Wednesday, April 22, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Cinta Sejati Yang Menyelamatkan

ATAMBUA, The East Indonesia – Uskup Atambua Mgr. Dominikus Saku, Pr memimpin Perayaan kedua Penyembahan Salib pada pukul 15.00 wita saat Perayaan Jumat Agung di Gereja Katedral Sta. Maria Immaculata Atambua (Jumat,2/4). Dalam perayaan yang penuh khidmat itu  Mgr. Domi didampingi Rm. Kristianus Falo, Pr.

Usai pembacaan Kisah Sengsara Yesus, Uskup Domi mengajak umat katolik yang hadir merenungkan tentang Kristus sebagai hamba Allah, Yahwe yang menderita, dan penghormatan kepada Kristus yang tersalib, serta penerimaan komuni kudus sebagai buah dari penyaliban Tuhan.

Kristus sebagai korban cinta kasih Allah dalam kerangka penyelamatan umat manusia. Kristus sungguh taat pada rencana penyelamatan ilahi.

Uskup Domi menguraikan, semua tuduhan padanya tidak terbukti. Penyaliban diriNya bukan karena kesalahan, melainkan karena ketaatan pada kehendak BapaNya.

Yesus wafat karena cinta kasih. Allah sangat mencintai dunia sehingga tidak segan-segan menyerahkan Putera tunggalNya demi keselamatan umat manusia.

“Agar kita memperoleh kehidupan yang kekal. Itulah alasan mendasar,” tegas sang Uskup.

Maka uskup juga mengajak umat gembalaannya, agar memohon kekuatan Kristus dan menjadikannya kekuatan diri dalam hidup setiap hari.

Dengan kekuatan Kristus kita berani menghadapi segala tantangan dalam hidup seharian, dan mengatasinya dengan cinta sejati seperti yang diteladankan Kristus sendiri bagi pengikutNya.

“Hanya dengan cinta sejati kita membawa kontribusi besar bagi keselamatan kita dan dunia,” tandas Uskup mengakhiri renungan singkatnya.

Seperti kita ketahui Hari Jumat Agung dirayakan oleh seluruh gereja Katolik di seluruh dunia tidak terkecuali di Gereja Katedral Sta. Maria Immaculata Atambua.

Walau latar belakang altar sudi berwarna merah, namun suasana hening menjadi perhatian tersendiri di Gereja Katedral Atambua. Pemandangan tiap tahun, jumlah umat yang memenuhi gereja dan halaman sekitar biasanya lebih banyak pada Jumat Agung dibanding hari-hari lainnya.

Karena selain mengikuti Kisah Sengsara Yesus, ada juga perayaan penyembahan dan pengucupan Salib Kristus.

Umat duduk dengan tenang. Begitu pula mereka yang tidak kebagian kursi, berdiri di halaman depan dan samping kiri-kanan gereja.

Semua khusuk dalam doa pribadi, sambil menanti upacara penyembahan salib dimulai. Dengan protocol Covid 19 sebagian dari upacara rutin tahunan itu ditiadakan. Namun jumlah umat tetap padat baik di dalam maupun di luar Gereja Katedral Sta. Maria Immaculata Atambua.

Tahun ini yang tidak dilaksanakan adalah pengucupan salib. Padahal acara satu ini biasanya lebih lama dari penerimaan komuni suci, sebab tidak dibatasi usia. Semua yang sudah dibaptis mendapat kesempatan mencium luka-luka bekas paku dan tombak pada Corpus Kristus di salib yang disiapkan.***

Penulis – Eustachius Mali

 

 

Popular Articles