ATAMBUA, The East Indonesia – Saat ini, UGD RSUD Atambua yang menjadi Rumah Sakit Rujukan Covid-19 ditutup sementara waktu lantaran banyaknya pasien Covid-19 yang dirujuk ke RSUD Atambua. Selain itu, banyak pegawai RSUD Atambua yang didiagnosa positif Covid-19.
Menyikapi hal tersebut, Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Belu malah tak mengambil sikap apapun. Lebih parahnya lagi, Tim Gugus Tugas bahkan tidak merilis data Covid-19 di Kabupaten Belu.
Terakhir kali dirilis pada tanggal 6 Januari 2021 yang mana hanya dua orang penderita Covid-19. Padahal, di saat yang sama, ruang isolasi Covid-19 RSUD Atambau penuh. Ditambah, Ruang UGD RSUD Atambua terpaksa ditutup sementara waktu karena ada 11 Pasien Covid-19 yang dirujuk dari RS Sito Husada.
Masyarakat Belu yang ingin tahu akan jumlah pasien Covid-19 pun terpaksa harus menguburkan rasa ingin tahu mereka lantaran Tim Gugus Tugas Covid-19 Belu tak lagi menyampaikan informasi soal jumlah pasien Covid-19.
Tim Gugus Tugas Covid-19 Belu baru kembali menyampaikan data soal jumlah pasien Covid-19 pada, Jumat (15/01/2021) sekitar pukul 20.03 Wita melalui Jubir Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Belu, Cristoforus M. Loe Mau, SE.
Melihat sikap apatis Pemerintah Belu dalam menyikapi persoalan Pandemi Covid-19 di Belu, sekelompok masyarakat yang tergabung dalam Komunitas Halo Belu melakukan aksi protes dengan mendoakan Tim Gugus Tugas Covid-19 yang dinggap telah mati.
Beberapa warga yang tergabung dalam “Komunitas Halo Belu” pun melakukan aksi turun ke jalan, Sabtu (16/01/2021) untuk mendoakan kematian Gugus Tugas Covid -19 di Kabupaten Belu yang diketuai oleh Bupati Belu, Willybrodus Lay.
Kelima orang yang turun melakukan aksi menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dengan membawa sebuah Peti Mati sebagai lambang kematian Gugus Tugas Covid-19 di Kabupaten Belu. Beberapa orang lain memegang beberapa spanduk yang bertuliskan: “Matinya Gugus Tugas Covid Belu”, “RIP Nurani Humanis”, dan “Kami Berduka”.
Aksi itu diiringi lagu “Semoga Arwah Umatmu ya Tuhan” ciptaan Alm. Alosius Neno. Sebuah lagu yang biasanya dinyanyikan dalam perayaan Ekaristi Requiem (kematian) umat nasrani.
Tulisan-tulisan tersebut merupakan aksi protes terhadap sikap apatisme dari Tim Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Belu dalam menyikapi Pandemi Covid-19 di Kabupaten Belu yang kian menggila.
Aksi itu diakhiri dengan bakar lilin pada Peti Mati Tim Gugus Tugas Covid-19 sebagai tanda doa akan kematian Tim Gugus Tugas.
Penanggung jawab aksi, Ivon Sulaiman yang ditemui awak media usai aksi menuturkan bahwa aksi yang dilakukan oleh komunitas Halo Belu sebagai bentuk kritik terhadap pemda Belu dan Tim Gugus Tugas Covid-19 Belu yang apatis dengan korban Covid-19.
“Kami hari ini ada karena Tim Gugus Covid-19 Belu sama sekali tidak terlihat ada tindakan terhadap jatuhnya korban Covid-19,” tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan bahwa begitu banyak pasien isolasi mandiri yang tidak mendapat penanganan secara profesional oleh Tim Gugus Tugas Covid-19.
Selain itu, banyak tenaga kesehatan yang sudah terkonfirmasi Covid-19. Bahkan, menurut informasi, ada tenaga kesehatan yang hari ini mengalami kritis akibat Covid-19.
Karena itu, Komunitas Halo Belu menuntut Pemda Belu bersama Tim Gugus Tugas Covid-19 Belu untuk segera melakukan penanganan secara masiv dan maksimal.
“Begitu banyak pasien isolasi mandiri yang tidak ada penanganan secara profesional. Kita juga tahu teman-teman Nakes banyak yang sudah berjatuhan dan hari ini ada yang kritis lagi. Kita menuntut agar segera terjadi penanganan. Kami hanya sekadar melakukan aksi agar pemerintah dan gugus Covid-19 lebih aktif,” tuturnya.
Aksi Komunitas Halo Belu hari ini memiliki lima tuntutan kepada Tim Gugus Tugas Covid-19 Belu yang diketuai oleh Bupati Belu, Willy Lay. Kelima tuntutan itu antara lain:
1. Mendesak Gugus Tugas Covid-19 di Kabupaten Belu untuk menjalankan fungsi dan tugasnya selama masa pandemi Covid-19.
2. Mendesak Pemda Belu untuk mengaktifkan fasilitas kesehatan di Kabupaten Belu.
3. Mendesak Pemda Belu untuk menyediakan tempat karantina khusus bagi pasien yang terkonfirmasi Covid-19.
4. Mendesak Pemda Belu untuk menyediakan APD bagi tenaga kesehatan yang terlibat di garda depan penanganan Covid-19.
5. Mendesak Pemda Belu untuk segera menindaklanjuti surat dari Pemprov NTT tentang penyediaan dan pelaksanaan Rapid Antigen oleh Pemda Belu ditetapkan dengan menggunakan APBD.
Untuk diketahui, Komunitas Halo Belu sendiri tidak hanya sekedar mengkritisi tindakan pemerintah. Menurut Ivon, Komunitas Halo Belu yang baru akan dideklarasikan pada Senin (18/01/2021) nanti hadir untuk kemanusiaan. Melihat kondisi Pandemi Covid-19 yang makin menjadi-jadi di Kabupaten Belu, maka Halo Belu akan fokus pada persoalan Covid-19. Mulai dari sosialisasi hingga pemberian obat, konseling, dan memberikan kebutuhan kepada mereka yang sedang isolasi mandiri.
“Komunitas Halo Belu hadir untuk kemanusiaan. Kali ini kami fokus pada penanganan Covid-19. Mulai dari sosialisasi hingga pemberian obat, konseling, dan memberikan kebutuhan kepada mereka yang sedang isolasi mandiri. Kami melayani sampai seperti itu,” tuturnya. (Ronny).


