Tuesday, January 13, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Peringati HKN Ke-58, Bupati Dokter Agus Taolin Minta Fokus Pada 6 Pilar Transformasi Kesehatan

ATAMBUA, The East Indonesia – Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-58 ini jatuh pada tanggal 12 November 2022 lalu namun untuk kabupaten Belu sendiri perayaannya diundur.

HKN ke-58 tahun 2022 mengangkat tema, “Bangkit Indonesiaku, Sehat Negeriku”. Tema ini dipilih untuk menggambarkan bangkitnya semangat dan optimisme seluruh lapisan masyarakat Indonesia yang secara bersama bahu membahu dan bergotong royong dalam menghadapi situasi kesehatan dimasa pandemi covid-19 sehingga masyarakat Indonesia dapat kembali beraktivitas dan produktif agar Indonesia kembali bangkit dan kembali sehat.

Pemerintah Daerah Kabupaten Belu melakukan peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-58 tahun 2022 di GOR LA Bone Atambua, pada Jumat (18/11/2022).

Acara ini pun dibuka langsung oleh Bupati Belu, dokter Agustinus Taolin, SpPD-KGEH., FINASIM.

Hadir pula dalam peringatan HKN ke-58 tahun 2022 tingkat kabupaten Belu, Kepala Bank NTT Atambua, Pimpinan OPD Belu, Ketua dan Wakil TP PKK Belu, Ketua Dhamawanita Belu, para Camat, Lurah, Kepala Desa, Kepala Puskesmas, para Direktur Rumah Sakit, pihak BPJS Kesehatan Atambua dan utusan tenaga kesehatan se-Kabupaten Belu.

Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin, SpPD-KGEH., FINASIM

Dalam sambutannya Bupati Belu, dokter Agustinus Taolin mengucapkan apresiasi yang tinggi kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Belu bersama jajarannya serta seluruh tenaga kesehatan yang ada di Kabupaten Belu yang dengan setia selalu memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat kabupaten Belu.

“Terimakasih kepada seluruh insan kesehatan dan berbagai pihak yang selalu membantu pelayanan kesehatan bagi masyarakat,” pungkasnya.

Pada sambutannya tersebut, Bupati Belu, dr. Agustinus Taolin, SpPD-KGEH., FINASIM membacakan pesan dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi G. Sadikin terutama fokus terhadap 6 pilar transformasi kesehatan.

Dijelaskan bahwa adapun fokus 6 pillar transformasi kesehatan adalah transformasi layanan primer, transformasi layanan rujukan, transformasi sistem ketahanan kesehatan, transformasi sistem pembiayaan kesehatan, transformasi SDM kesehatan, dan transformasi teknologi kesehatan.

Pada Pilar 1, Kemenkes terus berupaya mengintegrasikan dan merevitalisasikan pelayanan kesehatan primer, termasuk standar jaringan, standar layanan, serta digitaliasi sistem pelaporan. Integrasi pelayanan kesehatan akan terlihat mulai dari pelayanan di Puskesmas hingga tingkat desa, serta akan melibatkan fasilitas pelayanan kesehatan swasta.

Transformasi pelayanan kesehatan primer harus mendapat perhatian khusus serta investasi kesehatan yang besar, dengan fokus pada upaya promotif dan preventif. Salah satu prioritasnya yaitu melalui penguatan sekitar 1,5 juta kader dan 300.000 Posyandu yang menjadi ujung tombak pemberian layanan kesehatan. Di sisi lain, kita peru terus membangun gerakan-gerakan masyarakat untuk mendorong perubahan perilaku masyarakat. Dukungan dan peran serta pemerintah daerah beserta seluruh elemen masyarakat dibutuhkan untuk mewujudkan pelayanan kesehatan dasar yang mudah diakses oleh seluruh masyarakat.

Pada Pilar 2, Transformasi layanan rujukan bertujuan untuk mendekatkan akses layanan kesehatan kepada masyarakat. Kementerian Kesehatan mengembangkan jejaring layanan rujukan untuk penanganan penyakit katastropik yang menjadi penyebab kematian tinggi dan beban pembiayaan besar, antara lain stroke, kanker, jantung, ginjal, serta kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Pada pilar ini, kita memperkuat sisi supply melalui peningkatan kapasitas infrastruktur dan kompetensi SOM dalam menyediakan layanan kesehatan, sehingga layanan rujukan tersedia dan dapat diakses di 34 provinai dan 514 kabupaten/kota.

Pada Pilar 3, transformasi sistem ketahanan kesehatan, percepatan ketahanan farmasi dan alat kesehatan terus dilakukan, agar produk obat, vaksin, dan alat kesehatan dapat diprodukal darn hulu ke hilir dan dimanfaatkan di dalam negeri, Saat Ini, Kementerian Kesehatan berkamitmen Rp 17,52 T untuk belanja produk dalam negeri, dan telah melakukan realisasi sejumlah Rp 9.1 T (51.9% dari nilai komitmen). Di samping ketersediaan produk farmasi dan alat kesehatan, pemerintah juga mendorong kesiapsiagaan menghadapi krisis kesehatan melalui tenaga cadangan kesehatan. Partisipasi tenaga kesehatan dan non-kesehatan sewaktu-waktu dapat diaktifkan ketika terjadi krisis. Akan dilakukan pendataan tenaga cadangan dan pelatihnan untuk dapat melengkapi keterampilan yang diperiukan saat terjadi krisis. Koordinasl dan mobilisasi tenaga cadangan di skala kabupaten/kota, provinsi, maupun nasional juga harus dapat dilakukan dengan cepat dan tepat.

Terkait Pilar 4, Kemenkes melakukan transformasi pembiayaan kesehatan untuk memaatikan pembiayaan yang cukup, adil, efektif, dan efisien. Pertama, mempercepat produksi Natronal Health Account (NHA) untuk kebijakan pembiayaan kesehatan yang lebih berbasis bukti. Kedua, menjaga kualitas layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui reviu tahunan tarif JKN. Ketiga, kendali mutu dan biaya yang berbasis bukti untuk pelayanan kesehatan yang lebih efektif dan efisien melalui peningkatan penerapan Penilaian Teknologi Kesehatan (Health Technology Assessment – HTA). Keempat, memperkuat sinerg! pembiayaan kesehatan antara pemeriniah pusat, daerah, swasta dan organisasl lainnya melalui Konsolidasi Pembiayaan Kesehatan

Pada Pilar 5, SDM Kesehatan bertransformasi dalam peningkatan jumiah, pemerataan, serta meningkatkan kualitas tenaga kesehatan, untuk memberikan pelayanan berkualitas hingoa pelosok. Target optimis yang akan dicapai yaitu angka ideal dokter 1 banding 1.000 populasi dan pemenuhan nakes di Puskesmas dan RSUD sesuai standar. Beberapa program ungguien tengah dilakukan, yaitu melalui implementasi Academic Health System, pemberian 10.000 +, beasiswa bagi dokter, spesialis, dan fellowship, serta peningkatan kualitas melalui pelatinan yang terintegrasi sesual kebutuhan pelayanan.

Pada Pilar 6, Teknologi Kesehatan di Indonesia terus bertransformas! menuju sistem kesehatan yang tangguh dan terintegras!. Salah satunya dengan meiakukan integrasi data rekam media pasien di fasyankes ke dalam satu platform Indonesia Health Services (IHS) yang dibert nama SATUSEHAT. Selain itu juga dilakukan inovaal bioteknologi, yakni Biomedical Genome-Based Science initiative (BGS-I), untuk menerapkan pengobatan yang lebih personal dan presial. Kementerian Kesehatan memulai dengan melakukan 10.000 sekuensing DNA, berbaais penyakit kanker, stroke, genetik, diabetes, dan wellness & beauty. indonesia membangun bank date dati genomik penduduk Indonesia yang akan terintegraai dengan data medisnya.

Implementasi keenam pilar tersebut diharapkan bisa mentransformasi sistem kesehatan Indonesia dan juga dunia, yakni sistem kesehatan yang tangguh terhadap krisis kesehatan, termasuk pandemi.

Karena itu, Bupati Belu membacakan sambutan Menteri juga menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada segenap insan kesehatan yang telah bahu membahu berjuang tanpa mengenal telah dalam melaksanakan pembangunan kesehatan Indonesia. Perjuangan kita masih panjang.

Menteri berharap semua insan kesehatan agar:

Pertama, Terus mendorong terbangunnya gerakan masyarakat hidup bersih & sehat, di antaranya melalui konsumsi makanan bergizi seimbang, melakukan aktfitas fisik setiap hari, dan mencuci tangan dengan sabun;

Kedua, Terus mendorong masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya secara rutin, baik pemeriksaan ibu hamil, pemantauan tumbuh kembang balita, imunisasi, pemenksaan penyakit-penyakit sesuai siklus hidup; dan

Ketiga, Terus mengembangkan diri dan organisasi dalam kompetensi dan memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat.

Menyambung dari itu, Bupati Belu, dokter Agustinus Taolin, SpPD-KGEH.,FINASIM berharap agar kedepannya masyarakat Indonesia khususnya kabupaten Belu dapat membangun bidang kesehatan secara lebih baik.

“Sesuai dengan tema ini serta himbauan dari 6 pilar yang disampaikan Menteri Kesehatan untuk kita kedepan masyarakat Indonesia lebih baik lagi untuk bidang kesehatan,” tuturnya.

Bupati Belu pun membeberkan target kabupaten Belu sendiri dalam pembangunan bidang kesehatan.

“Jadi kita target, angka stunting turun, Pandemi covid-19 diatasi dengan baik supaya tidak melonjak lagi, angka kematian ibu dan bayi menurun, Digitalisasi, perbaikan SDM, sarana prasarana di bidang kesehatan sistem rujukan, penyakit-penyakit katastropik bisa ditekan agar masyarakat Belu bisa lebih sehat,” pungkasnya Bupati yang juga adalah seorang dokter sub spesialis penyakit dalam Indonesia ini.

Untuk diketahui, pada kegiatan perayaan peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-58 ini, Pemerintah Daerah Kabupaten Belu merangkai beberapa acara fashion show, baksos, lomba kreatifitas dan kerjasama tim serta beberapa kegiatan lainnya.***(Ronny)

Popular Articles