DENPASAR, The East Indonesia – Sebanyak 42 remaja asal Kabupaten Flores Timur, NTT akhirnya berhasil dipulangkan ke kampung halamannya, Kamis (10/9/2020). Puluhan remaja yang diduga korban human traficking ini berhasil dipulangkan oleh Pemkab Flores Timur, setelah diadvokasi oleh Divisi Hukum dan Advokasi Perhimpunan Jurnalis (PENA) NTT yang berdomisili di Bali.
Para remaja asal Flores Timur ini berangkat dari Bandara Ngurah Rai menuju Bandara El Tari Kupang dan keesokan harinya baru diterbangkan dari Kupang menuju Kota Renya Larantuka. Para remaja asal Flores Timur sudah terkatung-katung selama dua tahun di Bali tanpa harapan, karena sebelumnya para remaja tersebut dijanjikan untuk program kuliah sambil magang ke Jepang dan Taiwan sesuai dengan MoU antara para pihak yakni LPK Darma Bali, STIKOM Bali, Pemkab Flores Timur dan Bank BRI Cabang Flores Timur.
Mereka batal berangkat untuk magang di Taiwan dan Jepang. Sejumlah 42 calon peserta magang ini adalah angakatan 2019, sementara 6 calon lainnya masih bertahan di Bali karena telah melaporkan kasus ini ke Polresta Denpasar. “Total peserta yang pulang 42 anak dari angkatan 2019. Sementara 13 anak angkatan tahun 2018 , ada 6 anak tetap bertahan di Bali. Dalam kaitan dengan kelanjutan proses hukum yang suda mereka adukan di Polresta Denpasar,” ungkap perwakilan orang tua Theodorus Wungubelen, Kamis (10/09) di Denpasar.
Pemulangan dilakukan setelah protes orangtua kepada Bupati Flores Timur Antonius Gege Hadjon di Larantuka bulan Juli dan Agustus Lalu. Pasca pertemuan itu perwakilan orangtua ke Bali mengecek kondisi penampungan di Denpasar. Selanjutnya Bupati Flotim memfasilitasi pemulangan. Selain perwakilan orang, puluhan remaja tersebut dijemput oleh beberapa pejabat dari Pemkab Flores Timur di antaranya Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, unsur Dinas Nakertrans dan beberapa unsur lainnya. “Saat ini belum semuanya dipulangkan. Untuk angkatan 2019, masih 3 orang yang memilih tetap bertahan di Bali karena kebetulan mereka sudah mendapatkan pekerjaan dengan usaha sendiri di Bali,” jelas Ruth Wungubelen, salah satu perwakilan orang tua yang dikirim bupati.
Ruth menjelaskan, jumlah calon peserta magang angkatan 2018 sejumlah 52 orang. Namun saat pertemuan dengan calon peserta magang bersama perwakilan orantua dengan LPK Dharma Bali, 7 orang lainnya memilih bertahan di Bali. Menurut Ruth, tidam hanya yang masih berada di Denpasar yang memilih pulang tetapi ada dua peserta Magang di Taiwan juga memilih pulang ke Larantuka. Alasannya, apa yang dialami di Taiwan tidak sesuai dengan yang dijanjikan pihak LPK Darma.
“Satu atas nama Paulus Aprianus Sole itu dari Taiwan juga sudah siap untuk pulang tanggal 22 September ini. Sementara baru pagi tadi, informasi masuk dari Taiwan, ada satu anak yang dalam proses pulang. Kami usahakan agar kepulangan anak dari Taiwan ini dketahui pemerintah agar difasilitasi,” pungkasnya.
Peserta magang dipulangkan melalui Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali tujuan Kupang menggunakan maskapai Lion Air. Selanjutnya rombongan akan lanjut ke Larantuka dengan pesawat Wings Air pada Jumat (11/09) besok.(CV).


