Friday, January 16, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Bali Habiskan 4 Ribu Rapid Test Kit Perhari

DENPASAR, Theeast.co.id – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali Ketut Suarjaya mengatakan, rata-rata perhari di seluruh Bali menghabiskan sekitar 3 ribu sampai 4 ribu rapid test kit. Penggunaan terbanyak berada di beberapa wilayah yang dianggap paling berpotensi seperti di Bondalem Buleleng, Bangli, pasar tradisional dan seluruh pintu masuk Bali. Juga untuk petugas medis dan hasil Contact Tracing yang dilakukan oleh petugas. “Jadi Pemprov Bali mengeluarkan anggaran milliaran rupiah setiap harinya bukan hanya untuk biaya rapid test di Pelabuhan Gilimanuk saja, akan tetapi untuk penanganan Covid-19 secara menyeluruh,” ungkap Suarjaya saat dikonfirmasi Minggu (21/6). Selama masa arus balik, di Pelabuhan Gilimanuk frekuensinya sangat tinggi, paling sedikit 1000 orang per harinya, bahkan bisa sampai 2.000 orang harus dirapid test, khususnya untuk awak kendaraan logistik yang menuju Bali.

Belum lagi, lanjut Suarjaya, petugas secara rutin melaksanakan test di tempat atau desa yang menjadi kluster baru penyebaran Covid-19. “Ambil contoh di Desa Abuan, Bangli atau Bondalem, Buleleng, kita laksanakan rapid test massal, bahkan berlanjut Swab berbasis PCR,” jelasnya. Menurutnya, penjelasan ini juga mempertegas pernyataan Gubernur Bali I Wayan Koster tentang biasa rapid test perhari hingga disebut angka Rp 1,3 miliar perhari.

Menurut Suarjaya, jumlah Rp 1,3 Miliar yang disampaikan Gubernur tersebut merupakan jumlah komulatif dari biaya rapid test yang dilakukan baik di Bandara I Gst Ngurah Rai, Pelabuhan Gilimanuk maupun Pelabuhan Padangbai serta pelaksanaan rapid test di beberapa wilayah akibat terjadinya transmisi lokal.

Selain itu, biaya tersebut juga termasuk pelaksanaan Swab Test dengan metode PCR yang dilaksanakan setiap 2 (dua) hari sekali bagi pasien Covid-19 yang sedang dirawat di berbagai rumah sakit rujukan dan tempat karantina yang disiapkan Pemerintah Provinsi Bali. “Jadi angka Rp 1,3 miliar itu sangat realistis dan relevan. Bahkan, kalau dihitung dengan biaya-biaya lainnya maka bisa jadi melebihi perkiraan tersebut,” ujarnya. Ia juga menyayangkan bahwa pernyataan Gubernur Bali tersebut telah menimbulkan banyak penafsiran dan menimbulkan banyak pro dan kontra.

Saat ini Dinas Kesehatan Provinsi Bali menghabiskan rapid test berkisar 3000-4000 ribu test sehari, baik di pelabuhan, tracing kontak, dan keperluan surveilans lainnya. Adapun besaran biaya rapid test di Faskes swasta saat ini berkisar 400-500 ribu untuk sekali rapid test.

Pemerintah Provinsi Bali selama ini telah menanggung sepenuhnya biaya pelaksanaan rapid test yang dilakukan di pintu masuk Bali Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Padangbai secara gratis bagi awak kendaraan logistik. Ini dilakukan berdasarkan Surat Edaran Nomor : 257/GugasCovid19/VI/2020 tanggal 16 Juni 2020 tentang Penghentian Rapid Test Gratis di Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Padangbai, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Bali tidak akan lagi memberikan pelayanan rapid test gratis untuk awak kendaraan logistik di Pelabuhan Gilimanuk dan Pelabuhan Padangbai yang dimulai pada hari Kamis, 18 Juni 2020 mulai pukul 08.00 WITA. “Sudah seharusnya awak kendaraan logistik wajib membawa surat keterangan rapid test secara mandiri, semua biaya harusnya ditanggung oleh perusahaannya,” ujar Suarjaya.

Selain itu, berdasarkan Surat Edaran No.440/8890/Yankes.Diskes/2020 tanggal 18 Juni 2020, untuk pemeriksaan Rapid Test dan Swab PCR pelaku perjalanan dan keperluan sendiri (mandiri) dapat dipungut biaya sesuai ketentuan tarif di masing-masing Fasilitas Kesehatan. Ketentuan tarif rapid test yang diberlakukan di masing-masing Fasilitas Kesehatan agar menyesuaikan dengan unit cost dengan mengupayakan biaya tidak melebihi Rp. 400.000 sedangkan untuk biaya pemeriksaan Swab PCR agar disesuaikan dengan unit cost dan diupayakan tidak melebihi Rp. 1.800.000.

Suarjaya menjelaskan rincian rata-rata biaya yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Bali untuk melaksanakan rapid test dan swab per harinya. Dikatakannya, antara lain terdiri dari rapid test di Pelabuhan Gilimanuk Rp 200-250 juta, di Pelabuhan Padangbai Rp 50-an juta, rapid test & swab pasien di karantina / rumah sakit dan tempat lainnya mencapai Rp1 miliar sehari. Secara hitung-hitungan matematisnya memang menghabiskan anggaran berkisar Rp 1,3 miliar per harinya. Itu belum dihitung biaya operasional SDM yg harus bekerja sampai 24 jam setiap hari nya. Tidak benar hitung-hitungan sebagaimana dikutip media seolah biaya rapid test Rp 135 ribu, kalau 1.000 orang angkanya jadi Rp 1,3 miliar.(Axelle Dae).

Popular Articles