JAKARTA, The East Indonesia – Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI) terus berupaya agar Pusat Listrik Tenaga Surya yang rencananya dibangun di Sumba agar segera terwujud.
Kesimpulan pembahasan webinar bertajuk Koridor Interkoneksi Gigawatt Sumba-Jawa yang diadakan pada Kamis, (08/10) oleh Prakarsa Jaringan Cerdas Indonesia (PJCI), PT PLN (Persero), UGM, dan ITB menegaskan impian untuk melistriki Indonesia dari energi surya sekaligus menggenjot perekonomian lokal dan menjadikan Indonesia sebagai pemimpin di kancah energi terbarukan dunia bukanlah hal yang mustahil dengan Sumba Solar Supergrid.
Webinar ini diadakan khusus membahas tentang rencana interkoneksi Sumba yang memiliki potensi pembangkit listrik tenaga surya, dengan Jawa yang menjadi pusat beban terbesar di Indonesia saat ini.
Sumba Solar Supergrid diharapkan menjadi solusi untuk menambahkan pasokan listrik bersih dan terbarukan di pusat-pusat beban di Indonesia, sekaligus mengalirkan listrik ke wilayah-wilayah yang dapat tumbuh pesat sebagai pusat perekonomian dan menjadi pusat-pusat beban baru, ungkap pembicara kunci webinar ini, Eddie Widiono, yang juga Pendiri dan Ketua Dewan Pembina PJCI.
“Acara ini diharapkan dapat membuka cakrawala teknologi interkoneksi yang berkembang pesat dan mungkin akan kita hadapi dalam waktu dekat agar kita dapat menjatuhkan pilihan yang paling tepat bagi kepentingan Indonesia,” ujar Eddie Widiono pada pembukaan webinar yang diikuti oleh lebih dari 250 peserta dari berbagai latar belakang termasuk PT PLN dan industri ketenagalistrikan Indonesia.
Acara ini juga menghadirkan 4 pakar dan praktisi kelas dunia sebagai pembicara, yaitu: Dr. Roni Irnawan, Dr. Ferry Viawan, Prof. Pekik A. Dahono dan Djoko R. Abumanan.
Sementara Ketua Dewan Pakar PJCI dan tokoh energi nasional, Dr. Tumiran, menjadi penanggap pada acara ini. Acara ini dimoderatori oleh Ricky Cahya Andrian, Ketua Masyarakat Energi Cerdas Indonesia (MECI) dan Adhityani Putri, Sekretaris Jenderal MECI.
Dr Roni Irnawan membahas tentang teknologi transmisi dengan tegangan tinggi arus searah (HVDC). Teknologi ini merupakan salah satu pilihan teknologi yang dapat digunakan untuk membangun koridor transmisi tenaga listrik jarak jauh. Selain tentang prinsip kerja HVDC, contoh penggunaan HVDC di Eropa dipaparkan sebagai gambaran penerapannya di Indonesia.
Sementara itu pembicara kedua, Dr Ferry Viawan membahas koneksi pembangkit renewable berskala besar ke jaringan yang berjarak jauh. Beliau akan membahas kapan koridor transmisi HVAC dan HVDC dibutuhkan secara teknis dan ekonomis. Pembahasan dilanjutkan dengan contoh-contoh kasus di Australia dan analisa singkat Sumba -Jawa Bali koridor transmisi.
Pembicara ketiga, Professor Pekik Dahono membahas Tol Listrik. Beliau menguraikan konsep itu tol listrik serta manfaat gagasan pengembangan infrastruktur di era energi terbarukan sekaligus sarana mewujudkan Nusa Tenggara Timur sebagai lumbung energi terbarukan Nusantara.
Dan Pembicara keempat, Djoko R. Abumanan menguraikan konsep anjungan laut sebagai penunjang tol listrik dalam suatu kawasan dengan karakteristik kepulauan seperti Indonesia. Beliau menyentuh evolusi pendekatan teknis ini, berikut dengan rangkaian manfaat serta estimasi nilai keekonomiannya bagi Indonesia.
Rancangan dasar Sumba Solar Supergrid ini telah disampaikan oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Laiskodat kepada Presiden Joko Widodo pada tanggal 1 Oktober 2020 saat Presiden mengunjungi Labuan Bajo. Gubernur NTT menyatakan dukungan penuhnya terhadap upaya untuk wujudkan Sumba sebagai pusat energi tenaga surya Indonesia, mengingat potensi matahari Sumba yang baik dan rencana pengembangan kawasan NTT sebagai kawasan pariwisata premium.
Webinar ini menunjukkan bahwa suatu koridor interkoneksi merupakan proyek yang dapat diwujudkan dari sisi teknologi dan keekonomian. Mengingat manfaatnya bagi transisi energi, konsep Sumba Solar Supergrid patut memperoleh dukungan lebih lanjut agar aspirasi Sumba untuk beri sumbangsih bagi Indonesia dapat segera terwujud.***
Editor – Igo Kleden


