SINGARAJA, The East Indonesia – Penanganan Covid-19 Kabupaten Buleleng akan menambah tempat Isolasi Terpusat (Isoter) di Buleleng. Rencananya SMA dan SMK Bali Mandara akan kembali digunakan. Mengingat proses Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) di Buleleng ditiadakan sementara. “Kami akan mengirim surat lagi ke Provinsi untuk bisa menggunakan SMA dan SMK Bali Mandara untuk bisa digunakan Isoter kembali. Mengingat juga PTMT ditiadakan sementara sehingga asramanya juga kosong,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) yang juga selaku Sekretaris Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Buleleng.
Gede Suyasa, saat ditemui usai memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Covid-19 di Buleleng, digelar di ruang rapat Lobi kantor Bupati Buleleng, Jumat (4/2). Terkait dengan Isoter, dengan melihat penambahan kasus terkonfirmasi Covid-19 saat ini sangat cepat, tidak menutup kemungkinan dalam minggu kedepan Isoter bisa penuh. Sehingga nanti akan dilakukan penambahan tempat dan jumlah kasur sebagai upaya antisipasi.
“Tim Satgas sedang berkoordinasi dengan Rektor Undiksha, untuk sekiranya juga bisa memberikan tambahan bantuan tempat Isoter yakni gedung B yang letaknya di sebelah gedung C Undiksha Singaraja di Desa Jinengdalem yang saat ini digunakan sebagai lokasi Isoter,” jelas Suyasa. Selain itu, para Camat juga didorong untuk berkoordinasi dengan perangkat desa dan kelurahan untuk kembali menjalankan Isoter Desa. Namun yang akan menempati Isoter Desa sedapat mungkin mereka yang posisinya Orang Tanpa Gejala (OTG).
Jadi yang bersangkutan jika tanpa gejala bisa ditempatkan di Isoter Desa, sehingga tidak memiliki resiko tinggi. Lainnya supaya bisa dikirim ke Isoter Kabupaten dan Rumah Sakit jika bergejala sedang berat. “Isoter di desa kita dorong supaya ada pembagian. Karena dana desa juga sebagian besar harus digunakan untuk penanggulangan Covid-19.
Makannya Isoter Desa juga selektif, jangan yang bergejala berat di Isoter desa. Isoter desa untuk yang tidak bergejala tapi hasil PCR nya positif. Kita ingin membatasi gerak atau aktivitasnya supaya tidak menularkan ke yang lain. Misalnya yang punya orang tua dengan komorbid, kan rentan kalau berinteraksi dengan yang OTG di dalam rumah,” jelas Suyasa.(Wismaya)


