ATAMBUA, The East Indonesia – Dalam rangka mencegah terjadinya penyebaran virus Corona pada lingkungan sekolah di Kabupaten Belu wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL, Yayasan Plan Internasional Indonesia dan Yayasan Pijar Timur Indonesia bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Belu melakukan pertemuan konsultasi draft dan penandatanganan perjanjian kerjasama Water Sanitation and Hygiene (WASH) in school bersama dengan dinas pendidikan, dinas kesehatan, pokja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL) dan bagian hukum di kabupaten Belu.
Rapat koordinasi yang juga melibatkan 15 Kepala sekolah SD, SLB, SMP di Kabupaten Belu sebagai pilot project ini dilakukan di Aula Kantor BP4D Belu, Rabu (16/09/2020).
Adapun 15 sekolah yang menjadi pilot project dalam program tersebut diantaranya SDI Tubaki, SDK Nualain I, SDN Haliwen, SDN Wirasakti, SDK Halibete, SDI Derok, SDI Haliulun, SDK Silala, SDK Nualain II, SDI Lianain, SDN Kinbana, SDK Lafaekfera, SMPN Lasiolat, SMPN Laktutus dan SLBN Tenubot.
Pertemuan ini dibuka oleh Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia pada BP4D Jemy Boy Kotta dan dihadiri beberapa perwakilan dinas terkait.
Direktur Yayasan Pijar Timur Indonesia melalui program koordinator Belu, Gregorius Leu Ape menjelaskan bahwa sebetulnya implementasi project WASH in School di 12 SD, 1 SLB dan 2 SMP di wilayah project Kabupaten Belu, Kemitaraan Yayasan Plan International dengan Yayasan Pijar Timur Indonesai telah dilakukan mulai dari awal Tahun 2020.
Kegiatan WASH in School yang dilakukan di 15 Sekolah Project di Kabupaten Belu meliputi Issue Sanitasi, Air Bersih dan Menstruasi (STBM dan MKM).
Kegiatan yang sudah dilakukan sampai saat ini di 15 Sekolah pilot project adalah:
1. Pembangunan Toilet Inklusif di 15 SD (12 SD, 1 SLBN dan 2 SMP) di wilayah project
2. Workshop Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan Manajemen Kesehatan Menstruasi (MKM) tingkat Sekolah di kabupaten Belu
3. Pelatihan Peer Edukator (Fasilitator Teman Sebaya) bagi anak-anak di 15 Sekolah Project
4. Assessment Issue Air, Sanitasi dan Menstruasi pada Peer Edukator di 15 Sekolah Project
5. Support APD Masker, Sabun Cair dan Hand Sanitizer bagi anak-anak Peer Edukatior dan Guru Pendamping di 15 Sekolah Project.
Pria yang akrab disapa Goris ini menerangkan bahwa ternyata dalam perjalanan kegiatan WASH in School di 15 sekolah Pilot Project, mengalami kendala karena pada Bulan April 2020 semua Sekolah diliburkan dan proses kegiatan belajar mengajar dilakukan di rumah akibat pandemi covid-19.
Berjalannya waktu, pandemi covid-19 memasuki era new normal dan dalam rangka mempersiapkan kegiatan belajar mengajar di sekolah perlu disiapkan sarana dan prasarana STBM khususnya Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) serta penerapan protokol covid-19 di lingkungan sekolah masing-masing serta media promosi kesehatan terkait dengan STBM di Sekolah.
Sementara itu terkait dengan pelibatan semua lintas sector khususnya Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan, Gregorius Leu Ape menyebutkan bahwa hal tersebut dimaksudkan agar adanya pedoman pelaksanaan WASH in School di Sekolah sehingga dapat meciptakan WASH in School yang baik dan berkualitas serta mencegah terjadinya penyebaran virus Corona kepada anak-anak di sekolah.
“Itu juga untuk efesiensi dan efektifitas pelaksanaan Wash In School di sekolah perlu pelibatan unsur kesehatan lebih khusus Puskesmas yang berada di wilayah sekolah tersebut untuk menjalin proses kerja
bersama dengan sekolah serta unsur lintas sektor lainnya,” pungkasnya.
Goris Leu Ape juga menjelaskan bahwa untuk mencapai pemahaman yang sama antara lintas sector ditingkat Kabupaten, Yayasan Pijar Timur Indonesia kemitraaan dengan Yayasan Plan International Indonesia bekerjasama dengan Pokja AMPL/STBM Tingkat Kabupaten Belu akan melakukan pertemuan korodinasi dengan Dinas
Kesehatan dan Dinas Pendidikan untuk mendesign pelaksanaan WASH in School di Sekolah di new normal covid-19.
Sementara itu, Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia pada BP4D, Jemy Boy Kotta sangat mengapresiasi kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan Plan Internasional Indonesia dan Yayasan Pijar Timur Indonesia ini karena sudah berinisiatif membangun kemitraan guna mencegah terjadinya penyebaran virus Corona di lingkungan sekolah yang ada di kabupaten khususnya 15 sekolah yang menjadi pilot project.
“Inisiatif dari Pijar Timur dan Plan Internasional ini bagus. Untuk itu kita sangat mengapresiasi dimana sesuai SK Bupati bahwa tanggal 22 September 2020,” tuturnya.
Hal ini pun merupakan tantangan tersendiri bagi pihak pemerintah Daerah Kabupaten Belu untuk bisa melakukan tindakan-tindakan pencegahan penyebaran covid-19 di lingkungan Sekolah. (Ronny)


