ATAMBUA, The East Indonesia – Hujan beberapa pekan terakhir menimbulkan berbagai bencana di Kabupaten Belu, wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL.
Salah satunya, akibat curah hujan yang sangat banyak tersebut, bagian badan jalan Sabuk Merah Perbatasan Negara RI-RDTL sektor Timur di Desa Duarato, Kecamatan Lamaknen menuju ke arah kecamatan Lamaknen Selatan mengalami longsoran.
Sialnya, akibat longsoran badan jalan itu, satu rumah warga di desa tersebut ikut hanyut terbawa.
Rumah itu milik seorang wanita, Yunita Soik yang tinggal bersama 3 anggota keluarganya.
Pantauan awak media, Selasa (08/03/2022), material longsor yang turun dari badan jalan Nasional Sabuk Merah Perbatasan Negara RI-RDTL menuju kecamatan Lamaknen Selatan sepanjang belasan meter. Akibat beban longsoran yang besar, rumah keluarga Yunita tak mampu menahan beratnya beban material itu. Sehingga rumah semi permanen berdinding bebak itu terpaksa rubuh ke tanah.
Selain itu, rumah keluarga Yunita juga berada pada kemiringan dan tak banyak pohon besar di seputaran area rumah. Apalagi pada jalan Nasional ke arah Lamaknen Selatan tersebut tidak ada penahan jalan.
Yunita Soik, saat diwawancarai di rumah sederhana ukuran 4×4 m berdinding seng bekas yang dibangun oleh suaminya mengatakan mereka berempat yang menempati rumah sederhana itu. Karena longsor telah menghancurkan rumah mereka yang sebelumnya berukuran 6×5 m.
“Sebenarnya rumah lama yang hanyut terbawa longsor itu baru ditinggali satu tahun lebih juga. Sebab kami sebelumnya tinggal di pemukiman lama yang juga longsor sehingga kami memilih pindah ke area yang lebih aman. Namun nyatanya kami kembali ditimpa musibah longsor”, tutur Yunita.
Dengan lirih Yunita menuturkan keluarganya tidak memiliki lahan lagi untuk berpindah, kecuali Balai jalan nasional membangun penahan jalan maupun drainase. Sehingga ketika musim penghujan dan terjadinya longsor rumah mereka tetap aman.
“Seharusnya tidak terjadi longsor ya, karena setahun lalu, kontraktor pelaksana jalan ini menggali drainase sekaligus penahan jalan. Tetapi sehabis digali, kontraktor pelaksana jalan ini tidak mengerjakan drainase ini melainkan menumpuknya kembali dan dampaknya rumah kami harus terbawa longsor”, ujar Yunita.
“Dari musibah ini, pemerintah kabupaten Belu belum memberikan bantuan apa-apa. Sama juga dengan Pemdes Duarato. Tetapi rumah ini baru difoto oleh pemerintah desa Duarato”, tutup Yunita.
Sementara itu, Kepala Desa Duarato Gregorius Mau Bere, yang diwawancarai terpisah mengatakan bantuan darurat terhadap korban longsor belum ada. Tetapi dalam rancangan APBDes, pihaknya telah merancang agar keluarga Yunita Soik mendapat bantuan rumah sesuai kemampuan APBDes Duarato.
Dirinya juga mengharapkan balai jalan nasional bersama rekanan segera memperbaiki jalan arah Lamaknen ke Lamaknen Selatan, agar rumah warga aman dari longsor. Selain itu, masyarakat di dua kecamatan tersebut terlindungi dari kecelakaan.
“Di desa Duarato sudah terdapat 6 longsoran di badan jalan Nasional dan semua titik longsor itu lubangnya dalam. Kalau masyarakat jatuh di lokasi longsoran pasti meninggal sehingga mohon diperhatikan,” pinta Gregorius.
Terkait kontur tanah di Duarato yang rawan longsor, maka pihaknya telah melakukan penghijauan menggunakan anakan pohon Mahoni dan jati putih dari batas desa Fulur hingga lokasi longsor yang dekat rumah warga. (Ronny)


