DENPASAR, The East Indonesia – Ketua Dekrasnada Provinsi Bali Nyonya Putri Suastini Koster menegaskan, generasi muda Bali perlu belajar dengan keras tentang melestarikan, mendesain, mewarnai dan menenun kain tradisional Bali atau endek. Hal ini disampaikan Putri Koster saat tampil sebagai pembicara kunci dalam Workshop bertajuk “Kreatifitas Mendesain Endek Bali dengan Teknik Digital dan Harmoni Pewarnaan” yang digelar dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun Kelahiran Bung Karno di Kantor DPD PDIP Provinsi Bali, Minggu (6/6/2021).
Menurutnya, generasi muda Bali perlu belajar untuk mendesain, mewarnai dan menenun endek Bali. Sebab tanpa belajar saat ini maka suatu saat Endek Bali tidak bisa menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. “Jangan sampai Endek Bali terjajah di negerinya sendiri. Karena kita salah mengarahkan diri, tidak menanamkan tanggungjawab dalam diri generasi muda Bali bagaimana tata cara melestarikanya, sampai saat ini sesungguhnya, songket, Endek, itu sesungguhnya sedang terjajah di tanah kelahirannya sendiri. Itu yang terjadi. Kita harus memiliki sistem dan pola yang tepat, harus kembali pada koridor untuk menjaga dan merawatnya. Itulah renegenerasi,” ujarnya.
Orang Bali biasanya menggunakan kain Endek Bali yang berkualitas. Untuk mencapai produk yang berkualitas tersebut maka perlu desain berlandaskan filosofi kebudayaan Bali, mewarnai, yang juga berlandaskan akar dan budaya Bali dan menenunnya. Generasi muda Bali harus mampu melakukan itu. Pewarnaan itu akan menjadi keahlian dari kelebihan semua yang ada di Bali yang terbiasa memakai kain yang berkualitas. Anak muda Bali harus mampu melakukan hal tersebut, karena motif-motif teknik pembuatan harus mengikuti perkembangan teknologi saat ini.
“Kita adalah seniman yang enterpreneur-nya masih terlalu nanggung. Perlu ada keseimbang antara idealisme dan bisnis ketika seorang seniman, seorang pengrajin membuat kain beribu-ribu meter, ketika mereka kewalahan mereka tidak berusaha untuk mengajak teman yang lain. Alasannya klasik, yakni tidak mau ambil risiko soal kualitas dan sebagainya,” ujarnya.
Wanita yang juga seniman Bali tersebut dengan tegas mengatakan, orang Bali itu harus bisa melindungi produk yang berasal dari akar budayanya. Ende Bali harus menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Bila tidak maka Endek Bali akan diproduksi di Jepara. Namanya Endek Bali tetapi diproduksi di Jepara. Bila diproduksi di Jepara maka akar budayanya terancam, tenaga kerja, perputaran uang sama sekali tidak dinikmati oleh orang Bali. Kondisi ini perlu dikomunikasikan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan agar UKM Bali tidak perlu menerima pesanan kain Endek dari luar Bali. Usaha-usaha tenun yang punya workshop yang luas,, yang merawat para perajin masih menenun, masih kreatif, agar kain tenun tradisional Bali menjadi raja dan ratu di rumahnya sendiri, dipakai oleh masyarakatnya sendiri. Setelah dikuatkan di negerinya sendiri maka tahap berikutnya harus melebar ke luar Bali.
Penulis|Axelle Dhae|Editor|Christovao


