Jatiluwih Festival V Tetap Konsisten Angkat Kearifan Lokal Bali

32

TABANAN, The East Indonesia – Bupati Tabanan Komang Sanjaya mengapresiasi pihak pengelola Desa Wisata Jatiluwih yang berkomitmen terus mengangkat kearifan lokal yang menjadi ciri khas masyarakatnya yakni pertanian dan persawahan. Dalam Jatiluwih Festival V Tahun 2024, seluruh konten Festival selalu mengangkat kearifan lokal Bali khusus Desa Wisata Jatiluwih dengan pertanian sebagai maskot utama. “Saya berharap agar ciri khas Jatiluwih jangan sampai hilang. Apa pun konteks festivalnya, harus terus angkat soal pertanian, padinya, teras sering, budaya dan seremonial tentang pertanian di Jatiluwih,” ujarnya.

Melalui festival ini, bupati berharap agar Desa Jatiluwih terus mempertahankan dan mampu menjaga kelestarian alam persawahannya dari derasnya pembangunan fisik yang dapat merusak ekosistem mata air dan alam persawahan di sekitarnya. “Saya mengapresiasi pihak pengelola yang mampu menyelenggarakan Jatiluwih Festival hingga tahun ke-5 dengan menampilkan budaya, tradisi dan kuliner tradisional. Saya bersyukur di tengah derasnya pembangunan fisik, Desa Jatiluwih mampu menjaga lestarinya alam persawahan yang menjadi ciri khas desa ini,” terang Bupati.

Beberapa pentas seni budaya juga terus digalakkan antara lain tarian Paksi Jatayu, yang dimaknai sebagai simbol kesetiaan dan kemakmuran. Ada juga sambutan dari Tarian Panyembrana dari ibu-ibu PKK di Desa Jatiluwih yang menjadi simbol konsistensi jaga tradisi pertanian. Beragam tradisi yang dimiliki Desa Jatiluwih patut dilestasikan generasi muda. Bahkan, kekayaan budaya dan alam terasering sawahnya yang indah sudah diakui UNESCO.
Ada juga tradisi subak dan tradisi gebuk lesung, tradisi nginang dan lainnya. Semuanya masih asri dilakukan di Desa Jatiluwih. “Bahkan rata-rata saya tanya ibu-ibu bisa menumbuk padi sampai 10 Kg per hari. Lewat Jatiluwih Festival masyarakat dapat menikmati berbagai macam menu, ada stand kuliner, daluman, jajan kuliner, beras merah, tipat cantok, dan lainnya,” ucapnya.

Baca juga :  Tata Pariwisata, Cok Ace Kumpulkan Stakeholder Pariwisata Di Bali

Seiring terkenalnya nama Desa Jatiluwih ke seluruh dunia dengan terasering sawah dan pengelolaan subak yang alami, banyak orang ingin datang melihat dari dekat Desa Jatiluwih. “Seiring waktu, banyak orang yang datang ke Jatiluwih, bahkan di waktu ramai bisa 400-500 orang per hari. Jatiluwih ini kelas dunia karena sudah heritage. Saya sudah petakan masalahnya adalah jalan, infrastruktur dan parkir. Di setiap DTW kita harus selesaikan masalah parkir ini,” urainya.

Manager Pengelola Desa Jatiluwih, John K. Purna mengatakan, Jatiluwih Festival ke-V tahun ini lebih melibatkan masyarakat lokal, baik anak muda, PKK, dan Lansia. “Kami melibatkan masyarakat lokal. Targetnya banyak kunjungan wisatawan datang ke Jatiluwih Festival. Kami tampilkan di pembukaan cara mencangkul, menanam padi di sawah dan mengolah padi menjadi beras. Ini menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat kami. Lewat tema ‘Swasthi Bhuana’, kita tingkatkan rasa syukur dan upaya membahagiakan bumi,” tuturnya.

Baca juga :  380 Rare Angon Meriahkan Lomba Layangan Virtual di Bali

Dengan diselenggarakannya Jatiluwih Festival yang melibatkan berbagai stakeholder pariwisata seperti asosiasi guide, travel agent, ASITA, PHRI, HPI, Bali Tourism Board (BTB) dan sebagainya, harapan kami adalah semakin meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Jatiluwih dan menggaungkan bahwa di Jatiluwih ada festival setiap tahunnya,” urainya.

Ia mengatakan, penyelenggaraan Jatiluwih Festival ke-V tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Tahun ini perayaan festival lebih melibatkan masyarakat desa setempat, diisi oleh tari-tarian, kegiatan di sawah seperti membajak, mencangkul, membersihkan lahan dan bercocok tanam. Bahkan, saat upacara bajak sawah ada beberapa turis asing yang ikut bajak. “Yang membedakan festival tahun ini hampir 95% kami hanya melibatkan masyarakat lokal dan sisanya kami mengunang band dari luar. Sekali lagi kami ingin memanfaatkan penduduk lokal untuk bergabung bersama-sama membangun Jatiluwih,” ujarnya.

Baca juga :  Pengguna Energi Bersih Makin Meluas di Industri Hotel Bali

John menambahkan Festival tahun ini mengambil tema Swasti Buana yang artinya membahagiakan bumi dan diperkirakan pada saat penutupan Jatiluwih Festival kunjungan akan meningkat karena ada hiburan menarik dan juga doorprizee yang persiapkan untuk para pengunjung.

Pengamat Ekonomi dan Pariwisata Bali, Trisno Nugroho menambahakan, saat ini kunjungan wisatawan ke DTW Jatiluwih meningkat. “Saya perhatikan jumlahnya kunjungan ke Jatiluwih dari bulan Januari hingga Juni 2024 ini meningkat. Kunjungan rata-rata saat ini 1200 pengunjung setiap harinya, walaupun kadang 900 kadang 1200 sampai 1300 ini meningkat dibandingkan dengan tahun lalu dan uniknya pengunjung Jatiluwih 80% Wisatawan asing,” ujarnya.(Arnold)

Facebook Comments

About Post Author