ATAMBUA, The East Indonesia – Pada masa new normal pandemi covid-19, Community Development (CD) Bethesda Yakkum mengajak Warga Peduli HIV/AIDS (WPA) dengan memberikan pelatihan untuk mengoptimalkan pekarangan berbasis pertanian organik di Kabupaten Belu, wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL, Senin (24/08/2020).
Pelatihan ini berlangsung selama dua hari (24-25/08) dengan melibatkan 20 peserta kader posyandu perwakilan dari 6 Desa dan 2 Kelurahan yang ada di Kabupaten Belu yang telah mendapatkan pelatihan penanggulangan HIV/AIDS dan tergabung dalam kelompok warga peduli HIV/AIDS.
Adapun perwakilan dari 6 Desa dan 2 Kelurahan diantaranya Desa Silawan, Leosama, Fatuketi, Manleten, Tukuneno, Bakustulama, kelurahan Tulamalae dan Umanen.
Materi yang diberikan yaitu pengantar tentang konsep pertanian organik, praktek pembuatan pupuk organik, pembibitan, penanaman dan perawatan serta pembuatan embio.
Para peserta pelatihan ini mendapatkan materi terkait pemanfaatan pekarangan berbasis pertanian organik oleh pemateri Ari Lobo yang telah sukses mengoptimalkan pertanian organik di pekarangan rumahnya di Lakafehan, Desa Dualaus, Kecamatan Kakuluk Mesak.
Dalam materinya Ary Lobo menyampaikan pertanian organik meliputi penggunaan pupuk organik, pestisida organik, dan sistem budidaya ramah lingkungan maka akan menghasilkan pertanian organik absolut.
Terkait penerapan pertanian organik, lanjut Ary, peserta wajib memperhatikan kondisi lingkungan, bahan tanaman, pola tanam, sistem pemupukan dan zat pengatur tumbuh serta pengelolaan organik pengangkutan tananan.
Ary menambahkan lahan pekarangan untuk pertanian organik harus berada di sekitar rumah, dapat memanfaatkan sisa limbah rumah tangga (organik/non-organik), pengelolaannya secara organik, serta memanfaatkan tanaman hias sebagai penghalau hama.
“Pertanian organik tidak harus mahal, karena dapat memanfaatkan bahan yang sederhana dan mudah didapatkan seperti kotoran ternak, sisa makanan, daun/ranting kering, serta bokasih, yang harganya sangat terjangkau namun memberikan hasil yang maksimal untuk konsumsi rumah tangga maupun menambah pendapatan ekonomi keluarga,” pinta Ary.
Usai mendapat materi, para peserta pelatihan melakukan praktek pembuatan pupuk organik.
Sementara itu koordinator wilayah CD Bethesda Yakkum Kabupaten Belu, Yosafat Ician kepada awak media ini pelatihan tersebut merupakan salah satu kegiatan yang masih berkaitan dengan respon covid-19 yang ditujukan kepada kader Warga Peduli HIV/AIDS di Kabupaten Belu.
Kegiatan pelatihan ini dimaksudkan agar para kader ini bisa mempelopori warga sekitar dalam mengoptimalkan pemanfaatan pertanian berbasis organik.
Pihak CD Bathesda Yakkum Kabupaten Belu juga berharap para peserta bisa mendapatkan keterampilan, minimal keterampilan teknis dalam membuat pupuk organik, embio, pembibitan, penanaman sayur-sayuran dan bagaimana memperlakukannya.
“Kami selain menjalankan program utama penanggulangan bencana HIV/AIDS juga kita melakukan respon covid-19. Karenany kami berusaha memberikan pengetahuan bagi kader peduli AIDS agar memanfaatkan pekarangan berbasis pertanian organik,” ungkap Yosafat.
Koordinator CD Bathesda Yakkum Kabupaten Belu ini juga menambahkan bahwa pasca pelatihan yang dilakukan para peserta dapat mempelopori masyarakat lainnya dengan memanfaatkan pekarangan sebagai lahan pertanian yang mudah, murah, serta efisien dalam mendukung ketahanan pangan keluarga sehingga dapat meningkatkan gizi dan imunitas di masa new normal pandemi covid-19.
“Hasil akhir yang kita harapkan mereka sudah dibekali keterampilan teknis dan bisa memulai dengan mempraktekkan di pekarangannya dan mensosialisasikan kepada masyarakat sekitar,” pungkasnya. (Ronny).


