjenjang.

Hingga saat ini pelaksanan kampanye MKM sudah dilakukan di posyandu, sekolah dan SLB.

Dukungan untuk pelaksanaan MKM pun sudah didapatkan melalui alokasi dana BOS dan BOK.

Dinkes Kabupaten Manggarai juga bersama Yayasan Plan Indonesia terlibat dalam penyusunan modul MKM melalui Project Water for Women.

Sesi sharing pembelajaran MKM diakhiri dengan paparan dari Unicef dan PT.Calmic yang berbagi pengalaman tentang kerja sama Unicef dengan perusahaan swasta PT Calmic dalam melaksanakan kampanye MKM melalui kegiatan-kegiatan seperti distribusi newsletter, seminar, workshop, school visit dan factory visit.

PT Calmic sendiri merupakan perusahan yang mengeluarkan produk-produk sanitary dan hygiene. Pelaksanaan program MKM merupakan salah satu kegiatan CSR yang dilakukan oleh PT.Calmic di Indonesia.

Webinar ini ditutup dengan tanggapan dari beberapa Kementerian yakni Kementerian Kesehatan, Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama yang menyatakan dukungan positif dan apresiasi kepada Jejaring AMPL yang sudah membantu pemerintah dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga sanitasi dan kebersihan menstruasi. Sebab, hal tersebut dinilai sangat penting untuk dilakukan khususnya di masa pandemi Covid-19.

Untuk diketahui jejaring AMPL sendiri merupakan suatu forum komunikasi para praktisi pembangunan yang bekerja di sektor Air Minum, Sanitasi dan Kesehatan Lingkungan.

Jejaring AMPL beranggotakan para praktisi AMPL dari beberapa organisasi seperti Unicef, Yayasan Plan International Indonesia, SIMAVI, SNV, Wahana Visi Indonesia, GIZ, IPLUS-USAID, YPCII dan Speak.

Jejaring AMPL juga memiliki anggota dengan latar belakang akademisi, pemerintah, perusahaan swasta dan media. (Ronny).

Popular Articles