Saturday, April 11, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Usman Kansong Minta Etos Budaya Maritim Indonesia harus Diperkuat Lagi

DENPASAR, The East Indonesia – Dirjen Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informasi Usman Kansong meminta agar generasi muda Indonesia memperkuat dan mempertegas etos budaya maritim yang merupakan warisan budaya yang adiluhung yang dimiliki Indonesia. Hal ini disampaikan Usman Kansong saat tampil dalam orasi budaya di hadapan kurang lebih 300 anggota Forum Komunikasi Tite Hena di Sanur Bali, Minggu (27/2/2022) malam.

Menurut Usman, Indonesia ini wilayah lautnya melebihi daratan. Perlu ada penegasan bahwa laut itu bukan memisahkan wilayah Nusantara ini tetapi malah sebaliknya sebagai pemersatu. “Untuk itu perlu ada penguatan etos budaya maritim Indonesia bagi seluruh generasi muda. Sebab penguatan etos budaya maritim akan berdampak pada solidaritas, toleransi, terbuka, egaliter dengan identitas yang kuat. Penguatan identitas pada level ini sangat positif bagi generasi bangsa,” ujarnya.

Menurut Usman, sejak kecil generasi muda harus diajarkan bahwa laut itu mempersatukan bukan memisahkan. Bila hal ini tertanam dengan baik maka akan lahir penguatan identitas secara baik dan benar dan berdampak positif. Bila etos budaya maritim tidak diperkuat maka akan terjadi penguatan identitas secara negatif. Hal ini bisa dipahami karena Indonesia ada suatu masa yang menuntut unitas sekaligus menghilangkan keberagaman.

“Ini sudah melawan hukum alam di Indonesia dengan budaya maritimnya yang kuat. Hukum alam kalau dilawan maka akan terjadi kehancuran. Seharusnya kebhinekaan, keberagaman itu hukum alam di Indonesia. Jangan melawan itu. Melawan keberagaman sama dengan melawan hukum alam dan akan berakhir dengan kehancuran,” ujarnya.

FOTO : Dirjen Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informasi Usman Kansong(Foto : Christovao)

Apa yang terjadi selama ini adalah penguatan identitas secara salah. Padahal penguatan identitas itu sangat penting. Penguatan identitas sangat positif. Contoh, dulu etnis Tionghoa dengan agama Konghucu belum diakui di Indonesia. Sekarang etnis Tionghoa bisa bernafas lega. Bahkan ada libur Imlek. Penguatan identitas seperti ini positif, tetapi menjadi negatif bila berlebihan dengan label agama, dengan label bela agama dan menganggap identitas lain sebagai saingan atau musuh. Ini bertentangan dengan etos budaya maritim yang memiliki spirit terbuka, egaliter, toleransi, dan semangat persatuan. Watak egaliter dan terbuka akan memperkuat toleransi. “Forum Komunikasi Tite Hena ini salah satu penguatan identitas masyarakat pendatang yang tinggal di Bali. Ini akan akan memperkuat solidaritas, toleransi di Bali,” ujarnya.

Penulis – Arnold Dhae|Editor – Christovao

Popular Articles