Wiwanda Agro, Budidayakan Strawberry Sachinoka

18
STRAWBERY. Wiwanda Agro, Budidayakan Strawberry Sachinoka. Foto : Tim

SINGARAJA, The East Indonesia – Sebagai salah satu pelaku agrowisata petik strawberry di Desa Pancasari, Kabupaten Buleleng. Wiwanda Agro menawarkan varietas strawberry yang berbeda dari tempat agrowisata yang lainnya yakni Strawberry Sochinoka atau Strawberry Jepang. Ditemui pada Jumat (4/6) pemilik Wiwanda Agro Gede Adi Mustika mengungkapkan dirinya sudah 7 tahun melakukan budidaya strawberry Sochinoka.

Mengawali dari 4 pohon strawberry yang Ia dapatkan dari seorang tamu dari Jepang, kini dirinya telah berhasil membudidayakannya hingga 4500 pohon. Ia mengatakan, strawberry Sochinoka ini merupakan jenis yang istimewa, diburu oleh para pecinta strawberry di seluruh dunia. Karena terkenal sebagai strawberry dengan rasa yang paling manis.

Bahkan, Ia mengaku hanya dirinya yang mengembangkan strawberry ini di Indonesia, strawberry Sochinoka Wiwanda Agro booming di Indonesia dikenal dengan sebutan strawberry Bali. Disinggung dari segi perawatan, Adi mengatakan tidak jauh berbeda dengan strawberry jenis lainnya. Namun, disarankan untuk melakukan perawatan strawberry ini pada Green House atau rumah kaca, hal itu guna menghindari hujan lebat atau angin kencang. “Karena tangkainya panjang, batangnya agak rapuh, sedikit senggol saja patah,” imbuhnya.

Baca juga :  Bantu Petani hingga UMKM Lokal, Inspektorat Provinsi Bali Turut Gelar Pasar Gotong Royong

Adi menambahkan, pihaknya juga merupakan satu-satunya pembudidaya strawberry yang menggunakan media tanam hidroponik. Keunggulannya adalah, kebun menjadi tidak kotor karena tidak menggunakan tanah. “Makanya pada setiap orang-orang yang berkunjung ke sini, kami berikan edukasi bahwa jadi petani itu nggak harus kotor,” jelasnya

Pesan tersebut Adi sampaikan kepada para pengunjung khususnya anak-anak dengan tujuan memberikan pemahaman kepada mereka bahwa menjadi petani juga bisa menyenangkan. Selama masa pandemi Covid-19 ini, agrowisata miliknya dan sekitarnya tidak luput dari dampak akibat ditutupnya arus wisatawan. Namun, pihaknya tetap berupaya untuk mempertahankan harga baik tiket masuk agrowisata maupun penjualan stroberi per kilonya. Selain itu, Ia juga bisa menutup biaya operasional melalui penjualan bibit yang menjangkau seluruh peminat budidaya stroberi di Indonesia.

Baca juga :  Kunjungan Presiden IMF Memperkuat Pemerintah Indonesia Perangi Sampah Plastik

Adi berharap semoga para pelaku agrowisata strawberry dapat bertahan meski di tengah pandemi, namun juga menjaga kualitas dengan baik agar tetap diminati masyarakat luas. Dan juga kepada pemerintah dan seluruh stakeholder terkait diharapkan untuk mewujudkan standarisasi baik dari segi budidayanya maupin dari segi pariwisatanya.(Wismaya).

Facebook Comments