Sunday, January 11, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Dua Ribu Liter Minyak Goreng belum Masuk Bali

DENPASAR, The East Indonesia – Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali I Wayan Karya saat dikonfirmasi Senin (14/3/2022) mengatakan, hingga siang ini 2 ribu liter minyak goreng belum masuk ke Bali sebagaimana kesepakatan beberapa hari sebelum antara produksi atau pabrik dengan distributor. “Sampai sekarang belum ada terpantau stok minyak goreng dari Pangan Nusa yang akan masuk ke Bali sebanyak 2 ribu liter. Nanti saya akan cek terus. Mudah-mudah malam sudah datang ke Bali. Biasanya sekitar jam 21.00 WITA, atau pukul 22.00 WITA masuk Bali. Malam baru masuk, sebab berdasarkan pengalaman memang seperti itu. Nanti malam sekitar jam tersebut saya akan cek lagi apakah mereka masuk atau tidak. Nanti saya laporkan ke pusa, apakah mereka masuk ke Bali atau tidak malam ini,” ujarnya. Sementara ini belum ada informasi dan laporan. Ia percaya bahwa Pangan Nusa akan menepati janji untuk stok minyak goreng di Bali.

Menurutnya, hingga saat ini pasokan minya goreng di Bali masih relatif aman. Memang disana-sini masih terjadi kekurangan pasokan minyak goreng namun bisa teratasi. Ia mengaku, koordinasi dengan para distributor terus dilakukan dan informasi yang dikumpulkan dikatakan bahwa para distributor sudah bekerja maksimal untuk menyalurkan minyak goreng ke sub distributor dan pengecer.

Kekosongan yang terjadi di ritel modern karena mereka terikat dengan merk minyak goreng tertentu sehingga mereka tidak menjual merk lainnya. Akibatnya, sekali bongkar untuk dipajang langsung diborong habis oleh konsumen. Sehingga sepintas kelihatan jika pasokan minya goreng di ritel selalu kurang atau minyak goreng selalu langkah. Padahal minyak goreng kemasan berisi 2 liter tetap ada dipajang hanya saja cepat habis. Memang dari distributor ke toko modern atau ritel harus terdistribusi secara merata di Bali.

Sementara soal harga, pemerintah sudah menetapkan harga eceran tertinggi (HET). Namun harga tersebut tidak bisa dilakukan secara konsisten karena tidak ada distributor yang mau rugi. Biasannya mereka membebankan ongkos angkutan atau biaya distribusi. Perbedaanya tidak begitu mencolok dengan kisaran antara Rp 1000 sampai Rp 1500.

“Apalagi ada warga yang membeli kemasan minyak goreng di pasar kemudian dia jual lagi di rumahnya. Harganya tentu saja berbeda, tentu lebih mahal. Masing-masing mencari keuntungan. Kalau yang naik dari distributor tidak akan mahal. Paling hanya sekitar Rp 1000 atau Rp 1500. Namun yang dikuatirkan adalah rantai distribusi yang terlalu jauh, sudah pasti mahal,” ujarnya. HET di Bali tetap sama yakni Rp 11.500 perliter,” ujarnya.

Penulis|Arnold Dhae

Popular Articles